Gus Mus: Jangan Gunakan Kekerasan pada Ahmadiyah
24 April 2008 15:32:22
Ancaman kekerasan yang dilontarkan segelintir oknum tokoh ormas Islam terhadap Ahmadiyah membuat Gus Mus prihatin. Gus Mus meminta kepada semua pihak agar tidak menggunakan cara-cara kekerasan pada Ahmadiyah. Menurutnya, lebih baik menunjukkan jalan yang benar jika Ahmadiyah disebut menyimpang dari ajaran Islam.
Gus Mus menjelaskan, hal itulah yang dilakukan kalangan NU selama ini. "Kalau ada orang tersesat itu, orang NU pasti akan menunjukkan jalan yang benar, bukan justru menyalahkan atau menamparnya. Kalau pakai kekerasan itu bukan cara NU," katanya saat berbicara dalam acara ‘Khadijah Bersholawat’ di SMA Khadijah, Surabaya, Jawa Timur, belum lama ini.
Namun, Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Rembang, Jawa Tengah, itu memilih bersikap berbeda dengan keputusan Badan Koordinasi Pengawas Aliran Kepercayaan Masyarakat (Bakor Pakem) terkait Ahmadiyah. Menurutnya, masyarakat harus lebih bijaksana menyikapi hal itu.
"Saya tidak membela, tapi orang NU itu memang harus bersikap tawassuth (tidak memihak), tasamuh (toleran), dan tawazun (seimbang)," ucap Gus Mus.
Ia menceritakan, sikap moderat NU yang sudah ada sejak dulu dilihat pemimpin Jepang sebagai "harapan" untuk dunia.
"Para pemimpin Jepang melihat ada dua pola kepemimpinan yang ekstrim, yakni kepemimpinan George W. Bush dan kepemimpinan Osama Bin Laden yang sama-sama ekstrim dan mengancam masa depan dunia," tuturnya.
Namun, kata Gus Mus, harapan Jepang kepada NU itu harus disikapi dengan introspeksi, mengingat banyak kekerasan yang "memperalat" agama telah melanda Indonesia. (Diolah dari NUOnline)
KOMENTAR
25 April 2008 10:50:25 EDY RUSLYANTO (RUSLY) menulis:
Islam memang rahmatan lil alamin, mari kita coba untuk lebih islam dengan adanya toleransi, biar hati mengatakan Ahmadiyah tidak islam ( Karena tidak mengakui Rasullallah SAW, sebagai nabi), gus tolong saya berharap hanya gus yang bisa mengarahkan umat ke arah yang lebih islami.
28 April 2008 01:17:28 agus nasruddin (Lege) menulis:
Sikap beberapa kelompok Islam menanggapi Ahmadiyah, sebenarnya tidak terlalu mengejutkan. Jika ada kelompok yang mengaku sebagai pembela Islam merespon dengan sangar, ah...itu sudah biasa. Kita tidak terkejut meskipun kita juga tidak membiarkan.
Yang justru membuat saya terkejut adalah ketika petinggi Ahmadiyah lari ke markas PDIP mencari perlindungan. Terlepas ada tidaknya unsur politis di balik ini semua. Saya terkejut dan merasa tidak 'ngeh'. Kok larinya ke PDIP ya ? Kenapa tidak lari ke NU ? Bukankah NU adalah tempat berlindung paling 'adem' bagi siapa saja yang menganut faham yang 'nyleneh' ? Saya bertanya2, apa sekarang NU sudah tidak lagi seperti itu ? Apa NU yang sekarang ini sudah masuk dalam kategori 'sangar' ? Nuwun sewu lho Gus Mus. Saya agak kecewa dengan NU atas kejadian ini. Tapi saya menyalahkan - yang pertama - diri saya sendiri. Sebagai generasi muda NU, jangan2 saya gagal membangun citra diri sbg muslim yg 'sejuk' ? Yah, minimal di lingkungan sekitar saya sendiri. Lalu, kalau perwajahan NU secara nasional, kira2 tanggung jawab sinten nggih Gus ? Nuwun sewu lagi, seandainya ada 100 Gus Mus di NU, mungkin wajah NU bisa benar2 'sejuk' sampai ke akar2nya.
28 April 2008 17:38:41 Wahhib Putra Pamungkas (Waheb) menulis:
Waduh Gus, bahasa 'ngga membela' kayaknya masih terlalu kabur (ngga nyampe)... menurut saya akan lebih jelas mengatakan 'hanya membela haknya' tapi bukan membela ajaran mereka. Nuwun Sewu klo saya rada sembrono saya menta ampun beribu ampun.
29 April 2008 13:50:23 Fikri Sulthoni (Fikri) menulis:
Berat untuk mewujudkan "harapan" itu. Kalau tidak ada lagi umat Islam yang berfikir,'agar orang-orang tidak mengatakan sudah tidak ada lagi orang-orang yang memiliki rasa tasmuh pada umat Muhammad SAW'.
30 April 2008 14:03:22 Didin Riswanto (Didin) menulis:
nuwun sewu.
saya lebih melihat ahmadiyah sebagai sekelompok manusia yang membutuhkan perlindungan, terlepas dia sesat atau tidak sesat kalau sudah minta tolong hukumnya wajib kita tolong. dan kalau dia tersesat maka wajib kita memberikan jalan yang benar kepadanya sepanjang jalan yang kita berikan adalah jalan yang benar mereka seharusnya percaya dan mengikuti petunjuk. tapi kalau mereka tetap tidak percaya, yang paling penting adalah sudah ada upaya membenarkan jalan mereka. ajakan saya mari ber islam secara total dan dalam ajaran islam hanya ada kepasrahan dan keikhlasan sebagai jalan tercepat kepada Allah. saya berdoa semoga mereka yang sedang berada di kegelapan dalam kesesatan mereka segera dapat menemukan kembali jalan terang nan lapang.
mohon barokah ilmu jika saya salah.
salam sungkem kagem eyang gusmus
(pojok kampus IAIN)
1 Mei 2008 22:25:21 DODY ISKANDAR DINATA (DODY) menulis:
Yang di katakan mas Agus Nasruddin betul juga. Memang dampak syahwat politik sebagaian "kecil" WNU ( Warga Nahdlatul Ulama ) sangat merubah iklim dari sejuk jadi sedikit gerah. wilayah politis praktis membuat pakem NU mudah dinego dengan berbagai " sihir nama besar ". Sehingga mau tak mau WNU politisi demi eksistensi di panggung politik berkompromi dengan konsep2 "sumuk ". AKhirnya jadi lebih mengedepankan proses yang berbau formal kenegaraan ( sifat legalitas dan eksekutor ) daripada mengedepankan "kejangkepan" ilmu seorang kyai yang mencakup ilmu kemanusiaan, dan adab kepada Tuhan. konsep rahmatan lil alamien yang mulai digeletakkan...
Mas agus, lama gak ketemu, mampir ke http://padhangjingglang.blogspot.com yo...atau ke Malang...
2 Mei 2008 17:59:27 siti mariyatun (merie) menulis:
kekerasan bukan cara NU saja, Gus. tetapi juga bukan caranya orang Islam ya, Gus. dan bukan juga cara manusia untuk menyelesaikan masalah. Ahmadiyah bukan sebuah masalah. apalagi masalah yang harus yang diselesaikan dengan cara kekerasan
5 Mei 2008 10:53:06 muhammad taufiqurrahman (opik) menulis:
kemana perginya budaya diskusi yang bisa menyelesaikan segala masalah tanpa menimbulkan masalah? ko` yang ada justru saat ini bangsa kita (wa bil khusus orang islam) lebih suka bertindak anarkis? bukankah ini tidak malah membahagiakan musuh-musuh islam yang selama ini menuding islam sebagai agama pedang?
kalau masih bisa menggunakan munadloroh kenapa milih muqotalah? tunjukkan islam sebagai agama yang damai dan rahmatan lil alamin! sanes ngeten to Gus
Rabu, 07 Mei 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar