Makna di Balik Coretan Tangan
CHIC
Kamis, 24 April 2008 | 14:53 WIB
Pernah iseng membuat corat-coret di atas kertas yang membentuk sebuah gambar? Itu bukan semata coretan enggak meaning, lho. Kepribadian dan perasaan kita yang tersembunyi, bisa terungkap dari situ. Ingin tahu makna coretan Anda?
Corat-coret sambil mengerjakan sesuatu yang lain, misalnya mengikuti rapat atau menelepon memang sering kita lakukan tanpa sadar. Gambar corat-coret ini sebenarnya merupakan ungkapan bawah sadar kita. Sama sepreti mimpi, corat-coret ini menggunakan bahasa gambar dan bisa kita cari maknanya. Lalu, apa ya artinya?
GAMBAR BENTUK
PANAH
Menunjukkan Anda orang yang ambisius dan agresif. Tanda panah ke kiri berarti senang mengenang masa lalu. Tanda panah ke kanan berarti siap untuk menyongsong masa depan. Tanda panah ke suatu objek berarti marah atau penasaran dengan objek tersebut.
LINGKARAN
Gambar ini sering dikaitkan dengan keramahan, senang bicara dan senang berteman. Artinya Anda fleksibel, mudah beradaptasi dan menyesuaikan diri. Anda juga memiliki iman yang kuat sehingga berjiwa optimis dan pantang menyerah.
BENTUK GEOMETRIS
Gambar segitiga, segi empat, persegi panjang dan formasi pola lain menunjukkan pikiran yang logis. Gambar ini juga menandakan pikiran yang teratur, proses pemikiran yang jernih dan ketrampilan dalam membuat perencanaan efisiensi dan tujuan. Meski orang menilai Anda kolot, Anda mampu menyelesaikan pekerjaan dalam situasi kritis sekalipun.
BENANG KUSUT
Lingkaran kusut yang besar melambangkan keinginan akan gaya hidup bebas yang menggelinding begitu saja. Sementara lingkaran kusut yang kecil melambangkan perasaan marah yang terpendam.
GAMBAR ABSTRAK
Gambar ini sering melambangkan ketegangan, kesulitan dan gangguan dalam konsentrasi.
KOTAK
Gambar ini memang lebih banyak digambar kaum lelaki. Kotak yang ditumpuk menunjukkan pemikiran yang metodis dan konstruktif. Kotak tertutup menandakan Anda orang yang menghargai privasi. Sementara kotak terbuka mencerminkan harapan untuk menyambut seseorang atau sebaliknya keinginan lari dari situasi yang menekan.
GAMBAR BENDA HIDUP
BINATANG
Mencerminkan bagaimana memandang diri sendiri. Jika menggambar hewan peliharaan, kucing misalnya, berarti Anda memiliki pribadi yang ramah dan sensitif. Gambar burung, artinya Anda memiliki daya imajinasi yang tinggi, penuh pertimbangan, cinta kasih, dan menyukai kebebasan. Jika Anda menggambar hewan kecil, ini mengindikasikan perasaan takut yang tersembunyi. Juga menggambarkan lemah, pasif, kurang percaya diri dan introvert. Sedangkan gambar hewan liar mencerminkan agresivitas dan ketegasan. Gambar hewan yang suka bersenang-senang, misalnya anjing menunjukkan Anda orang yang senang bermain. Gambar hewan berjalan pelan, misalnya kura-kurang menunjukkan kpribadian yang senang merenung.
BUNGA
Melambangkan sisi feminin dan keinginan melihat pertumbuhan, alam dan reproduksi. Gambar bunga juga menunjukkan keinginan berkembang dan menghasilkan sesuatu dalam hidup. Bunga dalam rangkaian bisa menggambarkan rasa kekeluargaan dan kebersamaan. Sementara gambar bunga dan tumbuhan menunjukkan Anda orang yang sensitif, manusiawi, hangat dan terbuka.
POHON
Gambar ini melambangkan ego dan ambisi. Jika pohon itu memiliki daun yang lebat dan buah, ini menunjukkan Anda orang yang mendambakan cinta, seks dan anak. Pohon tanpa daun dan buah, dengan daun terkulai menunjukkan depresi dan kurang semangat juang. Lalu, kalau pohon digambar dengan akar, menunjukkan orang yang mementingkan asal-usul.
HATI
Ini sering digambar orang yang sedang jatuh cinta. Hati melambangkan pikiran orang yang menggambarnya dipenuhi cinta dan sentimentil.
WAJAH CANTIK
Menggambarkan rasa kasih sayang kepada orang lain. Orang yang senang menggambar wajah cantik melihat hal-hal positif dalam diri seseorang, situasi, optimistik, manusiawi, bersifat baik, sensitif terhadap sesama. Ia juga mampu menunjukkan empati, ramah dan senang bergaul.
WAJAH JELEK
Artinya Anda penuh curiga, tidak suka dan tidak percaya pada orang lain. Anda memiliki jiwa pemberontak, kurang percaya diri, senang melihat hal-hal buruk dalam diri setiap orang dan situasi. Anda juga defensif, cenderung mengubah fakta karena pandangan Anda yang 'gelap' dan sempit.
Senin, 28 April 2008
Sebelum kubalut badanku dengan selimut
sebelum kututup ke dua belah mataku
ku berpesan pada ibu:Jika pagi menyambut malam
jangan bangunkan anakmu, Ibu!
Seperti biasa
ibu akan selalu bertanya: kenapa?
Ah, Ibu!
kau selalu menganggapku masih kecil
Tetapi, baiklah!
akan kukatakan padamu, Ibu
Ketika pagi menatap dinding kamarku
akan kubuka jendela itu
lalu cahaya hangat menyinari seluruh isi kamarku
mengganti udara pengap semalam
Di depan jendela
kumenatap melati-melati putih
yang mekar di taman bunga
bunga yang setiap saat berdo'a
agar menjadi mawar merah
mustahil kan, Ibu?
Lewat jendela itu pula
seekor merpati datang mengejutku
lalu dada ini akan bergetar
mengingatku kalau aku lupa gosok gigi
saat ke pesta semalam
Setiap hari merpati itu
mengantar sehelai foto
dan secarik kertas yang sama
Lalu foto-foto itu mengkopi diri
menempel di setiap sudut kamarku
yang pandangannya menembusi dadaku
Sedangkan kertas itu
berubah jadi kapal terbang
yang mengikuti setiap langkah kakiku
Maka begitulah, Ibu!
biarkan aku tertidur lena
agar kisah-kisah itu
tidak memenuhi diari anakmu
Diposting oleh badruttamam di 19:04 0 komentar
Aku tak berhak melafazkan bait itu
karena akulah penyebab aliran darah itu
Nak kuberlari membeli obat merah yang mujarab
untukmu di rumah sakita
yang kononnya bisa menyelamatkan nyawa
tapi, malah melayangkan nyawa
Kukutuk pisau di tanganku yang tidak sadar melukaimu
Kukutuk dompetku yang kosong itu
yang tidak bisa membelikan obat merah yang mahal untukmu
Kukutuk kenangan yang membawaku
pada kenangan lukamu
Kukutuk penamu yang menjadikanku tokoh
dalam kisah lukamu
Ah!
Alangkah indahnya jika aku salah satu
pemeran dalam buku cerita caintamu
yang ingin terbit itu
Kau duduk di bangku dipan di luar pintu
sambil melempar senyum pada orang-orang
yang berlalu di depan rumahmu
sesekali kau bercanda pada mereka yang
sudi menyapamu
dan tak lupa kau mengucap kata: Aku baik-baik saja
saat kau tahu aku mengintipmu di belakang pintu
Itukah kau?
kau pandai membalut luka di lenganmu
balutan dari kain kaos yang mudah menyerap darah
obat merah dari toko emperan yang katanya cepat
menghentikan darah
Di balik senyuman gurauanmu
di balik kain kaos itu
kumelihat lukamu masih memerah
Barangkali!
Ya, Tuhan!
Aku menangis karena terharu
Sudikah kau berhenti menyapu obat merah yang murah itu?
Ah!
sebelum kututup ke dua belah mataku
ku berpesan pada ibu:Jika pagi menyambut malam
jangan bangunkan anakmu, Ibu!
Seperti biasa
ibu akan selalu bertanya: kenapa?
Ah, Ibu!
kau selalu menganggapku masih kecil
Tetapi, baiklah!
akan kukatakan padamu, Ibu
Ketika pagi menatap dinding kamarku
akan kubuka jendela itu
lalu cahaya hangat menyinari seluruh isi kamarku
mengganti udara pengap semalam
Di depan jendela
kumenatap melati-melati putih
yang mekar di taman bunga
bunga yang setiap saat berdo'a
agar menjadi mawar merah
mustahil kan, Ibu?
Lewat jendela itu pula
seekor merpati datang mengejutku
lalu dada ini akan bergetar
mengingatku kalau aku lupa gosok gigi
saat ke pesta semalam
Setiap hari merpati itu
mengantar sehelai foto
dan secarik kertas yang sama
Lalu foto-foto itu mengkopi diri
menempel di setiap sudut kamarku
yang pandangannya menembusi dadaku
Sedangkan kertas itu
berubah jadi kapal terbang
yang mengikuti setiap langkah kakiku
Maka begitulah, Ibu!
biarkan aku tertidur lena
agar kisah-kisah itu
tidak memenuhi diari anakmu
Diposting oleh badruttamam di 19:04 0 komentar
Aku tak berhak melafazkan bait itu
karena akulah penyebab aliran darah itu
Nak kuberlari membeli obat merah yang mujarab
untukmu di rumah sakita
yang kononnya bisa menyelamatkan nyawa
tapi, malah melayangkan nyawa
Kukutuk pisau di tanganku yang tidak sadar melukaimu
Kukutuk dompetku yang kosong itu
yang tidak bisa membelikan obat merah yang mahal untukmu
Kukutuk kenangan yang membawaku
pada kenangan lukamu
Kukutuk penamu yang menjadikanku tokoh
dalam kisah lukamu
Ah!
Alangkah indahnya jika aku salah satu
pemeran dalam buku cerita caintamu
yang ingin terbit itu
Kau duduk di bangku dipan di luar pintu
sambil melempar senyum pada orang-orang
yang berlalu di depan rumahmu
sesekali kau bercanda pada mereka yang
sudi menyapamu
dan tak lupa kau mengucap kata: Aku baik-baik saja
saat kau tahu aku mengintipmu di belakang pintu
Itukah kau?
kau pandai membalut luka di lenganmu
balutan dari kain kaos yang mudah menyerap darah
obat merah dari toko emperan yang katanya cepat
menghentikan darah
Di balik senyuman gurauanmu
di balik kain kaos itu
kumelihat lukamu masih memerah
Barangkali!
Ya, Tuhan!
Aku menangis karena terharu
Sudikah kau berhenti menyapu obat merah yang murah itu?
Ah!
RTICLES & TIPS
Teks Foto dalam Foto Jurnalistik
Oleh: Eddy Hasby
Foto jurnalistik merupakan salah satu produk jurnalistik yang dihasilkan oleh wartawan selain tulisan yang berbau berita (straight news/ hard news, berita bertafsir, berita berkedalaman/deep reports) maupun non berita (artikel, feature, tajuk rencana, pojok, karikatur dan surat pembaca). Dan sebagai produk dalam pemberitaan, tentunya foto jurnalistik memiliki peran penting dalam media cetak maupun cyber media (internet). Jadi karya foto jurnalistik sudah mendapat pengakuan sebagai karya jurnalistik dalam bentuk visual untuk menyampaikan informasi kepada masyarakat.
Ada beberapa pengertian mengenai foto jurnalistik sebagai ilmu maupun cabang dari jurnalistik itu sendiri.
Menurut Oscar Motuloh dalam makalahnya “Suatu Pendekatan Visual Dengan Suara Hati”, foto jurnalistik adalah suatu medium sajian untuk menyampaikan beragam bukti visual atas suatu peristiwa pada masyarakat seluas-luasnya, bahkan hingga kerak di balik peristiwa tersebut, tentu dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Melihat foto jurnalistik sebagai suatu kajian artinya memasuki matra yang memiliki tradisi kuat tetang proses “sesuatu” yang dikomunikasikan – dalam hal ini yang bernilai berita – kepada orang lain atau khalayak lain dalam masyarakat.
Wilson Hick redaktur senior majalah ‘Life’ (1937-1950) dalam buku World and Pictures (new York, Harper and Brothers, Arno Press 1952, 1972), foto jurnalistik adalah media komunikasi verbal dan visual yang hadir bersamaan.
Henri Cartier-Bresson, salah satu pendiri agen foto terkemuka “Magnum” yuang terkenal dengan teori ‘Decisive Moment’ -- menjabarkan, “foto jurnalistik adalah berkisah dengan sebuah gambar, melaporkannya dengan sebuah kamera, merekamnya dalam waktu, yang seluruhnya berlangsung seketika saat suatu citra tersembul mengungkap sebuah cerita.”
Dari ulasan di atas dapat disimpulkan bahwa foto jurnalistik merupakan kombinasi antara bentuk visual (foto) dengan kata-kata (yang memngungkapkan sebuah cerita dari sebuah peristiwa dalam bentuk kerangka 5W+1H) dan kemudian disebarluaskan/dipublikasikan kepada masyarakat. Sehingga foto jurnalistik menjadi sebuah berita ataupun informasi yang dibutuhkan masyarakat, baik local, regional, nasional maupun pada tingkat internasional.
Suatu foto/gambar sama nilainya dengan seribu kata.
Akan tetapi, hal ini baru benar jika disertai dengan teks keterangan foto yang baik.
Judul dan keterangan foto termasuk paling banyak dibaca pembaca koran. Dari keseluruhan berita yang dimuat, hanya judul berita dan berita utama yang mengungguli judul dan keterangan foto. Karena itu penulisan judul dan keterangan foto harus mengikuti kaidah-kaidah seperti: akurat, jelas, lengkap, dan cara penulisan yang baik. Seperti juga penyajian berita, judul atau keterangan foto harus mudah dibaca dan bersifat informatif.
Karena itu perlu adanya pemahaman untuk lebih serius dalam membuat keterangan gambar.
Sebuah foto jurnalistik yang baik tidak hanya sebatas pembahasan visual atau foto belaka, teks foto yang kuat berdasarkan fakta dan data akan memberikan nilai lebih secara lengkap sebuah informasi yang akan diberikan kepada pembaca.
Foto jurnalistik terdiri dari visual (foto) berkoloborasi dengan teks yang terdiri dari Headline (judul foto), Caption (teks yang menerangkan isi foto berkaidah 5 W + 1 H), Byline (pemotret) dan Credit (pemegang hak siar atau penerbitan yang menyiarkan foto jurnalistik tersebut). Elemen penting ini terlihat pada foto-foto jurnalistik di media cetak, yang merupakan dasar dari pemaknaan foto jurnalistik secara umum.
Contoh foto yang sudah dilengkapi metadata
Lebih dari itu foto jurnalistik saat ini terutama berkiblat pada digital photojournalism sudah wajib hukumnya untuk mengisi metadata IPTC dan EXIF foto agar dengan mudah meintragrasi dengan sistem online maupun workflow foto digital yang sudah menjadi kesepakatan antara produsen kamera, pengembang software foto digital, wartawan foto, agensi foto dan dunia arsip foto di dunia dengan dikeluarkannya Photo Metadata White Paper 2007 - Document Revision 11 - (www.phmdc.org) di Malta. Pembahasan mengenal metadata foto akan dijelaskan pada kesempatan lainnya dalam manifesto metadata foto jurnalistik.
Pengertian dari elemen dasar foto jurnalistik yang terpapar diatas:
- Headline
Suatu judul pendek di atas kata-kata yang menerangkan isi foto. Judul foto sebaiknya tidak lebih dari tiga kata. Di dalam flow metadata foto, kalimat yang terlalu panjang dapat menyebabkan, tidak terbacanya kalimat tersebut dan lebih para membuat sistem menjadi error.
- Caption
Kalimat atau kata-kata yang menjelaskan isi atau keterangan yang ada di dalam foto tersebut berkaidah 5 W + 1 H. Tidak semua elemen di dalam visual foto dapat menjelaskan secara informatif, seperti lokasi, kapan foto dibuat, siapa di dalam foto tersebut. Maka penjelasan secara rinci dan detil, ditulis dalam keterangan foto.
- Byline
Ini berkaitan dengan copyright, hak cipta atau pencipta/ pembuat dari foto tersebut. Maka di dalam sebuah media cetak terlihat atau terbaca di bawa foto, Kompas/ Agus Susanto atau Adri Irianto (Tempo).
Nama-nama wartawan foto atau pencipta wajib untuk dituliskan sebagai suatu penghargaan kepada penciptanya. Namun sering juga permintaan dari pencipta untuk tidak disebut atau ditulis untuk melindungi pencipta.
- Credit
Pemegang hak siar atau penerbitan yang menyiarkan foto jurnalistik tersebut. Hak siar merupakan lembaga yang bertanggungjawab untuk menyiarkan foto berita tersebut ke publik.
Aturan semacam ini masih sering rancu dan sering disalah artikan. Aturan di dalam setiap media atau kebijakan untuk tidak menulis credit tergantung pada media itu sendiri. Ada yang tidak menuliskannya dengan kebijakan foto tersebut karya atau pemilik foto bukan staf dari media tersebut. Namun foto-foto yang berasal dari sebuah sumber berita baik dari online, agensi foto, majalah, foto-foto pemberian secara gratis dan nara sumber lainnya, secara etika sebaiknya memang harus ditulis lengkap.
Elemen keterangan foto terpapar di bawah ini:
Rezeki Poster Presiden (headline)
Tarbini (66) –who-, pedagang poster presiden RI dan pahlawan, sedang membersihkan poster dagangannya yang dijual Rp 15.000 hingga Rp 25.000 –what- Jalan Percetakan Negara, Jakarta Pusat, -where - Rabu (6/6) –when-. Pria asal Garut ini telah memperdagangkan poster sejak 40 tahun lalu saat Bung Karno masih menjabat. Menurut ayah tujuh anak dan kakek dari dua cucu ini, pembeli poster Bung Karno masih mendominasi hingga saat ini –why-. (caption)
Kompas/Riza Fathoni (RZF) (credit/byline)
Tidak setiap foto ada judulnya. Foto-foto bersifat ilustrasi untuk mendukung atau memperkuat nilai sebuah tulisan/ artikel tidak membutuhkan headline atau judul foto, juga foto-foto yang bersifat portraits (headshot) hanya ditulis nama tokoh.
Contoh text editor untuk pengisian metadata foto (IPTC)
Penulisan keterangan foto harus memperhatikan:
1. Kebiasaan Pembaca
Ketika menulis keterangan foto dengan atau tanpa judul, sangat baik bila dibuat dengan memahami karakter pembaca:
Pertama, saat pembaca melihat suatu foto maka pikirannya menangkap semua atau sebagian besar informasi visual (gambar) yang ditampilkan. Namun, sering juga pembaca hanya melihat sepintas, sehingga ada hal-hal kecil terlewatkan.
Kedua, begitu melihat foto yang menarik perhatiannya, umumnya pembaca melihat ke bawah foto untuk mencari informasi yang menerangkan foto itu. ltu sebabnya judul foto dan keterangan foto harus berkualitas.
Ketiga, biasanya setelah mencerna informasi dari judul dan keterangan foto. pembaca kembali melihat foto. Jadi teks yang dibuat harus memperkaya apa yang sudah ditampilkan visual (gambar) dan menjelaskan hal-hal yang perlu dijelaskan.
2. Kebutuhan Informasi
Kebutuhan informasi dari foto bisa berbeda-beda. Umumnya pembaca ingin tahu tentang:
* Siapakah dia? (Pada banyak kasus perlu mengidentifikasi orang dari kiri ke kanan, kecuali aksi pada foto itu memerlukan keterangan lain)
* Mengapa foto itu dimuat yang dimuat?
* Apa yang tengah terjadi?
* Kapan dan di mana terjadinya?
* Mengapa tokoh/subyek dalam foto teriihat demikian?
* Bagaimana terjadinya?
Penting: teks keterangan foto harus menjelaskan apa yang tampak di foto (gambar). sehingga pembaca puas dan memahami maksud foto itu. Mereka tidak ingin (dan sebaiknya tidak) mendapat keterangan lagi atas apa yang sudah tampak jelas dalam foto. Keterangan foto sebaiknya memberi penjelasan tambahan yang tidak tampak dalam foto. Sebagai contoh, suatu foto menggambarkan penjaga gawang yang melompat untuk menangkap bola, tetapi yang tidak kelihatan adalah bagaimana hasilnya. Teks foto harus bisa menjelaskannya.
3. Saran dan syarat:
* Ringkas
* Padat
* Tidak bertele-tele.
Keterangan foto harus ringkas, padat, tetapi tidak seperti telegram. Tidak seperti judul berita yang menggunakan kata sandang dan penghubung, keterangan foto sebaiknya seperti alinea dalam berita. Keterangan foto harus jelas dan langsung ke tujuannya.
Hindari penulis bertele-tele. Jangan mengulang hal-hal yang sudah jelas dalam foto dengan menggunakan ungkapan: seperti yang terlihat, tampak dalam gambar di atas.
Jangan sok tahu
Penulis teks keterangan foto sebaiknya tidak mengasumsikan apa yang sedang dipikirkan seseorang dalam foto itu atau mencoba menginterpretasikan perasaan dari ekspresinya. Sebaiknya berikan saja fakta-fakta dan serahkan kepada pembaca untuk memutuskan sendiri situasi yang ia lihat.
Hindari yang diketahui, jelaskan yang tidak diketahui. Penulis teks keterangan foto harus menghindari penggambaran foto seperti cantik, dramatik, mengerikan, atau mendiskripsikan kejadian yang seharusnya muncul dalam foto tetapi tidak ada. jika kejadian itu tidak terbukti di dalam foto, apa yang Anda ceritakan ke pembaca tetap saja tidak terjadi.
Namun demikian, teks keterangan foto sebaiknya tetap menjelaskan kondisi bagaimana foto itu dibuat, terutama bila ada sesuatu yang tidak biasa menurut penglihatan manusia, adanya efek khusus, misalnya menggunakan inset atau memasang rangkaian foto.
Gambarkan yang terjadi
Penulis teks foto harus yakin bahwa kata-kata yang digunakannya menggambarkan apa yang ada di foto dengan tepat. Bila foto menunjukkan dua orang atau lebih, penulis teks foto harus menghitung dan mengindentifikasi orang tampak dalam foto, kemudian mencocokkan jumlah, jenis kelamin, dan identitas orang tersebut dengan teks keterangan yang dibuat. Perhatian khusus perlu terutama agar orang yang sudah dipotong gambarnya (cropped) dari foto asli tidak lagi disertakan dalam keterangan foto.
Selalu, selalu, dan selalu cek ejaan. Penulis teks foto harus mengecek ejaan nama-nama orang di dalam foto, apalagi bila foto itu berkait dengan suatu tulisan, agar tidak terjadi perbedaan penulisan.
"Wild art"
Foto yang berdiri sendiri dan tidak disertai berita disebut "wild art". Karena itu, teks keterangan foto "wild art" harus menyediakan informasi dasar seperti tulisan atau berita. Standar 5W+1H (who, what, when, where and why) baik untuk menjadi pedoman dalam menulis teks keterangan foto. Bila Anda tidak memiliki semua informasi yang dibutuhkan, angkat telepon dan carilah informasi pelengkapnya. Jangan mencoba menulis teks foto tanpa fakta-fakta yang dibutuhkan. Kadang "wild art" dipasang di halaman depan untuk "menggoda" pembaca agar mau membaca cerita di halaman dalam. Akan tetapi, tidak sama seperti televisi, jangan menggoda pembaca melalui teks foto. Berikan penjelasan selengkapnya, berikan kesempatan untuk bisa masuk lebih dalam dengan keterangan yang lebih detail.
Foto ilustrasi
Jika foto menyertai suatu cerita, teks keterangan foto yang panjang umumnya tidak diperlukan. Kadang-kadang cukup satu baris keterangan tentang orang atau situasi yang tampak dalam gambar, sekadar untuk menjelaskan kaitannya dengan tulisan/berita. Ingat, kebanyakan pembaca teks keterangan foto belum membaca berita terkait.
Sebagian dari mereka bahkan tidak membaca beritanya, hanya teks keterangan foto dan judul berita. Jadi teks keterangan foto harus jelas, langsung ke sasaran, dan seimbang antara memberikan cukup informasi kepada pembaca agar memahami foto itu dan konteksnya dengan format yang ringkas dan padat.
Makin pendek makin baik. Penulisan teks keterangan foto sering memicu godaan untuk menggunakan kalimat-kalimat panjang. Hindarilah.
4. Unsur Waktu
Kebanyakan surat kabar menggunakan gaya penulisan teks keterangan foto yang menggunakan kalimat dengan waktu sekarang (present tense) dan rangkaian kalimat berikutnya dalam bentuk lampau (past tense). Alasannya, kalimat pertama menceritakan kepada pembaca apa yang terjadi dalam foto.
Selalu sertakanlah unsur waktu untuk menginformasikan kepada pembaca kapan peristiwa dalam foto tersebut terjadi.
(Eddy Hasby)
Rangkuman dari berbagai sumber
- Diklat Kompas
- Oscar Motuloh
- Photojournalism:The Professional Approach by Kenneth Kobre
- Photojournalism: The Visual Approach by Frank P. Hoy
- iptc.org
- exif.org
comment 4 | Rating
Komentar:
OSIS SMP Negeri 76 pada tanggal 19 April 2008 17:13:57 WIB
Hi,kompas trims bgt yach atas foto jurnalistiknya telah bantu w dlm tugas skul yang byk bgt .Adain artikel ttg SMPN 76 donk.Kira2bagaimana sich caranya klo mau masukin artikel.thank you yach,semoga saran w diterima.
noel pada tanggal 17 April 2008 18:07:32 WIB
wah keren kompas nich.....gue akhirnya bisa dapat ilmu gratis ttg foto jurnalistik disini cz gue kan kulna jurusan jurnalistik!!! oia minta tips ttg cara ngambil foto spot news dunk...,.,.,., thx
stevanus pada tanggal 11 April 2008 08:59:24 WIB
Bagus artikelnya dan nambah wawasan.. Th
Teks Foto dalam Foto Jurnalistik
Oleh: Eddy Hasby
Foto jurnalistik merupakan salah satu produk jurnalistik yang dihasilkan oleh wartawan selain tulisan yang berbau berita (straight news/ hard news, berita bertafsir, berita berkedalaman/deep reports) maupun non berita (artikel, feature, tajuk rencana, pojok, karikatur dan surat pembaca). Dan sebagai produk dalam pemberitaan, tentunya foto jurnalistik memiliki peran penting dalam media cetak maupun cyber media (internet). Jadi karya foto jurnalistik sudah mendapat pengakuan sebagai karya jurnalistik dalam bentuk visual untuk menyampaikan informasi kepada masyarakat.
Ada beberapa pengertian mengenai foto jurnalistik sebagai ilmu maupun cabang dari jurnalistik itu sendiri.
Menurut Oscar Motuloh dalam makalahnya “Suatu Pendekatan Visual Dengan Suara Hati”, foto jurnalistik adalah suatu medium sajian untuk menyampaikan beragam bukti visual atas suatu peristiwa pada masyarakat seluas-luasnya, bahkan hingga kerak di balik peristiwa tersebut, tentu dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Melihat foto jurnalistik sebagai suatu kajian artinya memasuki matra yang memiliki tradisi kuat tetang proses “sesuatu” yang dikomunikasikan – dalam hal ini yang bernilai berita – kepada orang lain atau khalayak lain dalam masyarakat.
Wilson Hick redaktur senior majalah ‘Life’ (1937-1950) dalam buku World and Pictures (new York, Harper and Brothers, Arno Press 1952, 1972), foto jurnalistik adalah media komunikasi verbal dan visual yang hadir bersamaan.
Henri Cartier-Bresson, salah satu pendiri agen foto terkemuka “Magnum” yuang terkenal dengan teori ‘Decisive Moment’ -- menjabarkan, “foto jurnalistik adalah berkisah dengan sebuah gambar, melaporkannya dengan sebuah kamera, merekamnya dalam waktu, yang seluruhnya berlangsung seketika saat suatu citra tersembul mengungkap sebuah cerita.”
Dari ulasan di atas dapat disimpulkan bahwa foto jurnalistik merupakan kombinasi antara bentuk visual (foto) dengan kata-kata (yang memngungkapkan sebuah cerita dari sebuah peristiwa dalam bentuk kerangka 5W+1H) dan kemudian disebarluaskan/dipublikasikan kepada masyarakat. Sehingga foto jurnalistik menjadi sebuah berita ataupun informasi yang dibutuhkan masyarakat, baik local, regional, nasional maupun pada tingkat internasional.
Suatu foto/gambar sama nilainya dengan seribu kata.
Akan tetapi, hal ini baru benar jika disertai dengan teks keterangan foto yang baik.
Judul dan keterangan foto termasuk paling banyak dibaca pembaca koran. Dari keseluruhan berita yang dimuat, hanya judul berita dan berita utama yang mengungguli judul dan keterangan foto. Karena itu penulisan judul dan keterangan foto harus mengikuti kaidah-kaidah seperti: akurat, jelas, lengkap, dan cara penulisan yang baik. Seperti juga penyajian berita, judul atau keterangan foto harus mudah dibaca dan bersifat informatif.
Karena itu perlu adanya pemahaman untuk lebih serius dalam membuat keterangan gambar.
Sebuah foto jurnalistik yang baik tidak hanya sebatas pembahasan visual atau foto belaka, teks foto yang kuat berdasarkan fakta dan data akan memberikan nilai lebih secara lengkap sebuah informasi yang akan diberikan kepada pembaca.
Foto jurnalistik terdiri dari visual (foto) berkoloborasi dengan teks yang terdiri dari Headline (judul foto), Caption (teks yang menerangkan isi foto berkaidah 5 W + 1 H), Byline (pemotret) dan Credit (pemegang hak siar atau penerbitan yang menyiarkan foto jurnalistik tersebut). Elemen penting ini terlihat pada foto-foto jurnalistik di media cetak, yang merupakan dasar dari pemaknaan foto jurnalistik secara umum.
Contoh foto yang sudah dilengkapi metadata
Lebih dari itu foto jurnalistik saat ini terutama berkiblat pada digital photojournalism sudah wajib hukumnya untuk mengisi metadata IPTC dan EXIF foto agar dengan mudah meintragrasi dengan sistem online maupun workflow foto digital yang sudah menjadi kesepakatan antara produsen kamera, pengembang software foto digital, wartawan foto, agensi foto dan dunia arsip foto di dunia dengan dikeluarkannya Photo Metadata White Paper 2007 - Document Revision 11 - (www.phmdc.org) di Malta. Pembahasan mengenal metadata foto akan dijelaskan pada kesempatan lainnya dalam manifesto metadata foto jurnalistik.
Pengertian dari elemen dasar foto jurnalistik yang terpapar diatas:
- Headline
Suatu judul pendek di atas kata-kata yang menerangkan isi foto. Judul foto sebaiknya tidak lebih dari tiga kata. Di dalam flow metadata foto, kalimat yang terlalu panjang dapat menyebabkan, tidak terbacanya kalimat tersebut dan lebih para membuat sistem menjadi error.
- Caption
Kalimat atau kata-kata yang menjelaskan isi atau keterangan yang ada di dalam foto tersebut berkaidah 5 W + 1 H. Tidak semua elemen di dalam visual foto dapat menjelaskan secara informatif, seperti lokasi, kapan foto dibuat, siapa di dalam foto tersebut. Maka penjelasan secara rinci dan detil, ditulis dalam keterangan foto.
- Byline
Ini berkaitan dengan copyright, hak cipta atau pencipta/ pembuat dari foto tersebut. Maka di dalam sebuah media cetak terlihat atau terbaca di bawa foto, Kompas/ Agus Susanto atau Adri Irianto (Tempo).
Nama-nama wartawan foto atau pencipta wajib untuk dituliskan sebagai suatu penghargaan kepada penciptanya. Namun sering juga permintaan dari pencipta untuk tidak disebut atau ditulis untuk melindungi pencipta.
- Credit
Pemegang hak siar atau penerbitan yang menyiarkan foto jurnalistik tersebut. Hak siar merupakan lembaga yang bertanggungjawab untuk menyiarkan foto berita tersebut ke publik.
Aturan semacam ini masih sering rancu dan sering disalah artikan. Aturan di dalam setiap media atau kebijakan untuk tidak menulis credit tergantung pada media itu sendiri. Ada yang tidak menuliskannya dengan kebijakan foto tersebut karya atau pemilik foto bukan staf dari media tersebut. Namun foto-foto yang berasal dari sebuah sumber berita baik dari online, agensi foto, majalah, foto-foto pemberian secara gratis dan nara sumber lainnya, secara etika sebaiknya memang harus ditulis lengkap.
Elemen keterangan foto terpapar di bawah ini:
Rezeki Poster Presiden (headline)
Tarbini (66) –who-, pedagang poster presiden RI dan pahlawan, sedang membersihkan poster dagangannya yang dijual Rp 15.000 hingga Rp 25.000 –what- Jalan Percetakan Negara, Jakarta Pusat, -where - Rabu (6/6) –when-. Pria asal Garut ini telah memperdagangkan poster sejak 40 tahun lalu saat Bung Karno masih menjabat. Menurut ayah tujuh anak dan kakek dari dua cucu ini, pembeli poster Bung Karno masih mendominasi hingga saat ini –why-. (caption)
Kompas/Riza Fathoni (RZF) (credit/byline)
Tidak setiap foto ada judulnya. Foto-foto bersifat ilustrasi untuk mendukung atau memperkuat nilai sebuah tulisan/ artikel tidak membutuhkan headline atau judul foto, juga foto-foto yang bersifat portraits (headshot) hanya ditulis nama tokoh.
Contoh text editor untuk pengisian metadata foto (IPTC)
Penulisan keterangan foto harus memperhatikan:
1. Kebiasaan Pembaca
Ketika menulis keterangan foto dengan atau tanpa judul, sangat baik bila dibuat dengan memahami karakter pembaca:
Pertama, saat pembaca melihat suatu foto maka pikirannya menangkap semua atau sebagian besar informasi visual (gambar) yang ditampilkan. Namun, sering juga pembaca hanya melihat sepintas, sehingga ada hal-hal kecil terlewatkan.
Kedua, begitu melihat foto yang menarik perhatiannya, umumnya pembaca melihat ke bawah foto untuk mencari informasi yang menerangkan foto itu. ltu sebabnya judul foto dan keterangan foto harus berkualitas.
Ketiga, biasanya setelah mencerna informasi dari judul dan keterangan foto. pembaca kembali melihat foto. Jadi teks yang dibuat harus memperkaya apa yang sudah ditampilkan visual (gambar) dan menjelaskan hal-hal yang perlu dijelaskan.
2. Kebutuhan Informasi
Kebutuhan informasi dari foto bisa berbeda-beda. Umumnya pembaca ingin tahu tentang:
* Siapakah dia? (Pada banyak kasus perlu mengidentifikasi orang dari kiri ke kanan, kecuali aksi pada foto itu memerlukan keterangan lain)
* Mengapa foto itu dimuat yang dimuat?
* Apa yang tengah terjadi?
* Kapan dan di mana terjadinya?
* Mengapa tokoh/subyek dalam foto teriihat demikian?
* Bagaimana terjadinya?
Penting: teks keterangan foto harus menjelaskan apa yang tampak di foto (gambar). sehingga pembaca puas dan memahami maksud foto itu. Mereka tidak ingin (dan sebaiknya tidak) mendapat keterangan lagi atas apa yang sudah tampak jelas dalam foto. Keterangan foto sebaiknya memberi penjelasan tambahan yang tidak tampak dalam foto. Sebagai contoh, suatu foto menggambarkan penjaga gawang yang melompat untuk menangkap bola, tetapi yang tidak kelihatan adalah bagaimana hasilnya. Teks foto harus bisa menjelaskannya.
3. Saran dan syarat:
* Ringkas
* Padat
* Tidak bertele-tele.
Keterangan foto harus ringkas, padat, tetapi tidak seperti telegram. Tidak seperti judul berita yang menggunakan kata sandang dan penghubung, keterangan foto sebaiknya seperti alinea dalam berita. Keterangan foto harus jelas dan langsung ke tujuannya.
Hindari penulis bertele-tele. Jangan mengulang hal-hal yang sudah jelas dalam foto dengan menggunakan ungkapan: seperti yang terlihat, tampak dalam gambar di atas.
Jangan sok tahu
Penulis teks keterangan foto sebaiknya tidak mengasumsikan apa yang sedang dipikirkan seseorang dalam foto itu atau mencoba menginterpretasikan perasaan dari ekspresinya. Sebaiknya berikan saja fakta-fakta dan serahkan kepada pembaca untuk memutuskan sendiri situasi yang ia lihat.
Hindari yang diketahui, jelaskan yang tidak diketahui. Penulis teks keterangan foto harus menghindari penggambaran foto seperti cantik, dramatik, mengerikan, atau mendiskripsikan kejadian yang seharusnya muncul dalam foto tetapi tidak ada. jika kejadian itu tidak terbukti di dalam foto, apa yang Anda ceritakan ke pembaca tetap saja tidak terjadi.
Namun demikian, teks keterangan foto sebaiknya tetap menjelaskan kondisi bagaimana foto itu dibuat, terutama bila ada sesuatu yang tidak biasa menurut penglihatan manusia, adanya efek khusus, misalnya menggunakan inset atau memasang rangkaian foto.
Gambarkan yang terjadi
Penulis teks foto harus yakin bahwa kata-kata yang digunakannya menggambarkan apa yang ada di foto dengan tepat. Bila foto menunjukkan dua orang atau lebih, penulis teks foto harus menghitung dan mengindentifikasi orang tampak dalam foto, kemudian mencocokkan jumlah, jenis kelamin, dan identitas orang tersebut dengan teks keterangan yang dibuat. Perhatian khusus perlu terutama agar orang yang sudah dipotong gambarnya (cropped) dari foto asli tidak lagi disertakan dalam keterangan foto.
Selalu, selalu, dan selalu cek ejaan. Penulis teks foto harus mengecek ejaan nama-nama orang di dalam foto, apalagi bila foto itu berkait dengan suatu tulisan, agar tidak terjadi perbedaan penulisan.
"Wild art"
Foto yang berdiri sendiri dan tidak disertai berita disebut "wild art". Karena itu, teks keterangan foto "wild art" harus menyediakan informasi dasar seperti tulisan atau berita. Standar 5W+1H (who, what, when, where and why) baik untuk menjadi pedoman dalam menulis teks keterangan foto. Bila Anda tidak memiliki semua informasi yang dibutuhkan, angkat telepon dan carilah informasi pelengkapnya. Jangan mencoba menulis teks foto tanpa fakta-fakta yang dibutuhkan. Kadang "wild art" dipasang di halaman depan untuk "menggoda" pembaca agar mau membaca cerita di halaman dalam. Akan tetapi, tidak sama seperti televisi, jangan menggoda pembaca melalui teks foto. Berikan penjelasan selengkapnya, berikan kesempatan untuk bisa masuk lebih dalam dengan keterangan yang lebih detail.
Foto ilustrasi
Jika foto menyertai suatu cerita, teks keterangan foto yang panjang umumnya tidak diperlukan. Kadang-kadang cukup satu baris keterangan tentang orang atau situasi yang tampak dalam gambar, sekadar untuk menjelaskan kaitannya dengan tulisan/berita. Ingat, kebanyakan pembaca teks keterangan foto belum membaca berita terkait.
Sebagian dari mereka bahkan tidak membaca beritanya, hanya teks keterangan foto dan judul berita. Jadi teks keterangan foto harus jelas, langsung ke sasaran, dan seimbang antara memberikan cukup informasi kepada pembaca agar memahami foto itu dan konteksnya dengan format yang ringkas dan padat.
Makin pendek makin baik. Penulisan teks keterangan foto sering memicu godaan untuk menggunakan kalimat-kalimat panjang. Hindarilah.
4. Unsur Waktu
Kebanyakan surat kabar menggunakan gaya penulisan teks keterangan foto yang menggunakan kalimat dengan waktu sekarang (present tense) dan rangkaian kalimat berikutnya dalam bentuk lampau (past tense). Alasannya, kalimat pertama menceritakan kepada pembaca apa yang terjadi dalam foto.
Selalu sertakanlah unsur waktu untuk menginformasikan kepada pembaca kapan peristiwa dalam foto tersebut terjadi.
(Eddy Hasby)
Rangkuman dari berbagai sumber
- Diklat Kompas
- Oscar Motuloh
- Photojournalism:The Professional Approach by Kenneth Kobre
- Photojournalism: The Visual Approach by Frank P. Hoy
- iptc.org
- exif.org
comment 4 | Rating
Komentar:
OSIS SMP Negeri 76 pada tanggal 19 April 2008 17:13:57 WIB
Hi,kompas trims bgt yach atas foto jurnalistiknya telah bantu w dlm tugas skul yang byk bgt .Adain artikel ttg SMPN 76 donk.Kira2bagaimana sich caranya klo mau masukin artikel.thank you yach,semoga saran w diterima.
noel pada tanggal 17 April 2008 18:07:32 WIB
wah keren kompas nich.....gue akhirnya bisa dapat ilmu gratis ttg foto jurnalistik disini cz gue kan kulna jurusan jurnalistik!!! oia minta tips ttg cara ngambil foto spot news dunk...,.,.,., thx
stevanus pada tanggal 11 April 2008 08:59:24 WIB
Bagus artikelnya dan nambah wawasan.. Th
Rabu, 23 April 2008
Hidup ....
apa yang kita cari ...
kemewahan ... pangkat dan jabatan ....
semua hanya topeng .....
yang membungkus tubuh busuk kita ...
seolah kita yang terhebat ...
seolah kita yang terbaik ...
sesungguhnya ....
berbahagialah orang yang terbebas ....
dari keinginan dan hawa nafsu ...
dan menjadikan kehidupannya ...
hanya untuk menomor_SATU_kan Allah ...
Ya Robb ...
takdirkan hamba bisa seperti itu. Amin
apa yang kita cari ...
kemewahan ... pangkat dan jabatan ....
semua hanya topeng .....
yang membungkus tubuh busuk kita ...
seolah kita yang terhebat ...
seolah kita yang terbaik ...
sesungguhnya ....
berbahagialah orang yang terbebas ....
dari keinginan dan hawa nafsu ...
dan menjadikan kehidupannya ...
hanya untuk menomor_SATU_kan Allah ...
Ya Robb ...
takdirkan hamba bisa seperti itu. Amin
Sang Primadona
15 Nopember 2005 23:10:11
Oleh: A. Mustofa Bisri
Apa yang harus aku lakukan? Berilah aku saran! Aku benar-benar pusing. Apabila masalahku ini berlarut-larut dan aku tidak segera menemukan pemecahannya, aku khawatir akan berdampak buruk terhadap kondisi kesehatan dan kegiatanku dalam masyarakat. Lebih-lebih terhadap dua permataku yang manis-manis; Gita, dan Ragil.
Tapi agar jelas, biarlah aku ceritakan lebih dahulu dari awal.
Aku lahir dan tumbuh dalam keluarga yang –katakanlah—kecukupan. Aku dianugerahi Tuhan wajah yang cukup cantik dan perawakan yang menawan. Sejak kecil aku sudah menjadi ‘primadona’ keluarga. Kedua orangtuaku pun, meski tidak memanjakanku, sangat menyayangiku.
Di sekolah, mulai SD sampai dengan SMA, aku pun –alhamduliLlah-- juga disayangi guru-guru dan kawan-kawanku. Apalagi aku sering mewakili sekolah dalam perlombaan-perlombaan dan tidak jarang aku menjadi juara. Ketika di SD aku pernah menjadi juara I lomba menari. Waktu SMP aku mendapat piala dalam lomba menyanyi. Bahkan ketika SMA aku pernah menjuarai lomba baca puisi tingkat propinsi.
Tapi sungguh, aku tidak pernah bermimpi akhirnya aku menjadi artis di ibu kota seperti sekarang ini. Cita-citaku dari kecil aku ingin menjadi pengacara yang disetiap persidangan menjadi bintang, seperti sering aku lihat dalam film. Ini gara-gara ketika aku baru beberapa semester kuliah, aku memenangkan lomba foto model. Lalu ditawari main sinetron dan akhirnya keasyikan main film. Kuliahku pun tidak berlanjut.
Seperti umumnya artis-artis popular di negeri ini, aku pun kemudian menjadi incaran perusahaan-perusahaan untuk pembuatan iklan; diminta menjadi presenter dalam acara-acara seremonial; menjadi host di tv-tv; malah tidak jarang diundang untuk presentasi dalam seminar-seminar bersama tokoh-tokoh cendekiawan. Yang terakhir ini, boleh jadi aku hanya dijadikan alat menarik peminat. Tapi apa rugiku? Asal aku diberi honor standar, aku tak peduli.
Soal kuliahku yang tidak berlanjut, aku menghibur diriku dengan mengatakan kepada diriku, ‘Ah, belajar kan tidak harus di bangku kuliah. Lagi pula orang kuliah ujung-ujungnya kan untuk mencari materi. Aku tidak menjadi pengacara dan bintang pengadilan, tak mengapa; bukankah kini aku sudah menjadi super bintang. Materi cukup.’
Memang sebagai perempuan yang belum bersuami, aku cukup bangga dengan kehidupanku yang boleh dikata serba kecukupan. Aku sudah mampu membeli rumah sendiri yang cukup indah di kawasan elite. Kemana-mana, ada mobil yang siap mengantarku. Pendek kata aku bangga bisa menjadi perempuan yang mandiri. Tidak lagi bergantung kepada orangtua. Bahkan kini sedikit-banyak aku bisa membantu kehidupan ekonomi mereka di kampung. Sementara banyak kawan-kawanku yang sudah lulus kuliah, masih lontang-lantung mencari pekerjaan.
Kadang-kadang untuk sekedar menyenangkan orang tua, aku mengundang mereka dari kampung. Ibuku yang biasanya nyinyir mengomentari apa saja yang kulakukan dan menasehatiku ini-itu, kini tampak seperti sudah menganggapku benar-benar orang dewasa. Entah kenyataannya demikian atau hanya karena segan kepada anaknya yang kini sudah benar-benar hidup mandiri. Yang masih selalu ibu ingatkan, baik secara langsung atau melalui surat, ialah soal ibadah.
“Nduk, ibadah itu penting.”; “Bagaimana pun sibukmu, salat jangan kamu abaikan!”; “Sempatkan membaca Quran yang pernah kau pelajari ketika di kampung dulu, agar tidak hilang.”; “Bila kamu mempunyai rezki lebih, jangan lupa bersedekah kepada fakir miskin dan anak yatim.” Ya, kalimat-kalimat semacam itulah yang masih sering beliau wiridkan. Mula-mula memang aku perhatikan; bahkan aku berusaha melaksanakan nasihat-nasihat itu, tapi dengan semakin meningkatnya volume kegiatanku, lama-lama aku justru risi dan menganggapnya angin lalu saja.
Sebagai artis tenar, tentu saja banyak orang yang mengidolakanku. Tapi ada seorang yang mengagumiku justru sebelum aku menjadi setenar sekarang ini. Tidak. Ia tidak sekedar mengidolakanku. Dia menyintaiku habis-habisan. Ini ia tunjukkan tidak hanya dengan hampir selalu hadir dalam event-event dimana aku tampil; ia juga setia menungguiku shoting film dan mengantarku pulang. Tidak itu saja; hampir setiap hari, bila berjauhan, dia selalu telpon atau mengirim sms yang seringkali hanya untuk menyatakan kangen.
Di antara mereka yang mengagumiku, lelaki yang satu ini memang memiliki kelebihan. Dia seorang pengusaha yang sukses. Masih muda, tampan, sopan, dan penuh perhatian. Pendek kata, akhirnya aku takluk di hadapan kegigihannya dan kesabarannya. Aku berhasil dipersuntingnya. Tidak perlu aku ceritakan betapa meriah pesta perkawinan kami ketika itu. Pers memberitakannya setiap hari hampir dua minggu penuh. Tentu saja yang paling bahagia adalah kedua orangtuaku yang memang sejak lama menghendaki aku segera mengakhiri masa lajangku yang menurut mereka mengkhawatirkan.
Begitulah; di awal-awal perkawinan, semua berjalan baik-baik saja. Setelah berbulan madu yang singkat, aku kembali menekuni kegiatanku seperti biasa. Suamiku pun tidak keberatan. Sampai akhirnya terjadi sesuatu yang benar-benar merubah jalan hidupku.
Beberapa bulan setelah Ragil, anak keduaku, lahir, perusahaan suamiku bangkrut gara-gara krisis moneter. Kami, terutama suamiku, tidak siap menghadapi situasi yang memang tidak terduga ini. Dia begitu terpukul dan seperti kehilangan keseimbangan. Perangainya berubah sama sekali. Dia jadi pendiam dan gampang tersinggung. Bicaranya juga tidak seperti dulu, kini terasa sangat sinis dan kasar. Dia yang dulu jarang keluar malam, hampir setiap malam keluar dan baru pulang setelah dini hari. Entah apa saja yang dikerjakannya di luar sana. Beberapa kali kutanya dia selalu marah-marah, aku pun tak pernah lagi bertanya.
Untung, meskipun agak surut, aku masih terus mendapatkan kontrak pekerjaan. Sehingga, dengan sedikit menghemat, kebutuhan hidup sehari-hari tidak terlalu terganggu. Yang terganggu justru keharmonisan hubungan keluarga akibat perubahan perilaku suami. Sepertinya apa saja bisa menjadi masalah. Sepertinya apa saja yang aku lakukan, salah di mata suamiku. Sebaliknya menurutku justru dialah yang tak pernah melakukan hal-hal yang benar. Pertengkaran hampir terjadi setiap hari.
Mula-mula, aku mengalah. Aku tidak ingin anak-anak menyaksikan orangtua mereka bertengkar. Tapi lama-kelamaan aku tidak tahan. Dan anak-anak pun akhirnya sering mendengar teriakan-teriakan kasar dari mulut-mulut kedua orangtua mereka; sesuatu yang selama ini kami anggap tabu di rumah. Masya Allah. Aku tak bisa menahan tangisku setiap terbayang tatapan tak mengerti dari kedua anakku ketika menonton pertengkaran kedua orangtua mereka.
Sebenarnya sudah sering beberapa kawan sesama artis mengajakku mengikuti kegiatan yang mereka sebut sebagai pengajian atau siraman rohani. Mereka melaksanakan kegiatan itu secara rutin dan bertempat di rumah mereka secara bergilir. Tapi aku baru mulai tertarik bergabung dalam kegiatan ini setelah kemelut melanda rumahtanggaku. Apakah ini sekedar pelarian ataukah –mudah-mudahan—memang merupakan hidayah Allah. Yang jelas aku merasa mendapatkan semacam kedamaian saat berada di tengah-tengah majlis pengajian. Ada sesuatu yang menyentuh kalbuku yang terdalam, baik ketika sang ustadz berbicara tentang kefanaan hidup di dunia ini dan kehidupan yang kekal kelak di akhirat, tentang kematian dan amal sebagai bekal, maupun ketika mengajak jamaah berdzikir.
Setelah itu, aku jadi sering merenung. Memikirkan tentang diriku sendiri dan kehidupanku. Aku tidak lagi melayani ajakan bertengkar suami. Atau tepatnya aku tidak mempunyai waktu untuk itu. Aku menjadi semakin rajin mengikuti pengajian; bukan hanya yang diselenggarakan kawan-kawan artis, tapi juga pengajian-pengajian lain termasuk yang diadakan di RTku. Tidak itu saja, aku juga getol membacai buku-buku keagamaan.
Waktuku pun tersita oleh kegiatan-kegiatan di luar rumah. Selain pekerjaanku sebagai artis, aku menikmati kegiatan-kegiatan pengajian. Apalagi setelah salah seorang ustadz mempercayaiku untuk menjadi ‘asisten’nya. Bila dia berhalangan, aku dimintanya untuk mengisi pengajian. Inilah yang memicu semangatku untuk lebih getol membaca buku-buku keagamaan. O ya, aku belum menceritakan bahwa aku yang selama ini selalu mengikuti mode dan umumnya yang mengarah kepada penonjolan daya tarik tubuhku, sudah aku hentikan sejak kepulanganku dari umrah bersama kawan-kawan. Sejak itu aku senantiasa memakai busana muslimah yang menutup aurat. Malah jilbabku kemudian menjadi trend yang diikuti oleh kalangan muslimat.
Ringkas cerita; dari sekedar sebagai artis, aku berkembang dan meningkat menjadi ‘tokoh masyarakat’ yang diperhitungkan. Karena banyaknya ibu-ibu yang sering menanyakan kepadaku mengenai berbagai masalah keluarga, aku dan kawan-kawan pun mendirikan semacam biro konsultasi yang kami namakan “Biro Konsultasi Keluarga Sakinah Primadona”. Aku pun harus memenuhi undangan-undangan –bukan sekedar menjadi ‘penarik minat’ seperti dulu-- sebagai nara sumber dalam diskusi-diskusi tentang masalah-masalah keagamaan, sosial-kemasyarakatan, dan bahkan politik. Belum lagi banyaknya undangan dari panitia yang sengaja menyelenggarakan forum sekedar untuk memintaku berbicara tentang bagaimana perjalanan hidupku hingga dari artis bisa menjadi seperti sekarang ini.
Dengan statusku yang seperti itu dengan volume kegiatan kemasyarakatan yang sedemikian tinggi, kondisi kehidupan rumah tanggaku sendiri seperti yang sudah aku ceritakan, tentu semakin terabaikan. Aku sudah semakin jarang di rumah. Kalau pun di rumah, perhatianku semakin minim terhadap anak-anak; apalagi terhadap suami yang semakin menyebalkan saja kelakuannya. Dan terus terang, gara-gara suami, sebenarnyalah aku tidak kerasan lagi berada di rumahku sendiri.
Lalu terjadi sesuatu yang membuatku terpukul. Suatu hari, tanpa sengaja, aku menemukan sesuatu yang mencurigakan. Di kamar suamiku, aku menemukan lintingan rokok ganja. Semula aku diam saja, tapi hari-hari berikutnya kutemukan lagi dan lagi. Akhirnya aku pun menanyakan hal itu kepadanya. Mula-mula dia seperti kaget, tapi kemudian mengakuinya dan berjanji akan menghentikannya.
Namun beberapa lama kemudian aku terkejut setengah mati. Ketka aku baru naik mobil akan pergi untuk suatu urusan, sopirku memperlihatkan bungkusan dan berkata: “Ini milik siapa, bu?”
“Apa itu?” tanyaku tak mengerti.
“Ini barang berbahaya, bu;” sahutnya khawatir, “ini ganja. Bisa gawat bila ketahuan!”
“Masya Allah!” Aku mengelus dadaku. Sampai sopir kami tahu ada barang semacam ini. Ini sudah keterlaluan.
Setelah aku musnahkan barang itu, aku segera menemui suamiku dan berbicara sambil menangis. Lagi-lagi dia mengaku dan berjanji kapok, tak akan lagi menyentuh barang haram itu. Tapi seperti sudah aku duga, setelah itu aku masih selalu menemukan barang itu di kamarnya. Aku sempat berpikir, jangan-jangan kelakuannya yang kasar itu, akibat kecanduannya mengkonsumsi barang berbahaya itu. Lebih jauh aku mengkhawatirkan pengaruhnya terhadap anak-anak.
Terus terang aku sudah tidak tahan lagi. Memang terpikir keras olehku untuk meminta cerai saja, demi kemaslahatanku dan terutama kemaslahatan anak-anakku. Namun seiring maraknya trend kawin-cerai di kalangan artis, banyak pihak terutama fans-fansku yang menyatakan kagum dan memuji-muji keharmonisan kehidupan rumahtanggaku. Bagaimana mereka ini bila tiba-tiba mendengar –dan pasti akan mendengar—idolanya yang konsultan keluarga sakinah ini bercerai? Yang lebih penting lagi adalah akibatnya pada masa depan anak-anakku. Aku sudah sering mendengar tentang nasib buruk yang menimpa anak-anak orang tua yang bercerai. Aku bingung.
Apa yang harus aku lakukan? Apakah aku harus mengorbankan rumahtanggaku demi kegiatan kemasyarakatanku, ataukah sebaiknya aku menghentikan kegiatan kemasyarakatan demi keutuhan rumahtanggaku? Atau bagaimana? Berilah aku saran! Aku benar-benar pusing!
15 Nopember 2005 23:10:11
Oleh: A. Mustofa Bisri
Apa yang harus aku lakukan? Berilah aku saran! Aku benar-benar pusing. Apabila masalahku ini berlarut-larut dan aku tidak segera menemukan pemecahannya, aku khawatir akan berdampak buruk terhadap kondisi kesehatan dan kegiatanku dalam masyarakat. Lebih-lebih terhadap dua permataku yang manis-manis; Gita, dan Ragil.
Tapi agar jelas, biarlah aku ceritakan lebih dahulu dari awal.
Aku lahir dan tumbuh dalam keluarga yang –katakanlah—kecukupan. Aku dianugerahi Tuhan wajah yang cukup cantik dan perawakan yang menawan. Sejak kecil aku sudah menjadi ‘primadona’ keluarga. Kedua orangtuaku pun, meski tidak memanjakanku, sangat menyayangiku.
Di sekolah, mulai SD sampai dengan SMA, aku pun –alhamduliLlah-- juga disayangi guru-guru dan kawan-kawanku. Apalagi aku sering mewakili sekolah dalam perlombaan-perlombaan dan tidak jarang aku menjadi juara. Ketika di SD aku pernah menjadi juara I lomba menari. Waktu SMP aku mendapat piala dalam lomba menyanyi. Bahkan ketika SMA aku pernah menjuarai lomba baca puisi tingkat propinsi.
Tapi sungguh, aku tidak pernah bermimpi akhirnya aku menjadi artis di ibu kota seperti sekarang ini. Cita-citaku dari kecil aku ingin menjadi pengacara yang disetiap persidangan menjadi bintang, seperti sering aku lihat dalam film. Ini gara-gara ketika aku baru beberapa semester kuliah, aku memenangkan lomba foto model. Lalu ditawari main sinetron dan akhirnya keasyikan main film. Kuliahku pun tidak berlanjut.
Seperti umumnya artis-artis popular di negeri ini, aku pun kemudian menjadi incaran perusahaan-perusahaan untuk pembuatan iklan; diminta menjadi presenter dalam acara-acara seremonial; menjadi host di tv-tv; malah tidak jarang diundang untuk presentasi dalam seminar-seminar bersama tokoh-tokoh cendekiawan. Yang terakhir ini, boleh jadi aku hanya dijadikan alat menarik peminat. Tapi apa rugiku? Asal aku diberi honor standar, aku tak peduli.
Soal kuliahku yang tidak berlanjut, aku menghibur diriku dengan mengatakan kepada diriku, ‘Ah, belajar kan tidak harus di bangku kuliah. Lagi pula orang kuliah ujung-ujungnya kan untuk mencari materi. Aku tidak menjadi pengacara dan bintang pengadilan, tak mengapa; bukankah kini aku sudah menjadi super bintang. Materi cukup.’
Memang sebagai perempuan yang belum bersuami, aku cukup bangga dengan kehidupanku yang boleh dikata serba kecukupan. Aku sudah mampu membeli rumah sendiri yang cukup indah di kawasan elite. Kemana-mana, ada mobil yang siap mengantarku. Pendek kata aku bangga bisa menjadi perempuan yang mandiri. Tidak lagi bergantung kepada orangtua. Bahkan kini sedikit-banyak aku bisa membantu kehidupan ekonomi mereka di kampung. Sementara banyak kawan-kawanku yang sudah lulus kuliah, masih lontang-lantung mencari pekerjaan.
Kadang-kadang untuk sekedar menyenangkan orang tua, aku mengundang mereka dari kampung. Ibuku yang biasanya nyinyir mengomentari apa saja yang kulakukan dan menasehatiku ini-itu, kini tampak seperti sudah menganggapku benar-benar orang dewasa. Entah kenyataannya demikian atau hanya karena segan kepada anaknya yang kini sudah benar-benar hidup mandiri. Yang masih selalu ibu ingatkan, baik secara langsung atau melalui surat, ialah soal ibadah.
“Nduk, ibadah itu penting.”; “Bagaimana pun sibukmu, salat jangan kamu abaikan!”; “Sempatkan membaca Quran yang pernah kau pelajari ketika di kampung dulu, agar tidak hilang.”; “Bila kamu mempunyai rezki lebih, jangan lupa bersedekah kepada fakir miskin dan anak yatim.” Ya, kalimat-kalimat semacam itulah yang masih sering beliau wiridkan. Mula-mula memang aku perhatikan; bahkan aku berusaha melaksanakan nasihat-nasihat itu, tapi dengan semakin meningkatnya volume kegiatanku, lama-lama aku justru risi dan menganggapnya angin lalu saja.
Sebagai artis tenar, tentu saja banyak orang yang mengidolakanku. Tapi ada seorang yang mengagumiku justru sebelum aku menjadi setenar sekarang ini. Tidak. Ia tidak sekedar mengidolakanku. Dia menyintaiku habis-habisan. Ini ia tunjukkan tidak hanya dengan hampir selalu hadir dalam event-event dimana aku tampil; ia juga setia menungguiku shoting film dan mengantarku pulang. Tidak itu saja; hampir setiap hari, bila berjauhan, dia selalu telpon atau mengirim sms yang seringkali hanya untuk menyatakan kangen.
Di antara mereka yang mengagumiku, lelaki yang satu ini memang memiliki kelebihan. Dia seorang pengusaha yang sukses. Masih muda, tampan, sopan, dan penuh perhatian. Pendek kata, akhirnya aku takluk di hadapan kegigihannya dan kesabarannya. Aku berhasil dipersuntingnya. Tidak perlu aku ceritakan betapa meriah pesta perkawinan kami ketika itu. Pers memberitakannya setiap hari hampir dua minggu penuh. Tentu saja yang paling bahagia adalah kedua orangtuaku yang memang sejak lama menghendaki aku segera mengakhiri masa lajangku yang menurut mereka mengkhawatirkan.
Begitulah; di awal-awal perkawinan, semua berjalan baik-baik saja. Setelah berbulan madu yang singkat, aku kembali menekuni kegiatanku seperti biasa. Suamiku pun tidak keberatan. Sampai akhirnya terjadi sesuatu yang benar-benar merubah jalan hidupku.
Beberapa bulan setelah Ragil, anak keduaku, lahir, perusahaan suamiku bangkrut gara-gara krisis moneter. Kami, terutama suamiku, tidak siap menghadapi situasi yang memang tidak terduga ini. Dia begitu terpukul dan seperti kehilangan keseimbangan. Perangainya berubah sama sekali. Dia jadi pendiam dan gampang tersinggung. Bicaranya juga tidak seperti dulu, kini terasa sangat sinis dan kasar. Dia yang dulu jarang keluar malam, hampir setiap malam keluar dan baru pulang setelah dini hari. Entah apa saja yang dikerjakannya di luar sana. Beberapa kali kutanya dia selalu marah-marah, aku pun tak pernah lagi bertanya.
Untung, meskipun agak surut, aku masih terus mendapatkan kontrak pekerjaan. Sehingga, dengan sedikit menghemat, kebutuhan hidup sehari-hari tidak terlalu terganggu. Yang terganggu justru keharmonisan hubungan keluarga akibat perubahan perilaku suami. Sepertinya apa saja bisa menjadi masalah. Sepertinya apa saja yang aku lakukan, salah di mata suamiku. Sebaliknya menurutku justru dialah yang tak pernah melakukan hal-hal yang benar. Pertengkaran hampir terjadi setiap hari.
Mula-mula, aku mengalah. Aku tidak ingin anak-anak menyaksikan orangtua mereka bertengkar. Tapi lama-kelamaan aku tidak tahan. Dan anak-anak pun akhirnya sering mendengar teriakan-teriakan kasar dari mulut-mulut kedua orangtua mereka; sesuatu yang selama ini kami anggap tabu di rumah. Masya Allah. Aku tak bisa menahan tangisku setiap terbayang tatapan tak mengerti dari kedua anakku ketika menonton pertengkaran kedua orangtua mereka.
Sebenarnya sudah sering beberapa kawan sesama artis mengajakku mengikuti kegiatan yang mereka sebut sebagai pengajian atau siraman rohani. Mereka melaksanakan kegiatan itu secara rutin dan bertempat di rumah mereka secara bergilir. Tapi aku baru mulai tertarik bergabung dalam kegiatan ini setelah kemelut melanda rumahtanggaku. Apakah ini sekedar pelarian ataukah –mudah-mudahan—memang merupakan hidayah Allah. Yang jelas aku merasa mendapatkan semacam kedamaian saat berada di tengah-tengah majlis pengajian. Ada sesuatu yang menyentuh kalbuku yang terdalam, baik ketika sang ustadz berbicara tentang kefanaan hidup di dunia ini dan kehidupan yang kekal kelak di akhirat, tentang kematian dan amal sebagai bekal, maupun ketika mengajak jamaah berdzikir.
Setelah itu, aku jadi sering merenung. Memikirkan tentang diriku sendiri dan kehidupanku. Aku tidak lagi melayani ajakan bertengkar suami. Atau tepatnya aku tidak mempunyai waktu untuk itu. Aku menjadi semakin rajin mengikuti pengajian; bukan hanya yang diselenggarakan kawan-kawan artis, tapi juga pengajian-pengajian lain termasuk yang diadakan di RTku. Tidak itu saja, aku juga getol membacai buku-buku keagamaan.
Waktuku pun tersita oleh kegiatan-kegiatan di luar rumah. Selain pekerjaanku sebagai artis, aku menikmati kegiatan-kegiatan pengajian. Apalagi setelah salah seorang ustadz mempercayaiku untuk menjadi ‘asisten’nya. Bila dia berhalangan, aku dimintanya untuk mengisi pengajian. Inilah yang memicu semangatku untuk lebih getol membaca buku-buku keagamaan. O ya, aku belum menceritakan bahwa aku yang selama ini selalu mengikuti mode dan umumnya yang mengarah kepada penonjolan daya tarik tubuhku, sudah aku hentikan sejak kepulanganku dari umrah bersama kawan-kawan. Sejak itu aku senantiasa memakai busana muslimah yang menutup aurat. Malah jilbabku kemudian menjadi trend yang diikuti oleh kalangan muslimat.
Ringkas cerita; dari sekedar sebagai artis, aku berkembang dan meningkat menjadi ‘tokoh masyarakat’ yang diperhitungkan. Karena banyaknya ibu-ibu yang sering menanyakan kepadaku mengenai berbagai masalah keluarga, aku dan kawan-kawan pun mendirikan semacam biro konsultasi yang kami namakan “Biro Konsultasi Keluarga Sakinah Primadona”. Aku pun harus memenuhi undangan-undangan –bukan sekedar menjadi ‘penarik minat’ seperti dulu-- sebagai nara sumber dalam diskusi-diskusi tentang masalah-masalah keagamaan, sosial-kemasyarakatan, dan bahkan politik. Belum lagi banyaknya undangan dari panitia yang sengaja menyelenggarakan forum sekedar untuk memintaku berbicara tentang bagaimana perjalanan hidupku hingga dari artis bisa menjadi seperti sekarang ini.
Dengan statusku yang seperti itu dengan volume kegiatan kemasyarakatan yang sedemikian tinggi, kondisi kehidupan rumah tanggaku sendiri seperti yang sudah aku ceritakan, tentu semakin terabaikan. Aku sudah semakin jarang di rumah. Kalau pun di rumah, perhatianku semakin minim terhadap anak-anak; apalagi terhadap suami yang semakin menyebalkan saja kelakuannya. Dan terus terang, gara-gara suami, sebenarnyalah aku tidak kerasan lagi berada di rumahku sendiri.
Lalu terjadi sesuatu yang membuatku terpukul. Suatu hari, tanpa sengaja, aku menemukan sesuatu yang mencurigakan. Di kamar suamiku, aku menemukan lintingan rokok ganja. Semula aku diam saja, tapi hari-hari berikutnya kutemukan lagi dan lagi. Akhirnya aku pun menanyakan hal itu kepadanya. Mula-mula dia seperti kaget, tapi kemudian mengakuinya dan berjanji akan menghentikannya.
Namun beberapa lama kemudian aku terkejut setengah mati. Ketka aku baru naik mobil akan pergi untuk suatu urusan, sopirku memperlihatkan bungkusan dan berkata: “Ini milik siapa, bu?”
“Apa itu?” tanyaku tak mengerti.
“Ini barang berbahaya, bu;” sahutnya khawatir, “ini ganja. Bisa gawat bila ketahuan!”
“Masya Allah!” Aku mengelus dadaku. Sampai sopir kami tahu ada barang semacam ini. Ini sudah keterlaluan.
Setelah aku musnahkan barang itu, aku segera menemui suamiku dan berbicara sambil menangis. Lagi-lagi dia mengaku dan berjanji kapok, tak akan lagi menyentuh barang haram itu. Tapi seperti sudah aku duga, setelah itu aku masih selalu menemukan barang itu di kamarnya. Aku sempat berpikir, jangan-jangan kelakuannya yang kasar itu, akibat kecanduannya mengkonsumsi barang berbahaya itu. Lebih jauh aku mengkhawatirkan pengaruhnya terhadap anak-anak.
Terus terang aku sudah tidak tahan lagi. Memang terpikir keras olehku untuk meminta cerai saja, demi kemaslahatanku dan terutama kemaslahatan anak-anakku. Namun seiring maraknya trend kawin-cerai di kalangan artis, banyak pihak terutama fans-fansku yang menyatakan kagum dan memuji-muji keharmonisan kehidupan rumahtanggaku. Bagaimana mereka ini bila tiba-tiba mendengar –dan pasti akan mendengar—idolanya yang konsultan keluarga sakinah ini bercerai? Yang lebih penting lagi adalah akibatnya pada masa depan anak-anakku. Aku sudah sering mendengar tentang nasib buruk yang menimpa anak-anak orang tua yang bercerai. Aku bingung.
Apa yang harus aku lakukan? Apakah aku harus mengorbankan rumahtanggaku demi kegiatan kemasyarakatanku, ataukah sebaiknya aku menghentikan kegiatan kemasyarakatan demi keutuhan rumahtanggaku? Atau bagaimana? Berilah aku saran! Aku benar-benar pusing!
Wanita Cantik Sekali di Multazam
9 Februari 2006 22:51:38
Oleh : A. Mustofa Bisri
Di tengah-tengah himpitan daging-daging doa
di pelataran rumahmu yang agung
aku mengalirkan diri dan ratapku
hingga terantuk pada dinding mustajab-Mu
menumpahkan luap pinta di dadaku
Ku baca segala yang bisa ku baca
dalam berbagai bahasa runduk hamba dari tahlil ke tasbih,
dari tasbih ke tahmid, dari tahmid ke takbir,
dari takbir ke istighfar, dari istighfar ke syukur,
dari syukur ke khauf, dari khauf ke raja, dari raja ke khauf
raja khauf
khauf raja
raja khauf
khauf raja
sampai tawakkal
Tiba-tiba sebelum benar-benar fana melela dari arah Multazam
seorang wanita cantik sekali
masya Allah tabarakAllah !
Allah, apa amalku jikak kurnia
apa dosaku jika coba ?
Allah, putih kulitnya dalam putih kerudungnya
Indah sekali alisnya
Indah sekali matanya
Indah sekali hidungnya
Indah sekali bibirnya
Dalam indah wajahMu
Allahku, ku nikmati keindahan dalam keindahan
Di atas keindahan di bawah keindahan
Di kanan-kiri keindahan
Di tengah-tengah keindahan yang indah sekali
Allahku, inilah kerapuhanku ! tak kutanyakan kenapa
Engkau bertanya bukan ditanya kenapa
Tapi apa jawabku ?—ampunilah aku—tanyalah jua yang ku punya kini :
Allahku mukallafkah aku dalam keindahanMu ?
--------------------------------------------------------------------------------
9 Februari 2006 22:51:38
Oleh : A. Mustofa Bisri
Di tengah-tengah himpitan daging-daging doa
di pelataran rumahmu yang agung
aku mengalirkan diri dan ratapku
hingga terantuk pada dinding mustajab-Mu
menumpahkan luap pinta di dadaku
Ku baca segala yang bisa ku baca
dalam berbagai bahasa runduk hamba dari tahlil ke tasbih,
dari tasbih ke tahmid, dari tahmid ke takbir,
dari takbir ke istighfar, dari istighfar ke syukur,
dari syukur ke khauf, dari khauf ke raja, dari raja ke khauf
raja khauf
khauf raja
raja khauf
khauf raja
sampai tawakkal
Tiba-tiba sebelum benar-benar fana melela dari arah Multazam
seorang wanita cantik sekali
masya Allah tabarakAllah !
Allah, apa amalku jikak kurnia
apa dosaku jika coba ?
Allah, putih kulitnya dalam putih kerudungnya
Indah sekali alisnya
Indah sekali matanya
Indah sekali hidungnya
Indah sekali bibirnya
Dalam indah wajahMu
Allahku, ku nikmati keindahan dalam keindahan
Di atas keindahan di bawah keindahan
Di kanan-kiri keindahan
Di tengah-tengah keindahan yang indah sekali
Allahku, inilah kerapuhanku ! tak kutanyakan kenapa
Engkau bertanya bukan ditanya kenapa
Tapi apa jawabku ?—ampunilah aku—tanyalah jua yang ku punya kini :
Allahku mukallafkah aku dalam keindahanMu ?
--------------------------------------------------------------------------------
Aku Merindukanmu, O, Muhammadku
27 April 2006 23:06:17
Oleh: A Mustofa Bisri
Aku merindukanmu, o, Muhammadku
Sepanjang jalan kulihat wajah-wajah yang kalah
Menatap mataku yang tak berdaya
Sementara tangan-tangan perkasa
Terus mempermainkan kelemahan
Airmataku pun mengalir mengikuti panjang jalan
Mencari-cari tangan
Lembut-wibawamu
Dari dada-dada tipis papan
Terus kudengar suara serutan
Derita mengiris berkepanjangan
Dan kepongahan tingkah-meningkah
Telingaku pun kutelengkan
Berharap sesekali mendengar
Merdu-menghibur suaramu
Aku merindukanmu, o. Muhammadku
Ribuan tangan gurita keserakahan
Menjulur-julur kesana kemari
Mencari mangsa memakan korban
Melilit bumi meretas harapan
Aku pun dengan sisa-sisa suaraku
Mencoba memanggil-manggilmu
O, Muhammadku, O, Muhammadku!
Dimana-mana sesama saudara
Saling cakar berebut benar
Sambil terus berbuat kesalahan
Qur'an dan sabdamu hanyalah kendaraan
Masing-masing mereka yang berkepentingan
Aku pun meninggalkan mereka
Mencoba mencarimu dalam sepi rinduku
Aku merindukanmu, O, Muhammadku
Sekian banyak Abu jahal Abu Lahab
Menitis ke sekian banyak umatmu
O, Muhammadku - selawat dan salam bagimu -
bagaimana melawan gelombang kebodohan
Dan kecongkaan yang telah tergayakan
Bagaimana memerangi
Umat sendiri? O, Muhammadku
Aku merindukanmu, o, Muhammadku
Aku sungguh merindukanmu.
(kumpulan : sajak-sajak bumilangit)
--------------------------------------------------------------------------------
KOMENTAR
m.fuad hanif mumtazia (hanif) menulis:
Rindu hamba padamu ya Nabiku, sholawat serta salam hamba sampaikan kepadamu Ya Nabi, di sini di bumi Ini, khususnya Indonesia hamba melihat ketidakadilan dan "molak-malik"nya zaman, dan syukur Alhamdulillah aku ucapkan PadaMU Ya Allah karena hamba terlahir di bumi ini sebagai Umat Muhammad, hamba yang setiap hari bergumul dengan debu-debu dosa yang telah banyak mengkontaminasi udara di bumi Indonesia tercinta ini, datang bersimpuh padaMu Ya Allah memohon ampun dan menyampaikan sholawat serta salam pada Nabi Muhammad JunjunganKu yang hamba cintai, sampaikanlah Ya Allah, Amin Ya Rabbalalamin.
badruttamam (tamam) menulis komentar baru:
27 April 2006 23:06:17
Oleh: A Mustofa Bisri
Aku merindukanmu, o, Muhammadku
Sepanjang jalan kulihat wajah-wajah yang kalah
Menatap mataku yang tak berdaya
Sementara tangan-tangan perkasa
Terus mempermainkan kelemahan
Airmataku pun mengalir mengikuti panjang jalan
Mencari-cari tangan
Lembut-wibawamu
Dari dada-dada tipis papan
Terus kudengar suara serutan
Derita mengiris berkepanjangan
Dan kepongahan tingkah-meningkah
Telingaku pun kutelengkan
Berharap sesekali mendengar
Merdu-menghibur suaramu
Aku merindukanmu, o. Muhammadku
Ribuan tangan gurita keserakahan
Menjulur-julur kesana kemari
Mencari mangsa memakan korban
Melilit bumi meretas harapan
Aku pun dengan sisa-sisa suaraku
Mencoba memanggil-manggilmu
O, Muhammadku, O, Muhammadku!
Dimana-mana sesama saudara
Saling cakar berebut benar
Sambil terus berbuat kesalahan
Qur'an dan sabdamu hanyalah kendaraan
Masing-masing mereka yang berkepentingan
Aku pun meninggalkan mereka
Mencoba mencarimu dalam sepi rinduku
Aku merindukanmu, O, Muhammadku
Sekian banyak Abu jahal Abu Lahab
Menitis ke sekian banyak umatmu
O, Muhammadku - selawat dan salam bagimu -
bagaimana melawan gelombang kebodohan
Dan kecongkaan yang telah tergayakan
Bagaimana memerangi
Umat sendiri? O, Muhammadku
Aku merindukanmu, o, Muhammadku
Aku sungguh merindukanmu.
(kumpulan : sajak-sajak bumilangit)
--------------------------------------------------------------------------------
KOMENTAR
m.fuad hanif mumtazia (hanif) menulis:
Rindu hamba padamu ya Nabiku, sholawat serta salam hamba sampaikan kepadamu Ya Nabi, di sini di bumi Ini, khususnya Indonesia hamba melihat ketidakadilan dan "molak-malik"nya zaman, dan syukur Alhamdulillah aku ucapkan PadaMU Ya Allah karena hamba terlahir di bumi ini sebagai Umat Muhammad, hamba yang setiap hari bergumul dengan debu-debu dosa yang telah banyak mengkontaminasi udara di bumi Indonesia tercinta ini, datang bersimpuh padaMu Ya Allah memohon ampun dan menyampaikan sholawat serta salam pada Nabi Muhammad JunjunganKu yang hamba cintai, sampaikanlah Ya Allah, Amin Ya Rabbalalamin.
badruttamam (tamam) menulis komentar baru:
Ya Allooh.... seandainya kupingku bisa mendengar bisikkan-Mu
Kau mungkin telah berkata "kemarilah,,,rengkuh Aku dngn sepenuh jiwamu, datanglah,,, Aku kan berlari menyambutmu"
Tapi aku selalu sibuk dengan diriku
Kalaupun datang ke rumah-Mu
aku hanya menciumi lantai sajadah-Mu
tanpa membekas dihatiku
Bukankah innassholaata tanha anil fahsyai wal munkar?
Tapi aku sholat tetap sholat, maksiat tetap maksiat
tidak berkolerasi antara sholatku dengan akhlakku
Ya Allooh...
aku hanya bs membayangkan dan menggambarkan diri-Mu
aku hanya bisa merayu,memuja-Mu dari kejauhan
Bukan untuk mendapatkan cinta-Mu
tp hanya sekedar memuaskan egoku
aku memaharahi mereka yg mendekati-Mu
seolah-2 akulah yg paling benar dalam syariat, paling dekat dengan-Mu, merasa Kau sudah menjadi kekasihku
apakah karna aku cemburu buta?
atau mungkin takut mereka lebih tulus mencintai-Mu
Ya Allooh yg Maha Rahman....
aku bersujud dan mohon ampunan
Kau mungkin telah berkata "kemarilah,,,rengkuh Aku dngn sepenuh jiwamu, datanglah,,, Aku kan berlari menyambutmu"
Tapi aku selalu sibuk dengan diriku
Kalaupun datang ke rumah-Mu
aku hanya menciumi lantai sajadah-Mu
tanpa membekas dihatiku
Bukankah innassholaata tanha anil fahsyai wal munkar?
Tapi aku sholat tetap sholat, maksiat tetap maksiat
tidak berkolerasi antara sholatku dengan akhlakku
Ya Allooh...
aku hanya bs membayangkan dan menggambarkan diri-Mu
aku hanya bisa merayu,memuja-Mu dari kejauhan
Bukan untuk mendapatkan cinta-Mu
tp hanya sekedar memuaskan egoku
aku memaharahi mereka yg mendekati-Mu
seolah-2 akulah yg paling benar dalam syariat, paling dekat dengan-Mu, merasa Kau sudah menjadi kekasihku
apakah karna aku cemburu buta?
atau mungkin takut mereka lebih tulus mencintai-Mu
Ya Allooh yg Maha Rahman....
aku bersujud dan mohon ampunan
Ya Allooh.... seandainya kupingku bisa mendengar bisikkan-Mu
Kau mungkin telah berkata "kemarilah,,,rengkuh Aku dngn sepenuh jiwamu, datanglah,,, Aku kan berlari menyambutmu"
Tapi aku selalu sibuk dengan diriku
Kalaupun datang ke rumah-Mu
aku hanya menciumi lantai sajadah-Mu
tanpa membekas dihatiku
Bukankah innassholaata tanha anil fahsyai wal munkar?
Tapi aku sholat tetap sholat, maksiat tetap maksiat
tidak berkolerasi antara sholatku dengan akhlakku
Ya Allooh...
aku hanya bs membayangkan dan menggambarkan diri-Mu
aku hanya bisa merayu,memuja-Mu dari kejauhan
Bukan untuk mendapatkan cinta-Mu
tp hanya sekedar memuaskan egoku
aku memaharahi mereka yg mendekati-Mu
seolah-2 akulah yg paling benar dalam syariat, paling dekat dengan-Mu, merasa Kau sudah menjadi kekasihku
apakah karna aku cemburu buta?
atau mungkin takut mereka lebih tulus mencintai-Mu
Ya Allooh yg Maha Rahman....
aku bersujud dan mohon ampunan
Kau mungkin telah berkata "kemarilah,,,rengkuh Aku dngn sepenuh jiwamu, datanglah,,, Aku kan berlari menyambutmu"
Tapi aku selalu sibuk dengan diriku
Kalaupun datang ke rumah-Mu
aku hanya menciumi lantai sajadah-Mu
tanpa membekas dihatiku
Bukankah innassholaata tanha anil fahsyai wal munkar?
Tapi aku sholat tetap sholat, maksiat tetap maksiat
tidak berkolerasi antara sholatku dengan akhlakku
Ya Allooh...
aku hanya bs membayangkan dan menggambarkan diri-Mu
aku hanya bisa merayu,memuja-Mu dari kejauhan
Bukan untuk mendapatkan cinta-Mu
tp hanya sekedar memuaskan egoku
aku memaharahi mereka yg mendekati-Mu
seolah-2 akulah yg paling benar dalam syariat, paling dekat dengan-Mu, merasa Kau sudah menjadi kekasihku
apakah karna aku cemburu buta?
atau mungkin takut mereka lebih tulus mencintai-Mu
Ya Allooh yg Maha Rahman....
aku bersujud dan mohon ampunan
Cintamu
24 Januari 2007 01:11:30
Oleh: A. Mustofa Bisri
bukankah aku sudah mengatakan kepadamu kemarilah
rengkuh aku dengan sepenuh jiwamu
datanglah aku kan berlari menyambutmu
tapi kau terus sibuk dengan dirimu
kalaupun datang kau hanya menciumi pintu rumahku
tanpa meski sekedar melongokku
kau hanya membayangkan dan menggambarkan diriku
lalu kau rayu aku dari kejauhan
kau merayu dan memujaku
bukan untuk mendapatkan cintaku
tapi sekedar memuaskan egomu
kau memarahi mereka yang berusaha mendekatiku
seolah-olah aku sudah menjadi kekasihmu
apakah karena kau cemburu buta
atau takut mereka lebih tulus mencintaiku?
pulanglah ke dirimu
aku tak kemana-mana
2005
24 Januari 2007 01:11:30
Oleh: A. Mustofa Bisri
bukankah aku sudah mengatakan kepadamu kemarilah
rengkuh aku dengan sepenuh jiwamu
datanglah aku kan berlari menyambutmu
tapi kau terus sibuk dengan dirimu
kalaupun datang kau hanya menciumi pintu rumahku
tanpa meski sekedar melongokku
kau hanya membayangkan dan menggambarkan diriku
lalu kau rayu aku dari kejauhan
kau merayu dan memujaku
bukan untuk mendapatkan cintaku
tapi sekedar memuaskan egomu
kau memarahi mereka yang berusaha mendekatiku
seolah-olah aku sudah menjadi kekasihmu
apakah karena kau cemburu buta
atau takut mereka lebih tulus mencintaiku?
pulanglah ke dirimu
aku tak kemana-mana
2005
Perkenankanlah Aku Mencintaimu
1 Februari 2007 14:13:59
Oleh: A. Mustofa Bisri
Perkenankanlah aku mencintaimu
seperti ini
tanpa kekecewaan yang berarti
harapan-harapan yang setiap kali
dikecewakan kenyataan
biarlah dibayar oleh harapan-harapan
baru yang menjanjikan
Perkenankanlah aku mencintaimu
semampuku
menyebut-nyebut namamu
dalam kesendirian pun lumayan
berdiri di depan pintumu tanpa harapan
kau membukakannya pun terasa nyaman
sekali-kali membayangkan kau memperhatikanku
pun cukup memuaskan
perkenankanlah aku mencintaimu sebisaku
2000
1 Februari 2007 14:13:59
Oleh: A. Mustofa Bisri
Perkenankanlah aku mencintaimu
seperti ini
tanpa kekecewaan yang berarti
harapan-harapan yang setiap kali
dikecewakan kenyataan
biarlah dibayar oleh harapan-harapan
baru yang menjanjikan
Perkenankanlah aku mencintaimu
semampuku
menyebut-nyebut namamu
dalam kesendirian pun lumayan
berdiri di depan pintumu tanpa harapan
kau membukakannya pun terasa nyaman
sekali-kali membayangkan kau memperhatikanku
pun cukup memuaskan
perkenankanlah aku mencintaimu sebisaku
2000
Untuk: a. mustofa bisri
Kau besarkan sedemikian besarnya dirimu yang begitu kecil hingga kau tak mampu melihat kebesaran sejati. Tak mampu menyebut Allahu Akbar kecuali hanya dengan mulutmu. Cobalah sekali tengok peta alam semesta dan lihatlah betapa kecilnya dirimu yang tinggal di sebutir debu bersama hanya sekian milyar mamalia kerdil. Lihatlah peta dengan skala milyaran ini:
o .
O o O · o • * · . .
. O o * · * o * • o
o O oO. * ..+ oO. * %
. <-----
Disinilah—di titik yang sudah dibesar sekian juta kali--, dititik inilah
kau tinggal (lihat panah!) di antara milyaran planet dan bintang yang pasrah.
o .
O o O · o • * · . .
. O o * · * o * • o
o O oO.
o o o o*o o o o ·
o · ˚ ·
O · o · ·˚ •
o * · * o * · · o ˚ · ˚ · ˚ ˚˚·
O o O • * · O o O . o
o . · . ˚ ˚ · · · ·
O o o * o * . o
· . · ˚ ·
Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!
Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!
Allahu Akbar! Allahu Akbar!
Kau besarkan sedemikian besarnya dirimu yang begitu kecil hingga kau tak mampu melihat kebesaran sejati. Tak mampu menyebut Allahu Akbar kecuali hanya dengan mulutmu. Cobalah sekali tengok peta alam semesta dan lihatlah betapa kecilnya dirimu yang tinggal di sebutir debu bersama hanya sekian milyar mamalia kerdil. Lihatlah peta dengan skala milyaran ini:
o .
O o O · o • * · . .
. O o * · * o * • o
o O oO. * ..+ oO. * %
. <-----
Disinilah—di titik yang sudah dibesar sekian juta kali--, dititik inilah
kau tinggal (lihat panah!) di antara milyaran planet dan bintang yang pasrah.
o .
O o O · o • * · . .
. O o * · * o * • o
o O oO.
o o o o*o o o o ·
o · ˚ ·
O · o · ·˚ •
o * · * o * · · o ˚ · ˚ · ˚ ˚˚·
O o O • * · O o O . o
o . · . ˚ ˚ · · · ·
O o o * o * . o
· . · ˚ ·
Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!
Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!
Allahu Akbar! Allahu Akbar!
Di mana-mana semakin banyak tuhan
Di Irak dan Iran
Di Israel dan Afganistan
Di Libanon dan Nikaragua
Di India dan Srilangka
Di JEpang dan Cina
Di Korea dan Pilipina
Tuhan semakin banyak
Di Amerika dan Rusia
Di Eropa dan Asia
Di Afrika dan Australia
Di NATO dan PAlta Warsawa
Di PBB dan badan-badan dunia
Dimana-mana tuhan, ya Tuhan
Disini pun semua serba tuhan
Disini pun tuhan merajalela
Memenuhi desa dan kota
Mesjid dan gereja
Kuil dan pura
Menggagahi mimbar dan seminar
Kantor dan sanggar
Dewan dan pasar
Mendominasi lalu lintas
Orpol dan ormas
Swasta dan dinas
Ya Tuhan, di sana-sini semua serba tuhan
Pernyataanku pernyataan tuhan!
Kebijaksanaanku kebijaksanaan tuhan!
Keputusanku keputusan tuhan!
Pikiranku pikiran tuhan!
Pendapatku pendapat tuhan!
Tulisanku tulisan tuhan!
Usahaku usaha tuhan!
Khutbahku khutbah tuhan!
Fatwaku fatwa tuhan!
Lembagaku lembaga tuhan
Jama’ahku jamaah tuhan!
Keluargaku keluarga tuhan!
Puisiku puisi tuhan!
Kritikanku kritikan tuhan!
Darahku darah tuhan!
Akuku aku tuhan!
Ya Tuhan!
Di Irak dan Iran
Di Israel dan Afganistan
Di Libanon dan Nikaragua
Di India dan Srilangka
Di JEpang dan Cina
Di Korea dan Pilipina
Tuhan semakin banyak
Di Amerika dan Rusia
Di Eropa dan Asia
Di Afrika dan Australia
Di NATO dan PAlta Warsawa
Di PBB dan badan-badan dunia
Dimana-mana tuhan, ya Tuhan
Disini pun semua serba tuhan
Disini pun tuhan merajalela
Memenuhi desa dan kota
Mesjid dan gereja
Kuil dan pura
Menggagahi mimbar dan seminar
Kantor dan sanggar
Dewan dan pasar
Mendominasi lalu lintas
Orpol dan ormas
Swasta dan dinas
Ya Tuhan, di sana-sini semua serba tuhan
Pernyataanku pernyataan tuhan!
Kebijaksanaanku kebijaksanaan tuhan!
Keputusanku keputusan tuhan!
Pikiranku pikiran tuhan!
Pendapatku pendapat tuhan!
Tulisanku tulisan tuhan!
Usahaku usaha tuhan!
Khutbahku khutbah tuhan!
Fatwaku fatwa tuhan!
Lembagaku lembaga tuhan
Jama’ahku jamaah tuhan!
Keluargaku keluarga tuhan!
Puisiku puisi tuhan!
Kritikanku kritikan tuhan!
Darahku darah tuhan!
Akuku aku tuhan!
Ya Tuhan!
tangis dan khauf telah berlari...
sejauh hati mengajaknya berlari...
sampai kapankah hati akan mengajak?
ketika dosa terus mengejar kegelapan
menuntut lahir
aih...
dosa-dosa ini telah menangkap diri
dalam lembah dan resah
aih dosa telah mencengkram
dengan cakar-cakar kegelapan
tertawa...
terbahak...
menawan tangis dan khauf agar tak pergi
aih...
celaka diri,
tangis dan khauf tak bisa lari
sejauh hati mengajaknya berlari...
sampai kapankah hati akan mengajak?
ketika dosa terus mengejar kegelapan
menuntut lahir
aih...
dosa-dosa ini telah menangkap diri
dalam lembah dan resah
aih dosa telah mencengkram
dengan cakar-cakar kegelapan
tertawa...
terbahak...
menawan tangis dan khauf agar tak pergi
aih...
celaka diri,
tangis dan khauf tak bisa lari
Oleh: A. Mustofa Bisri
Saya pernah diterbangkan takdir melawat ke beberapa negara di Eropa (tahun 1999-2000) dan Jepang (tahun 2004). Salah satu yang menarik perhatian dan mengesankan bagi saya, baik ketika di Eropa maupun di Jepang, adalah pemandangan kota-kotanya yang bersih. Di jalan-jalan, di tempat-tempat umum, saya sama sekali tidak pernah melihat secuil pun sampah berceceran.
Tempat-tempat sampah benar-benar berfungsi. Bahkan, mereka yang berjalan-jalan dengan menuntun anjing, tidak lupa membawa kantong dan air untuk berjaga-jaga kalau-kalau anjing mereka membuang kotoran di jalan, sehingga mereka bisa segera membersihkannya.
Luar biasa. Padahal, saya tidak menjumpai satu pun plakat bertuliskan “Al-Nazhaafatu minal iman”. Saya membandingkan pemandangan itu dengan di negeri sendiri dimana kita bisa menjumpai tulisan hikmah itu lengkap dengan terjemahannya “Kebersihan adalah bagian dari iman” hampir di setiap tempat umum. Namun, sering kali kita justru menyaksikan tumpukan sampah seperti mengejek kata-kata mutiara itu di bawahnya.
Ini boleh jadi merupakan ironi teori dan praktik. Menurut teori, negeri kita yang mayoritas penduduknya beragama Islam, seharusnya adalah negeri yang paling bersih. Lihatlah, pemimpin agung kita, Nabi Muhammad SAW, adalah manusia paling bersih yang menganjurkan dan mencontohkan kebersihan hidup tidak hanya secara batiniah, tapi juga lahiriah. Mereka yang membaca Siirah Rasul SAW, pasti akan dapat menyimpulkan betapa Rasulullah SAW adalah seorang yang sangat bersih dan menyukai kebersihan.
Rasulullah SAW diriwayatkan misalnya, memiliki kulit yang bersih, gigi yang putih berkilauan, dan bau badan yang harum semerbak, dan hampir tidak pernah sakit sepanjang hidupnya. Ajarannya yang paling elementer seperti wudhu, misalnya, jelas sekali betapa kebersihan merupakan sesuatu yang sangat diutamakan dalam Islam. Dalam sebuah Hadits sahih yang sangat popular, Rasulullah SAW bahkan menyatakan, seandainya tidak khawatir akan memberatkan umatnya, pasti akan memerintahkan mereka untuk menggosok gigi setiap akan shalat.
Apabila Anda perhatikan kitab-kitab fikih yang selalu diajarkan di pesantren-pesantren, Anda akan menjumpai bahwa bab awal dari setiap kita itu adalah bab thaharah, sesuci. Biasanya, diawali dengan membicarakan air, dari air yang bersih hingga yang kotor dan najis.
Sayangnya, para santri dan kaum Muslimin umumnya hanya mengaitkan ajaran sesuci ini dengan keabsahan shalat. Ini pun kebanyakan dilihat secara ‘normatif’ saja. Jarang sekali, yang mengaitkan ajaran sesuci ini dengan kebersihan dan kesehatan. Hadits Nabi SAW “Idzaa balaghal maa-u qullatain lam yahmil hubutsan” diartikan bahwa air yang mencapai dua qullah (sekitar 60 cm³) tidak terpengaruh oleh najis. Sehingga, Anda bisa melihat banyak masjid atau dan mushala yang memiliki tempat cuci kaki berupa kolam yang rupanya sudah kehitaman, karena sudah terlalu lama digunakan mencuci kaki.
Di samping itu, pendekatan najis pun seolah-olah tidak ada hubungannya dengan hal-hal lain, seperti penyakit dan kesehatan. Maka, sering terlihat orang-orang berwudhu langsung mencelupkan tangan-tangan mereka ke bak atau kulah (diambil dari qullah), bahkan berkumur yang air kumurannya dikembalikan ke bak atau kulah itu. Dasar pemikirannya mungkin, bak itu isinya air yang lebih dari 2 qullah; lagi pula air ludah itu tidak najis.
Ini agak aneh, bila kita ingat bahwa kalangan santri juga akrab dengan maqalah: “Al’aqlu al-saliim f al-ljismi al-saliim”, akal yang sehat terletak pada jasad yang sehat. Dan kebersihan tak perlu lagi diterangkan pentingnya bagi penjagaan kesehatan.
Waba’du, untuk membudayakan hidup bersih, lahir batin, kiranya kita perlu terus-menerus menghadirkan pribadi Rasulullah SAW secara utuh. Tidak hanya dalam wacana madah dan bershalawat di peringatan-peringatan maulidiyah, tapi juga dalam upaya peneladanan sehari-hari. (Dapatkan versi cetaknya dalam Majalah MataAir Edisi 12 yang terbit Mei 2008)
Saya pernah diterbangkan takdir melawat ke beberapa negara di Eropa (tahun 1999-2000) dan Jepang (tahun 2004). Salah satu yang menarik perhatian dan mengesankan bagi saya, baik ketika di Eropa maupun di Jepang, adalah pemandangan kota-kotanya yang bersih. Di jalan-jalan, di tempat-tempat umum, saya sama sekali tidak pernah melihat secuil pun sampah berceceran.
Tempat-tempat sampah benar-benar berfungsi. Bahkan, mereka yang berjalan-jalan dengan menuntun anjing, tidak lupa membawa kantong dan air untuk berjaga-jaga kalau-kalau anjing mereka membuang kotoran di jalan, sehingga mereka bisa segera membersihkannya.
Luar biasa. Padahal, saya tidak menjumpai satu pun plakat bertuliskan “Al-Nazhaafatu minal iman”. Saya membandingkan pemandangan itu dengan di negeri sendiri dimana kita bisa menjumpai tulisan hikmah itu lengkap dengan terjemahannya “Kebersihan adalah bagian dari iman” hampir di setiap tempat umum. Namun, sering kali kita justru menyaksikan tumpukan sampah seperti mengejek kata-kata mutiara itu di bawahnya.
Ini boleh jadi merupakan ironi teori dan praktik. Menurut teori, negeri kita yang mayoritas penduduknya beragama Islam, seharusnya adalah negeri yang paling bersih. Lihatlah, pemimpin agung kita, Nabi Muhammad SAW, adalah manusia paling bersih yang menganjurkan dan mencontohkan kebersihan hidup tidak hanya secara batiniah, tapi juga lahiriah. Mereka yang membaca Siirah Rasul SAW, pasti akan dapat menyimpulkan betapa Rasulullah SAW adalah seorang yang sangat bersih dan menyukai kebersihan.
Rasulullah SAW diriwayatkan misalnya, memiliki kulit yang bersih, gigi yang putih berkilauan, dan bau badan yang harum semerbak, dan hampir tidak pernah sakit sepanjang hidupnya. Ajarannya yang paling elementer seperti wudhu, misalnya, jelas sekali betapa kebersihan merupakan sesuatu yang sangat diutamakan dalam Islam. Dalam sebuah Hadits sahih yang sangat popular, Rasulullah SAW bahkan menyatakan, seandainya tidak khawatir akan memberatkan umatnya, pasti akan memerintahkan mereka untuk menggosok gigi setiap akan shalat.
Apabila Anda perhatikan kitab-kitab fikih yang selalu diajarkan di pesantren-pesantren, Anda akan menjumpai bahwa bab awal dari setiap kita itu adalah bab thaharah, sesuci. Biasanya, diawali dengan membicarakan air, dari air yang bersih hingga yang kotor dan najis.
Sayangnya, para santri dan kaum Muslimin umumnya hanya mengaitkan ajaran sesuci ini dengan keabsahan shalat. Ini pun kebanyakan dilihat secara ‘normatif’ saja. Jarang sekali, yang mengaitkan ajaran sesuci ini dengan kebersihan dan kesehatan. Hadits Nabi SAW “Idzaa balaghal maa-u qullatain lam yahmil hubutsan” diartikan bahwa air yang mencapai dua qullah (sekitar 60 cm³) tidak terpengaruh oleh najis. Sehingga, Anda bisa melihat banyak masjid atau dan mushala yang memiliki tempat cuci kaki berupa kolam yang rupanya sudah kehitaman, karena sudah terlalu lama digunakan mencuci kaki.
Di samping itu, pendekatan najis pun seolah-olah tidak ada hubungannya dengan hal-hal lain, seperti penyakit dan kesehatan. Maka, sering terlihat orang-orang berwudhu langsung mencelupkan tangan-tangan mereka ke bak atau kulah (diambil dari qullah), bahkan berkumur yang air kumurannya dikembalikan ke bak atau kulah itu. Dasar pemikirannya mungkin, bak itu isinya air yang lebih dari 2 qullah; lagi pula air ludah itu tidak najis.
Ini agak aneh, bila kita ingat bahwa kalangan santri juga akrab dengan maqalah: “Al’aqlu al-saliim f al-ljismi al-saliim”, akal yang sehat terletak pada jasad yang sehat. Dan kebersihan tak perlu lagi diterangkan pentingnya bagi penjagaan kesehatan.
Waba’du, untuk membudayakan hidup bersih, lahir batin, kiranya kita perlu terus-menerus menghadirkan pribadi Rasulullah SAW secara utuh. Tidak hanya dalam wacana madah dan bershalawat di peringatan-peringatan maulidiyah, tapi juga dalam upaya peneladanan sehari-hari. (Dapatkan versi cetaknya dalam Majalah MataAir Edisi 12 yang terbit Mei 2008)
Nabi Muhammad SAW Anda anggap pemimpin apa saja, pemimpin formal kah; pemimpin non formal; pemimpin agama; pemimpin masyarakat; atau pemimpin Negara, Anda akan sulit membayangkannya bercanda di pasar dengan salah seorang rakyatnya seperti kisah yang saya tuturkan (berdasarkan beberapa kitab hadis dan kitab biografi para sahabat, Asad al-ghaabah- nya Ibn al-Atsier ) di atas.
Tapi itulah pemimpin agung, Uswah hasanah kita Nabi Muhammad SAW. Dari kisah di atas, Anda tentu bisa merasakan betapa bahagianya Zahir Ibn Haram. Seorang dusun, rakyat jelata, mendapat perlakuan yang begitu istimewa dari pemimpinnya. Lalu apakah kemudian Anda bisa mengukur kecintaan si rakyat itu kepada sang pemimpinnya? Bagaimana seandainya Anda seorang santri dan mendapat perlakuan demikian akrab dari kiai Anda? Atau Anda seorang anggota partai dan mendapat perlakuan demikian dari pimpinan partai Anda? Atau seandainya Anda rakyat biasa dan diperlakukan demikian oleh --tidak usah terlalu jauh: gubernur atau presiden—bupati Anda?
Anda mungkin akan merasakan kebahagiaan yang tiada taranya; mungkin kebahagiaan bercampur bangga; dan pasti Anda akan semakin mencintai pemimpin Anda itu.
Sekarang pengandaianya dibalik: seandainya Anda kiai atau, pimpinan partai, atau bupati; apakah Anda ‘sampai hati’ bercanda dengan santri atau bawahan Anda seperti yang dilakukan oleh panutan agung Anda, Rasulullah SAW itu?
Boleh jadi kesulitan utama yang dialami umumnya pemimpin, ialah mempertahankan kemanusiaanya dan pandangannya terhadap manusia yang lain. Biasanya, karena selalu dihormati sebagai pemimpin, orang pun menganggap ataukah dirinya tidak lagi sebagai manusia biasa, atau orang lain sebagai tidak begitu manusia
Tapi itulah pemimpin agung, Uswah hasanah kita Nabi Muhammad SAW. Dari kisah di atas, Anda tentu bisa merasakan betapa bahagianya Zahir Ibn Haram. Seorang dusun, rakyat jelata, mendapat perlakuan yang begitu istimewa dari pemimpinnya. Lalu apakah kemudian Anda bisa mengukur kecintaan si rakyat itu kepada sang pemimpinnya? Bagaimana seandainya Anda seorang santri dan mendapat perlakuan demikian akrab dari kiai Anda? Atau Anda seorang anggota partai dan mendapat perlakuan demikian dari pimpinan partai Anda? Atau seandainya Anda rakyat biasa dan diperlakukan demikian oleh --tidak usah terlalu jauh: gubernur atau presiden—bupati Anda?
Anda mungkin akan merasakan kebahagiaan yang tiada taranya; mungkin kebahagiaan bercampur bangga; dan pasti Anda akan semakin mencintai pemimpin Anda itu.
Sekarang pengandaianya dibalik: seandainya Anda kiai atau, pimpinan partai, atau bupati; apakah Anda ‘sampai hati’ bercanda dengan santri atau bawahan Anda seperti yang dilakukan oleh panutan agung Anda, Rasulullah SAW itu?
Boleh jadi kesulitan utama yang dialami umumnya pemimpin, ialah mempertahankan kemanusiaanya dan pandangannya terhadap manusia yang lain. Biasanya, karena selalu dihormati sebagai pemimpin, orang pun menganggap ataukah dirinya tidak lagi sebagai manusia biasa, atau orang lain sebagai tidak begitu manusia
Senin, 21 April 2008
Minggu, 20 April 2008
A look into Islamic beliefs from the Quran and the Sunnah. if you're sick of all the lies spreading around about Islam.. the Islam that you know you weren't raised with. then just send the hater this link.
Quran 13:11 says: Verily, God does not change men's condition unless they change their inner selves...
***It's time for a change!***
Translation of Nasheed
YA ADHEEMAN (Oh Most Magnificent!)
My soul is brightened by a light in my heart
When I praised God of mankind
And my soul is cheered up and the tears were flowing
Oh God! guide my heart to reason
In the tranquility of the night I pray during worshiping
While the black darkness is all around me
Oh Most Kind! Oh Most Merciful! Oh Most Forbearing!
Oh Most Kind! Your gifts are endless
Oh All-Hearing! Oh Answerer! Oh Most Magnificent!
Oh Creator of the strong predatory animals! Guide me
Guide me to truth, God
I depend on your guidance today
Oh God of the universe! You are my aid
You are the refuge of man in the afterworld
Here I am God, asking your forgiveness
Forgive me and grant me my wish
Quran 13:11 says: Verily, God does not change men's condition unless they change their inner selves...
***It's time for a change!***
Translation of Nasheed
YA ADHEEMAN (Oh Most Magnificent!)
My soul is brightened by a light in my heart
When I praised God of mankind
And my soul is cheered up and the tears were flowing
Oh God! guide my heart to reason
In the tranquility of the night I pray during worshiping
While the black darkness is all around me
Oh Most Kind! Oh Most Merciful! Oh Most Forbearing!
Oh Most Kind! Your gifts are endless
Oh All-Hearing! Oh Answerer! Oh Most Magnificent!
Oh Creator of the strong predatory animals! Guide me
Guide me to truth, God
I depend on your guidance today
Oh God of the universe! You are my aid
You are the refuge of man in the afterworld
Here I am God, asking your forgiveness
Forgive me and grant me my wish
To all you muslims out there.
Please seriously think about if you still like to belong to a socalled religion that preaches things like, endorce murder on innocent and not ony talk about it but actually do kill women and children int the thousands on purpose in the name of allah.
Demand religous power over all people no matter faith and calls for killings of infidels, jews. And so the jihadi did !
Please do humanity a huge favour and convert to whatever other religion or become atheist
Please seriously think about if you still like to belong to a socalled religion that preaches things like, endorce murder on innocent and not ony talk about it but actually do kill women and children int the thousands on purpose in the name of allah.
Demand religous power over all people no matter faith and calls for killings of infidels, jews. And so the jihadi did !
Please do humanity a huge favour and convert to whatever other religion or become atheist
Jumat, 18 April 2008
Tetapi Mohd. Shukri Hadafi hilang ditelan masa. Seolah-oleh tiada esok baginya (tajuk filem lain oleh Jins Shamsuddin pada 1979) dan tiba-tiba kita dikejutkan dengan berita pada akhir 90´an bahawa beliau bekerja sebagai penebar roti canai! Ada cerita yang memberitahu beliau menjual kelapa di Padang Terap, malah yang tidak enaknya ialah kisah beliau menjadi penagih dadah.
Anak angkat Prof. Diraja Ungku Aziz ini terbuang dari kelebihan yang pernah menjadikannya begitu terkenal di seluruh negara. Di mana silapnya?
ADI PUTRA
Ingatan kita kepada kanak-kanak pintar seperti Mohd. Shukri Hadafi kembali menghiasi muka depan akhbar Malaysia, apabila Adi Putra Abdul Ghani muncul dengan kelebihan luar biasanya di dalam Matematik.
Keupayaannya yang mengatasi tahap pelajar universiti di bidang itu, sejak awal-awal lagi telah mengheret Adi Putra ke pelbagai konflik. Dari sekolahnya di Sekolah Kebangsaan Matang Buluh, Bagan Serai, perjalanan penuh liku untuk mencari program yang sesuai dengan beliau berterusan ke International Islamic School di Gombak. UNISEL juga tidak pasti dengan perjalanan beliau, dan saya berdoa agar kelebihan yang ada pada adik Adi, tidak menjadi 'sumpah' ke atasnya sebagaimana Mohd. Shukri Hadafi 3 dekad yang lalu.
svchan_wideweb__470×3160.jpg
It figures: after completing year 12 subjects at 10, mathematician Yao-ban Chan has now become Melbourne University's youngest-ever PhD graduate. Photo: Craig Abraham
Bertuahnya Chan Yao-ban, seorang lagi anak kecil istimewa kelahiran Malaysia. Beliau yang kini menjadi pemegang PhD termuda dari Universiti Melbourne. Di usia 21 tahun, Chan Yao-ban telah menjadi salah seorang tenaga pengkaji penting di Universiti Melbourne, mengendalikan projek kajian metod statistik bagi mengenalpasti anomaliti protein di dalam otak untuk mendiagnos schizophrenia dan bipolar disorder.
Biar pun lahir di Malaysia, Chan Yao-ban telah dibesarkan di New Zealand. Beliau melalui proses home schooling oleh ibunya, seorang Mikrobiologist dan ayahnya, pengarah di sebuah syarikat industri makanan terkemuka, Heinz.
Chan Yao-ban telah bertemu dengan `perjuangan' yang bakal memanfaatkan kelebihannya.
Apakah seseorang itu perlu `melarikan diri' dari Malaysia, demi mencari program yang boleh menyokong kanak-kanak genius seperti Chan Yao-ban , Adi Putra dan Mohd. Shukri Hadafi? Mengapa kita masih tidak tentu arah dalam menentukan jalan yang betul untuk Adi Putra? Tidakkah kita belajar sesuatu daripada apa yang berlaku ke atas Mohd. Shukri Hadafi, juga tercabar oleh kejayaan Chan Yao-ban ?
SUFIAH YUSOF
_820888_family300.jpg
Soalan ini menjadi lebih meruncing dengan kegemparan kita terhadap seorang lagi anak Malaysia yang genius, Sufiah Yusof.
Beribukan Halimahton dari Muar dan bapanya, Yusuf, berasal dari Pakistan, Sufiah Yusuf mencipta sejarahnya yang tersendiri apabila beliau diterima masuk ke pengajian di Universiti Oxford pada usia 13 tahun. Namun pada usia 15 tahun, Sufiah telah menghilangkan diri dari kampus hingga kemudiannya ditemui di Bournemouth, bekerja di sebuah hotel di sana.
Enggan pulang kepada keluarga, yang disifatkannya seperti hidup dalam neraka, Sufiah diletakkan di bawah jagaan sebuah pertubuhan sosial untuk kembali penyambung pengajian sarjananya di Oxford. Hidup Sufiah terus dilambung ombak, apabila perkahwinannya pada usia 19 tahun dengan Jonathan Marshall, runtuh hanya kira-kira setahun selepas diijabkabulkan.
Beberapa bulan yang lalu, ingatan kita kepada Sufiah Yusuf dikejutkan dengan berita buruk apabila bapanya ditangkap atas dakwaan mencabuli dua kanak-kanak berusia 15 tahun yang mengikuti kelas tusyen accelerated learing kendaliannya.
Dan segala-galanya mencapai kemuncak, apabila wartawan akhbar [1] News of the World, berjaya mengesan Sufiah Yusuf, yang terhumban ke lembah hitam dengan nama samarannya Shilpa Lee, sebagai pelacur di Manchester dengan bayaran £130!
Sufiah Yusuf yang begitu sopan, tertib dan berada di dalam segala kurniaan ketika di awal usianya di St. Hilda's College yang berprestij itu, menempuh kehidupan yang tidak menentu hingga berakhir dengan sesuatu yang tidak terbayangkan fikiran kita mengenainya. Seorang lagi kanak-kanak genius (muslim? melayu?) menjadi `mangsa'.
Apakah semua ini?
JOHN NASH
225px-john_f_nash_20061102_3.jpg
Masih ingatkah kita kepada [2] John Forbes Nash? Penerima anugerah Nobel bagi kehebatan Matematiknya di Universiti Princeton ini, menempuh dekad-dekad yang penuh liku akibat masalah schizophrenia yang mengongkong kehidupannya. Ia adalah suatu contoh yang amat besar tentang perlunya suatu pendekatan di luar kotak, untuk menampung kegeniusan seorang seperti John Forbes Nash ini. Anda boleh mendalami kisah mengenai Nash dengan menonton filem favourite saya, A Beautiful Mind.
200px-abeautifulmindposter.jpg
Pencapaian IQ yang luar biasa sememangnya lazim terkait dengan ketidak sihatan mental. Hal ini diperkatakan oleh Daniel Martin di dalam [3] artikelnya yang tersiar di Daily Mail bertarikh 11 Februari 2007.
Katanya,
More than half a million people in the UK are believed to suffer from a form of the condition, which causes disordered ideas, beliefs and experiences. The most common ages for it to develop are 15-25 in men and 25-35 in women.
Kerana itu, saya sering khuatir dengan anak-anak muda yang memiliki idea yang hebat, tetapi memiliki ketidak seimbangan sikap yang sesuai dengan kehebatan itu. Teringat saya kepada sebuah ceramah berkaitan masalah ini yang disampaikan di HUKM tidak lama dulu. Penceramah itu memberitahu bahawa statistik menunjukkan, di mana-mana sahaja bilik atau dewan tempat manusia berkumpul, maka 1/4 daripadanya mempunyai masalah berkaitan mental!
n_03chiang.jpg
Saya masih ingat kepada seorang lagi kanak-kanak genius, Chiang Ti Ming, yang telah menempuh episod hidup yang luar biasa. Menjadi pelajar termuda di California Institute of Technology (CalTech) lebih dua dekad yang lalu, Chiang Ti Ming telah meninggal dunia pada awal Januari 2007 di Seremban, selepas khabarnya mengalami tekanan perasaan yang amat teruk hingga dimasukkan ke HKL pada tahun 2002.
PENGAJARAN
Semua ini harus menjadi pengajaran buat kita.
Pengajaran buat kerajaan untuk memikirkan tanggungjawabnya terhadap pendidikan. Atau mungkinkah segala ini membuktikan bahawa kerajaan sepatutnya tidak campur tangan dalam soal pendidikan sebagaimana yang terakam dalam sejarah tamadun Islam yang panjang itu?
Sejarah Islam merakam ramai tokoh yang genius di zaman kanak-kanaknya. Figura seperti al-Syafie, al-Ghazzali, al-Nawawi, malah tokoh lewat era Moden seperti Muhammad Abduh dan Badi' al-Zaman Said al-Nursi, telah mempamerkan ketokohan mereka semenjak di usia kecil.
Apakah rahsia mereka?
Saya fikir, persoalan ini memerlukan kepada kajian yang mendalam. Namun, sepintas lalu kita akan dapat melihat bahawa tokoh-tokoh ini mendapat pendidikan awal mereka dari sentuhan ibu bapa. Proses pendidikan juga tidak berlaku di sekolah-sekolah rasmi milik pemerintah, sebaliknya setiap mereka dibesarkan dengan model pendidikan yang tersendiri lagi khusus. Malah di era Moden, tokoh seperti al-Tahtawi dan Muhammad Abduh berdepan dengan krisis diri semasa bersekolah di sekolah kerajaan, sehinggalah mereka melarikan diri dan mencari model sendiri yang lebih responsif kepada keperluan mereka dan keperluan semasa.
BUAT PENDAKWAH
b0111.jpg
Pengajaran juga buat para pandakwah. Bahawa usaha memahami masalah manusia bukannya seperti kelakuan pembaris yang hanya tahu melukis lurus.
Rayau-rayau saya di laman sesawang, menemukan saya dengan komen-komen mudah ramai pihak yang secara simplistik menyalahkan Sufiah dengan alasan genius beliau hanya pada IQ dan tetapi lemah spiritual. Tentu sahaja saya tidak menolak [4] peranan spiritual dan hubungkaitnya dengan depression. Tetapi menyarankan secara mudah bahawa agama sebagai penyelesaian, harus lebih diperincikan lagi.
Perlu diingat bahawa antara simptom masalah mental berkaitan depression lazim terkait pula dengan obsesi seseorang kepada agama!
Malah mungkin sisi ini diperlukan untuk kita menilai semula beberapa perlakuan ganjil genius Muslim di dalam sejarah untuk menjustifikasikan perihal yang berlaku ke atas mereka.
Apabila kegagalan hidup berlaku ke atas sesetengah manusia, apatah lagi insan genius seperti Mohd. Shukri Hadafi, Sufiah Yusof malah John Nash dan Chiang Ti Ming, jangan terlalu dangkal memberikan alasan `lemah didikan agama' atau `hidup tidak mengikut sunnah'.
Sesungguhnya agama mengajar manusia untuk lebih bertadabbur dan bertafakkur tentang peranannya sebagai khalifah, pentadbir alam, bahawa manusia itu sangat seni kehidupannya. Ketelitian dalam mencari jalan mengacu dan membentuk manusia, adalah syarat survival ummah. Keperluan melihat aspek psikologi manusia, harus dilihat sebagai sebahagian daripada tuntutan agama itu sendiri.
adiputra.jpg
Saya mengangkat tangan memohon doa untuk masa depan yang lebih baik untuk adik Adi Putra yang sedang menyusuri jalan yang penuh liku itu.
ABU SAIF @ www.saifulislam. com
56000 Kuala Lumpur
Semuga misi menyelamatkan Sufiah berjaya.
Semuga ALLAH mempermudahkan urusan.
Sufiah mangsa agenda Barat?
Tindakan Jabatan Perdana Menteri dan Yadim untuk menghantar misi khas menyelamatkan wanita genius itu sangat dialu-alukan sebagai tanda prihatin dan sensitiviti kita terhadap umat Islam lain biarpun masih ramai remaja dan gadis Islam tempatan yang perlu diselamatkan.
Kata-kata atau pandangan seperti membazirkan duit rakyat, menyibuk, pilih kasih dan sebagainya terhadap misi murni itu adalah amat dangkal serta tidak mencerminkan sifat umat Islam sebenar.
KETIKA umat Islam di seluruh dunia digemparkan dengan filem pendek Fitna di Belanda yang cuba memburuk-burukkan imej dan wajah sebenar Islam, dalam tempoh sama pula kita dikejutkan dengan perlakuan tidak bermoral seorang wanita genius Islam yang meletakkan Islam dan umatnya berada dalam dilema fitnah masyarakat dunia.
Sepuluh tahun lalu, Sufiah Yusuf pernah menggemparkan dunia apabila menjadi kanak-kanak Islam berjaya memasuki sebuah universiti ternama di Britain iaitu Oxford ketika berumur 13 tahun.
Hari ini dia sekali lagi menggegarkan masyarakat dunia apabila dengan bangga menawarkan khidmat seks kepada orang ramai, terutama melalui laman web.
Walaupun perbuatan tidak berakhlak itu bukan sesuatu yang luar biasa di United Kingdom (UK), namun dengan statusnya sebagai seorang genius Islam, laporan perlakuan sumbangnya kini dibincang dan diperdebatkan di seluruh dunia.
Apatah lagi dia mempunyai pertalian rapat dengan Malaysia kerana ibunya berasal dari negara ini.
Keadaan itu membuka peluang media Barat di seluruh dunia mengambil kesempatan semaksimum mungkin mengenai isu serta polemik sensasi itu untuk mencemarkan Islam dan umatnya.
Perubahan sikap dan sifat Sufiah yang sangat mengejutkan itu menjadikan ramai tersentak membaca kisah hidupnya menjadi pelacur dan hidup dalam keadaan sangat menyayat hati di lembah kehinaan.
Ramai bingung dan bimbang dengan perkembangan yang sedang terjadi kepada wanita yang mempunyai IQ pintar yang menakjubkan itu.
Dia mungkin menjadi mangsa ibu bapa yang terlalu menekan dan mengejar kecemerlangan anak dalam akademik tanpa memikirkan aspek kerohanian dan didikan agama.
Kemungkinan juga menjadi mangsa keadaan apabila terpaksa menjadi manusia cemerlang dan berjaya di universiti seawal usia 13 tahun berbanding rakan yang masih bergembira di sekolah menengah.
Sejak kecil Sufiah tidak pernah memasuki sekolah, sebaliknya hanya menerima pendidikan di rumah daripada ibu bapanya hingga menjejakkan kaki ke menara gading.
Jadi untuk menyalahkan sistem dan keberkesanan pendidikan di UK adalah meleset. Dan atas alasan apakah Sufiah bertindak sedemikian, sangat menimbulkan tanda tanya.
Jika hendak dikatakan masih mentah dan tidak matang, dia pernah berkahwin dan sempat menikmati kehidupan berkeluarga selama hampir setahun sebelum bercerai.
Pada usianya kini, kita tidak boleh menyalahkan sesiapa melainkan dirinya sendiri.
Sepatutnya dengan kecerdasan akal yang hebat, Sufiah sepatutnya kaya, popular dan ternama serta dapat menyumbangkan kepakarannya kepada umat Islam supaya masyarakat bukan Islam melihat kehebatan agama ini.
Sebaliknya, kini tubuhnya dilanggani menyebabkan beban serta masalah tersebut terpaksa ditanggung umat Islam.
Inilah jadinya apabila kecerdikan yang dimiliki tidak dihargai dan disalahgunakan.
Inilah juga jadinya apabila nafsu sudah bertakhta di hati dan terlalu menurut perasaan yang buruk.
Dulu guru mengimpikan pelajar mereka setanding Sufiah dan ibu bapa juga sanggup bekerja keras untuk memberikan pendidikan sempurna agar anak dapat menjejaki wanita genius itu.
Dia umpama model dan ikon remaja pintar suatu ketika dahulu.
Sufiah pencetus fenomena sehingga kerajaan Malaysia turut menawarkan cadangan untuk menaja kos pembelajaran beliau hingga ke peringkat paling tinggi.
Kini mungkin ramai akan berfikir dua kali dan terpaksa mempertimbangkan sama ada berbaloi memiliki anak genius.
Biarpun begitu, adalah tidak adil ketika Sufiah berada di puncak kejayaan dan kegemilangan, semua berbangga dan mendabik dada dengan kejayaan yang diciptanya.
Dia diangkat sebagai contoh Melayu terbaik di perantauan dan gadis Islam yang berjaya menaikkan imej agama di mata Barat.
Apabila dia kini tersesat, keliru dan berada di persimpangan hidup, kita mencerca dan menghukumnya tanpa meneliti masalah serta realiti yang dihadapinya.
Sufiah mungkin sedang dipergunakan pihak tidak bertanggungjawab atau sedang berhadapan dengan konflik dan masalah jiwa yang serius hingga sanggup melacurkan diri.
Ataupun, ia mungkin permainan jahat dan kotor yang cuba dimainkan media Barat atau propaganda yang sengaja diada-adakan untuk mencemarkan Islam.
Dalam keadaan dunia Islam sentiasa difitnah dan diburuk-burukkan, tidak mustahil juga isu Sufiah adalah taktik dan agenda terancang musuh Islam untuk menjatuhkan agama suci ini.
Apapun, hanya Sufiah yang boleh memberitahu perkara sebenar dan apa yang terjadi kepada dirinya.
Hingga kini usaha mencari dan menyelamatkannya sedang dilakukan.
Modal insan cukup berpotensi seperti Sufiah tidak boleh dibiarkan begitu sahaja kerana dia turut membawa imej Islam dan orang Melayu.
Semua pihak perlu bekerjasama menyelamatkannya untuk mengelakkan dia jauh tersasar, menyimpang dan boleh memusnahkan diri.
Tindakan Jabatan Perdana Menteri dan Yadim untuk menghantar misi khas menyelamatkan wanita genius itu sangat dialu-alukan sebagai tanda prihatin dan sensitiviti kita terhadap umat Islam lain biarpun masih ramai remaja dan gadis Islam tempatan yang perlu diselamatkan.
Kata-kata atau pandangan seperti membazirkan duit rakyat, menyibuk, pilih kasih dan sebagainya terhadap misi murni itu adalah amat dangkal serta tidak mencerminkan sifat umat Islam sebenar.
Sufiah masih boleh diselamatkan jika semua pihak berusaha memulih, mendoakan dan menasihatinya memandangkan jika gagal, dunia akan melihat betapa hodohnya umat Islam hari ini walaupun memiliki otak bergeliga.
Kisah Sufiah wajar menjadi iktibar kepada semua agar apa yang berlaku kepada diri dan keluarganya tidak berlaku kepada orang lain.
Sticky: Getting the latest news
April 9th, 2008
As we’ve said a few times now, most of the news in the mainstream press regarding the Yusof family and Sufiah’s childhood is inaccurate, because the editors tend to filter everything we say even when we do agree to do interviews.
If you’d like to know what’s really happening, though, this site is the place to go; we’ll try to update it as often as possible so that everyone stays informed. We’d also like to ask that you spread the word about hyusof.com whenever Sufiah or the family are under discussion online or elsewhere, because it’s good if people know the real facts!
The easiest way to stay up to date with all the latest news is through our newsletter. It’ll include all the news updates posted here, and occasionally Halimahton will write a little about her easy-to-use teaching methods. Sign up here.
FAQs
April 10th, 2008
Some people have commented that the Corrections of Misconceptions post is a little hard to read. They’re quite right, so here’s a short FAQ that hopefully will be easier to understand. It’s still worth reading the other post, though, because it goes into more detail in some areas.
We’d also like to thank everyone who has shown their support and understanding thus far. Keluaga kami ingin mengucapkan ribuan terima kasih kepada semua masyarakat Malaysia diatas sokongan, fahaman dan segala nasihat yang bermanfaat.
Added a gallery
April 9th, 2008
The site was looking a little bland, so we added a gallery to liven things up a little. At the moment they’re just random family pictures, but they do give some idea as to how things were when the Yusof children were young.
Corrections of Misconceptions
April 8th, 2008
Much has been written in the press about Sufiah’s current occupation, but to be perfectly frank, the vast majority of news articles out there are completely misleading on a number of crucial points regarding the family history. Sadly, it seems that most journalists would rather entertain their readers than focus on writing factually accurate articles; it’s not entirely their fault, though, as Farooq often talked nonsense to journalists and sometimes seemed to be actively trying to cultivate the appearance of eccentricity. Most of the family were embarrassed whenever he gave an interview to the press. In any case, let’s clear up some of those inaccuracies right now.
Misconception 1: All the Yusof children were taught via Farooq’s “accelerated learning methods” — a tortuous regime involving studying in the freezing cold, punishments for answering questions incorrectly, and “stretching and breathing exercises”.
Actually, Farooq wasn’t even responsible for the majority of the teaching! For most of the Yusof children’s early life, Halimahton was practically a single parent as Farooq was in prison (having been convicted of mortgage fraud) or on the run for six years — he only returned to the household when Iskander, the youngest at the time, was seven years old. By this stage, the Yusof children were already prodigies and were also anything from three to seven years ahead in most academic subjects, in spite of the fact that they spent most of their time engaged in less bookish activities (such as tennis or playing with other children).
So who really taught the Yusof children? Why, Halimahton of course! That said, she never intended to “create prodigies”, hothouse/homeschool her children, or in fact do anything other than bring up her children as well as she could under difficult circumstances. But even though she was on her own, Halimahton had a unique skillset that made her ideally suited to the role of caregiver, teacher, and provider for four young children. She quickly recognised that all babies are naturally curious and enthusiastic about learning, so it made perfect sense to not waste the early years of a child’s life by failing to give them any mental stimulation. And in a nutshell, this is why all the Yusof children became prodigies — Halimahton was able to develop a special bond with each of her children that made it very easy for them to learn from her.
Eventually, when Zuleikha was born, Halimahton realised that she had developed something resembling a “method” without really meaning to, but rather than being comprised of a strict set of rules, her techniques were flexible and varied depending on the personality, interests, and mood of the child. She didn’t call it an “accelerated learning method” because she believed it was foolhardy to try to teach a child faster than they were already willing to learn, and there is considerable evidence to suggest that in the long run this only hinders a person’s memory and understanding. In fact, Halimahton wouldn’t even try to teach any of her children unless they were in a good mood and interested in what she had to say, because she felt it was important that her children associate the act of learning with pleasant emotions.
The real teacher
The end result was that by the time the Yusof children were old enough for school, they were already many years ahead of their peers, but like most parents Halimahton decided to enroll them at the local Northampton school anyway — she had no intention of trying to homeschool her kids. Unfortunately, at that point in time (around 1989) most UK schools made absolutely no serious provision for highly able students who were so far ahead. While the school did make an effort to provide resources so that the Yusof children could keep themselves occupied, all that happened in practice was that they were left to study on their own and Halimahton invariably needed to supplement their schoolwork at home. In the end, Sufiah said that she no longer wanted to go to school and wanted her mother to teach her at home; Halimahton was dubious, as she was a single parent with limited finances and she knew that homeschooling would require a substantial commitment of time and effort. But after a long discussion with all her children, it became clear that they were all adamant about the fact that they would rather learn at home, and Halimahton enjoyed teaching (and learning with!) her kids so much that she eventually agreed.
After the first day at school
After this decision was made, Halimahton resumed teaching her children; essentially, she just taught them according to her own comprehensive curriculum at whatever rate at which the children wanted to learn. There was never any need to try to get them to learn particularly quickly, as they were already many years ahead. All the “prodigy stuff” had been done in the first five years — the kids just worked for one or two hours per day, and that was it as far as formal schoolwork was concerned.
Unfortunately, everything changed when Farooq returned home in 1993. The children were initially very enthusiastic about his returning home — aside from just being happy to see him, they all wanted to show him what they were capable of. Halimahton had considered divorcing him, but her children’s excitement about their dad being back home made her feel that it was not worth proceeding with a messy divorce, as long as he learnt from his mistakes and avoided any criminal activities in the future. But things quickly took a turn for the worse. Farooq’s conviction made it difficult for him to find a job, so he decided to stay at home to “help” Halimahton raise the kids, and this was the beginning of all the problems.
Things weren\'t always bad with Farooq around
Farooq’s ego proved to be the biggest problem — he believed himself to be more intelligent and knowledgeable than his wife, so he took over the children’s tennis coaching from her (but their academic work continued as normal). Unlike Halimahton, Farooq knew nothing about how to relate to children and he frequently grew impatient because he could not get them to do what he wanted them to do; the public nature of tennis would also often hurt his pride, as he would feel personally embarrassed whenever they didn’t perform. This would lead to outbursts on the tennis court where he would shout at the children and occasionally smack them. Again, Halimahton considered divorce but because of her precarious financial situation and the fact that she was pregnant with Zuleikha, she decided to try reasoning with him instead to persuade him that his behaviour was wrong. In retrospect, this was clearly a bad decision but at the time it seemed like divorce would only have lead to extreme hardship and an uncertain future.
The kids were mostly independent while studying for their exams
While Farooq was coaching the children in tennis, their academic work was still progressing (independently and with Halimahton) and eventually they were ready to start working on their A-levels (apart from Iskander, who was much younger than the others and preferred to study for his GCSEs with his mother). Most of the childrens’ A-level work was undertaken independently; Farooq did not spend much time teaching them except when their exams were near. He was just as bad at teaching maths as he was at tennis coaching, and his inability to relate the material to his children caused the same kinds of outbursts as on the tennis court. Fortunately, the work Halimahton had done with the children previously had given them the ability to work very effectively on their own, so in spite of Farooq’s poor behaviour they still performed very well in their A-levels.
In summary, Farooq contributed very little to the children’s education and academic achievements before university — probably about 75% of their education was with Halimahton when they were still young, and the rest was due to their own independent work. Without him, the Yusof children would have done things just as early but without any of the scandals that he so often created for himself.
Misconception 2: The Yusof children only became prodigies because they were forced to work unreasonably hard and/or were homeschooled.
False. Halimahton never worked with them for two hours per day, and during their A-levels the kids studied as much or as little as they wanted to.
As explained above, the children were only homeschooled because they were already prodigies by the time they enrolled at their local school and it was unable to provide for them. Today, though it depends to a certain extent on the area, many good schools are better-equipped to handle such highly able children.
The children were not born prodigies, but Halimahton’s ability to figure out lots of ways to stimulate and encourage their natural love of learning helped them achieve the potential that she believes is innate in every child.
Sufiah working hard
Misconception 3: TV and pop music were banned in the household.
This isn’t even remotely true. All the children regularly watched many TV series like Fawlty Towers, the X-Files, and Star Trek, in addition to the usual movies, sports, and so on. Their tastes have changed a lot since then, though!
Pop music certainly wasn’t banned either — everyone in the family likes music and it was common to hear anything from rap to classical all over the household. Halimahton actually considers music, singing and dancing (not to mention acting) to be an excellent way to relate things to young children.
See the radio in the background?
Misconception 4: The Yusof parents put tremendous pressure on their kids to succeed.
Untrue, because they didn’t need to — high achievers naturally tend to have correspondingly high expectations and thus they put a lot of pressure on themselves to do well. Most of the truly ridiculous expectations were held by people outside the family, who often seemed to believe that a prodigy should be perfect at absolutely everything; in reality, prodigies fail just as often as anyone else, which isn’t actually a bad thing as eventually everyone needs to learn to cope with failure in a sensible manner.
Misconception 5: Sufiah’s abilities were unique, even within the family.
Not really — while she was very good, she’s just been in the media spotlight much more than the others because of what happened after she went to Oxford. Iskander was a year younger when he went to university and Zuleikha was considerably younger than either when she completed her A-levels (although she already has the qualifications, Zuleikha has not yet applied to university as she wants to explore many of her interests and further develop as an individual before entering uni). Of course, the media like to portray Sufiah as a unique case because it makes for a better story
Tags: renungan
2 comments share
Blog Entry KISAH BENAR -Bila Hati Sudah Mati Mar 27, '08 7:23 AM
for everyone
KISAH BENAR -Bila Hati Sudah Mati
Kisah benar utk dijadikan renungan terutama bg lelaki. Setiap yg Allah swt kurniakan tak kira sempurna atau tidak pada pandangan mata kita, ia adalah anugerah, amanah yg tak terhingga nilainya. Isteri dan anak utk disayang sampai bila2, bukan utk dibuang bila dah "tak berguna"..
Ini cerita pasal rakan baik saya. Wife dia kena barah buah dada....dia dah mula cari spare tayar, dapat lak student ipta..muda lagi. wife dia kena buang sebelah buah dada...kawan saya ni dah geli utk bersama dengan wife nya.Bln 12 tahun lepas kawan saya kawin dengan 2nd wife dia yg baru umur 21 tahun....
Masa cuti thaipusam hari tu, kawan saya bawa wife no.2 tinggal dengan wife no.1 dan yg paling kejam...wife no.1 kena keluar dari bilik master bed room.. untuk kasi laluan kat wife no.2...kejam kejam
saya sampai sekarang tak boleh terima perbuatan kawan baik saya tu yg halau wife no.1 keluar bilik, walaupun tindakan dia kawin tu..saya tak kisah sangat...tapi jauh di sudut hati saya...memang terasa kejam...sebab wife dia masih sakit dan tak terfikir ke dia pengorbanan wife no.1 jaga dia dulu dan 4 orang anaknya.
masa thaipusam tu, saya sempat lah cakap dgn dia kat luar rumah, coz kawan saya tu jiran sebelah rumah- we all sama2 beli rumah masa bujang. saya cakap sampai hati dia buat camtu kat wife no.1, kawan saya marah saya balik, hal rumahtangga dia, saya jgn campur..dah kena camtu....saya malas lah nak bertekak...
saya ada gak suruh dia asingkan dua dua isteri...dia tak nak...dia kata payah dia nak berulang alik. lantaklah.....biar tuhan je balas di atas perbuatan kejamnya ke atas wife no.1.
kawan saya tu sebaya gan saya umur 35 tahun, wife no.1 kawan saya tu umur 39 tahun. Tua dari kawan saya tu. Masa kawan saya belajar dulu...memula dia dengan wife no.1 sebagai kakak dan adik angkat....wife dia dah kerja sebagai
operator kilang...so wife no.1 tu banyak support study kawan saya
tu...lepas tu dah jodoh dia orang kawin..
mungkin sebab perbezaan umur yg perempuan lebih tua, menyebabkan kawan
saya berubah arah.. tak tahu lah saya nak cakap... tapi yg buat saya
bengang...ade ke...kawan saya tu....selalu pujuk saya sampai lah ni
supaya jadi cam dia...cari no.2... tak sampai hati saya nak duakan isteri tersayang saya tu.
saya memula tak tahu gak yg kawan saya tu , bawa wife no.2 dia tinggal sama ngan wife no. 1 masa thaipusam..tapi bila saya dengar kecoh dari rumah sebelah...saya jengoklah...saya nampak kawan saya tengah campak baju2 wife no.1 dari balconi....wife saya sampai nangis bila tengok peristiwa tu...
kat bawah...saya tengok...anak2 dia yg 4 org tu dgn maid...menangis2 pungut baju mak dia...kawan saya menjerit2 dari atas balconi..cakap...
"kau org cakap gan mama kau...kalau nak papa jaga sampai mampus...jgn lawan cakap papa..."
tak boleh saya bayangkan macam mana perasaan anak2 dia bila dengar papa dia cakap camtu...anak anak no.1&2 perempuan, 3 & 4 lelaki. saya rasa tujuan utama dia halau wife no.1 dan bagi laluan kat wife no. 2 ialah sebab ada jacuzzi dalam bilik utama tu...so...seronoklah dia berendam & mandi sama2 gan wife no.2 dalam jacuzzi tu. saya ingat lagi..saya dengan kawan saya tu...sama2 pi pilih jacuzzi dan pasang kat bilik masing2 dulu...
maaf lama saya nak sambung cerita kawan saya nie. Ini kerana saya sibuk menguruskan urusan pengebumian, dan kenduri aruah wife no.1 kawan saya tu.
aruah baru je meninggal dunia pada hari sabtu 25/1/03...sedangkan
suaminya - rakan baik saya tiada di malaysia kerana honeymoon dengan wife no.2 ke France. Rakan saya sudah berlepas pada malam 24/1/03 lagi.
apabila saya balik rumah setelah menghantar rakan baik saya ke airport changi, Maid aruah call mengatakan yg aruah mengalami sesak nafas...saya kelam kabut ke rumah sebelah..utk bawa aruah ke hospital...sebelum aruah pergi kehospital...dgn kepayahan aruah mencium dua anak kembarnya
(no.3,4) yg berusia 3 tahun yg sedang tidur. aruah juga berpesan kepada 2 anak perempuan ( no 1 dan 2) yg berusia 6 dan 5 tahun supaya menjaga adik-adiknya. Mungkin aruah dah tahu yg dia akan pergi
Hanya saya dan maid aruah sahaja yg menghantar aruah ke hospital. wife saya menunggu di rumah rakan saya. beberapa kali masa dalam perjalanan aruah berpesan kat saya supaya tolong tengok2 kan anaknya...
Saya masa tu hanya menginggalkan pesanan sms kat rakan saya yg isteri sakit kerana rakan saya masih dalam penerbangan. saya juga sempat menelefon abg aruah yg berada di Kluang supaya datang segera .aruah hanya mempunyai dua beradik sahaja, mak& ayah aruah sudah tiada.
masa kat hospital, aruah sempat berpesan dengan doktor, jgn lakukan rawatan yg teruk2 kerana dia dah nak pergi...memang sedih masa tu. dah puas saya menangis dua/3 hari ni.
masa abg aruah sampai dari kluang ke hospital...aruah masih dalam bilik rawatan....abg aruah terlampau geram bila tahu, adik iparnya pergi melancong. masa tu aruah dah koma dan tak lama lepas tu, aruah pergi dengan tenang. dan abg aruah yg membuat keputusan agar jenazah aruah segera di kebumikan tanpa menunggu kepulangan suaminya.
saya dengan abg aruah yg sibuk menguruskan urusan utk mengeluarkan
jenazah.Banyak perkara saya pelajari, seperti mendapatkan pengesahan kematian oleh doktor, lepas tu kena buat laporan kematian di balai polis, dan balai polis mengeluarkan sijil kematian dan permit pengebumian , kemudian dengan sijil kematian dan permit pengebumian, kami terpaksa ke hospital utk
pengeluaran jenazah dan juga urusan2 lain.
Alhamdulilah utk urusan pengembumian jenazah,jawatankuasa masjid telah banyak membantu saya. semua urusan pengebumian seperti pembelian peralatan, mengali dsbnya diuruskan oleh jawatankuasa masjid. satu malam saya dan abg aruah tidak tidur.
dalam pukul 10 lebih 25/1/03 pagi barulah jenazah aruah dapat di bawa kerumahnya dan selepas zuhur jenazah aruah selamat di kebumikan.
Suami aruah hanya menelefon semasa jenazah aruah di bawa pulang ke rumah dan saya memberikan jaminan bahawa semua urusan akan saya selesaikan dan supaya rakan saya tu meneruskan percutian, dalam kepala saya masa tu tak de fikir utk marahkan rakan saya tu, hanya yg terlintas utk selesaikan urusan pengebumian sahaja.
masa jenazah dirumah anak2 aruah yg no.1 dan 2 dah tahu ibunya sudah tiada, tapi yg kembar tu..sibuk tanya kenapa mama tidur kena tutup..sedih sgt saya. saya hanya berupaya memeluk dua kembar tu supaya senyap...tapi airmata saya meleleh juga.saya kenal aruah masa saya form 4 di mrsm, masa tu saya saya dan rakansaya sama2 belajar di mrsm. masa form 4 lah rakan saya menjadi yatim piatu kerana bapanya meninggal dan aruah yg selalu menjadi perangsang kepada rakan saya tu. Lepas spm, we all dapat tawaran ke USA. setiap bulan rakan saya tu mendapat kiriman wang dari aruah kak zai tidak kurang dari $100 USD.
masa pengebumian saya antara yg menyambut jenazah dari dalam lubang kubur utk diturunkan ke liang lahad. saya memegang bahagian kepala jenazah, dan saya merasakan bahawa aruah sedang menenung saya, sedih masa tu.
Masa urusan pengebumian tu, anak2 aruah yg kembar hanya memandang sahaja.Tetapi bila tanah di kambus, barulah yg kembar tu menangis, tapi dipujuk oleh wife saya.
suami aruah akan kembali pada hari rabu 29/1/03. dan sehingga hari ni, setiap malam ke empat2 anak aruah tidur bersama sama saya...mereka rindukan aruah mama mereka, dan juga papa mereka. Boleh dikatakan budak2 tu selalu je mengigau bila tidur panggil mama...mama...mama...dan saya terpaksa memujuk dgn mengatakan...senyap2 sayang...papa ada...dan saya berharap agar allah..berikan hidayah kat rakan saya tu...supaya dia sedar akan kekejaman dia dan AL-FATIHAH lah kiriman kita semua yg masih bernafas dibumi ini untuk arwah kak zai...
Wanita yg baik adalah wanita yg tak kan sanggup melihat wanita lain dihina macam ni..
(diambil dari sebuah laman web, penulis asal tidak dinyatakan..bg mereka yg dah bace, fikir2kan isi tersirat dalam kisah ni..)
Tags: renungan
Anak angkat Prof. Diraja Ungku Aziz ini terbuang dari kelebihan yang pernah menjadikannya begitu terkenal di seluruh negara. Di mana silapnya?
ADI PUTRA
Ingatan kita kepada kanak-kanak pintar seperti Mohd. Shukri Hadafi kembali menghiasi muka depan akhbar Malaysia, apabila Adi Putra Abdul Ghani muncul dengan kelebihan luar biasanya di dalam Matematik.
Keupayaannya yang mengatasi tahap pelajar universiti di bidang itu, sejak awal-awal lagi telah mengheret Adi Putra ke pelbagai konflik. Dari sekolahnya di Sekolah Kebangsaan Matang Buluh, Bagan Serai, perjalanan penuh liku untuk mencari program yang sesuai dengan beliau berterusan ke International Islamic School di Gombak. UNISEL juga tidak pasti dengan perjalanan beliau, dan saya berdoa agar kelebihan yang ada pada adik Adi, tidak menjadi 'sumpah' ke atasnya sebagaimana Mohd. Shukri Hadafi 3 dekad yang lalu.
svchan_wideweb__470×3160.jpg
It figures: after completing year 12 subjects at 10, mathematician Yao-ban Chan has now become Melbourne University's youngest-ever PhD graduate. Photo: Craig Abraham
Bertuahnya Chan Yao-ban, seorang lagi anak kecil istimewa kelahiran Malaysia. Beliau yang kini menjadi pemegang PhD termuda dari Universiti Melbourne. Di usia 21 tahun, Chan Yao-ban telah menjadi salah seorang tenaga pengkaji penting di Universiti Melbourne, mengendalikan projek kajian metod statistik bagi mengenalpasti anomaliti protein di dalam otak untuk mendiagnos schizophrenia dan bipolar disorder.
Biar pun lahir di Malaysia, Chan Yao-ban telah dibesarkan di New Zealand. Beliau melalui proses home schooling oleh ibunya, seorang Mikrobiologist dan ayahnya, pengarah di sebuah syarikat industri makanan terkemuka, Heinz.
Chan Yao-ban telah bertemu dengan `perjuangan' yang bakal memanfaatkan kelebihannya.
Apakah seseorang itu perlu `melarikan diri' dari Malaysia, demi mencari program yang boleh menyokong kanak-kanak genius seperti Chan Yao-ban , Adi Putra dan Mohd. Shukri Hadafi? Mengapa kita masih tidak tentu arah dalam menentukan jalan yang betul untuk Adi Putra? Tidakkah kita belajar sesuatu daripada apa yang berlaku ke atas Mohd. Shukri Hadafi, juga tercabar oleh kejayaan Chan Yao-ban ?
SUFIAH YUSOF
_820888_family300.jpg
Soalan ini menjadi lebih meruncing dengan kegemparan kita terhadap seorang lagi anak Malaysia yang genius, Sufiah Yusof.
Beribukan Halimahton dari Muar dan bapanya, Yusuf, berasal dari Pakistan, Sufiah Yusuf mencipta sejarahnya yang tersendiri apabila beliau diterima masuk ke pengajian di Universiti Oxford pada usia 13 tahun. Namun pada usia 15 tahun, Sufiah telah menghilangkan diri dari kampus hingga kemudiannya ditemui di Bournemouth, bekerja di sebuah hotel di sana.
Enggan pulang kepada keluarga, yang disifatkannya seperti hidup dalam neraka, Sufiah diletakkan di bawah jagaan sebuah pertubuhan sosial untuk kembali penyambung pengajian sarjananya di Oxford. Hidup Sufiah terus dilambung ombak, apabila perkahwinannya pada usia 19 tahun dengan Jonathan Marshall, runtuh hanya kira-kira setahun selepas diijabkabulkan.
Beberapa bulan yang lalu, ingatan kita kepada Sufiah Yusuf dikejutkan dengan berita buruk apabila bapanya ditangkap atas dakwaan mencabuli dua kanak-kanak berusia 15 tahun yang mengikuti kelas tusyen accelerated learing kendaliannya.
Dan segala-galanya mencapai kemuncak, apabila wartawan akhbar [1] News of the World, berjaya mengesan Sufiah Yusuf, yang terhumban ke lembah hitam dengan nama samarannya Shilpa Lee, sebagai pelacur di Manchester dengan bayaran £130!
Sufiah Yusuf yang begitu sopan, tertib dan berada di dalam segala kurniaan ketika di awal usianya di St. Hilda's College yang berprestij itu, menempuh kehidupan yang tidak menentu hingga berakhir dengan sesuatu yang tidak terbayangkan fikiran kita mengenainya. Seorang lagi kanak-kanak genius (muslim? melayu?) menjadi `mangsa'.
Apakah semua ini?
JOHN NASH
225px-john_f_nash_20061102_3.jpg
Masih ingatkah kita kepada [2] John Forbes Nash? Penerima anugerah Nobel bagi kehebatan Matematiknya di Universiti Princeton ini, menempuh dekad-dekad yang penuh liku akibat masalah schizophrenia yang mengongkong kehidupannya. Ia adalah suatu contoh yang amat besar tentang perlunya suatu pendekatan di luar kotak, untuk menampung kegeniusan seorang seperti John Forbes Nash ini. Anda boleh mendalami kisah mengenai Nash dengan menonton filem favourite saya, A Beautiful Mind.
200px-abeautifulmindposter.jpg
Pencapaian IQ yang luar biasa sememangnya lazim terkait dengan ketidak sihatan mental. Hal ini diperkatakan oleh Daniel Martin di dalam [3] artikelnya yang tersiar di Daily Mail bertarikh 11 Februari 2007.
Katanya,
More than half a million people in the UK are believed to suffer from a form of the condition, which causes disordered ideas, beliefs and experiences. The most common ages for it to develop are 15-25 in men and 25-35 in women.
Kerana itu, saya sering khuatir dengan anak-anak muda yang memiliki idea yang hebat, tetapi memiliki ketidak seimbangan sikap yang sesuai dengan kehebatan itu. Teringat saya kepada sebuah ceramah berkaitan masalah ini yang disampaikan di HUKM tidak lama dulu. Penceramah itu memberitahu bahawa statistik menunjukkan, di mana-mana sahaja bilik atau dewan tempat manusia berkumpul, maka 1/4 daripadanya mempunyai masalah berkaitan mental!
n_03chiang.jpg
Saya masih ingat kepada seorang lagi kanak-kanak genius, Chiang Ti Ming, yang telah menempuh episod hidup yang luar biasa. Menjadi pelajar termuda di California Institute of Technology (CalTech) lebih dua dekad yang lalu, Chiang Ti Ming telah meninggal dunia pada awal Januari 2007 di Seremban, selepas khabarnya mengalami tekanan perasaan yang amat teruk hingga dimasukkan ke HKL pada tahun 2002.
PENGAJARAN
Semua ini harus menjadi pengajaran buat kita.
Pengajaran buat kerajaan untuk memikirkan tanggungjawabnya terhadap pendidikan. Atau mungkinkah segala ini membuktikan bahawa kerajaan sepatutnya tidak campur tangan dalam soal pendidikan sebagaimana yang terakam dalam sejarah tamadun Islam yang panjang itu?
Sejarah Islam merakam ramai tokoh yang genius di zaman kanak-kanaknya. Figura seperti al-Syafie, al-Ghazzali, al-Nawawi, malah tokoh lewat era Moden seperti Muhammad Abduh dan Badi' al-Zaman Said al-Nursi, telah mempamerkan ketokohan mereka semenjak di usia kecil.
Apakah rahsia mereka?
Saya fikir, persoalan ini memerlukan kepada kajian yang mendalam. Namun, sepintas lalu kita akan dapat melihat bahawa tokoh-tokoh ini mendapat pendidikan awal mereka dari sentuhan ibu bapa. Proses pendidikan juga tidak berlaku di sekolah-sekolah rasmi milik pemerintah, sebaliknya setiap mereka dibesarkan dengan model pendidikan yang tersendiri lagi khusus. Malah di era Moden, tokoh seperti al-Tahtawi dan Muhammad Abduh berdepan dengan krisis diri semasa bersekolah di sekolah kerajaan, sehinggalah mereka melarikan diri dan mencari model sendiri yang lebih responsif kepada keperluan mereka dan keperluan semasa.
BUAT PENDAKWAH
b0111.jpg
Pengajaran juga buat para pandakwah. Bahawa usaha memahami masalah manusia bukannya seperti kelakuan pembaris yang hanya tahu melukis lurus.
Rayau-rayau saya di laman sesawang, menemukan saya dengan komen-komen mudah ramai pihak yang secara simplistik menyalahkan Sufiah dengan alasan genius beliau hanya pada IQ dan tetapi lemah spiritual. Tentu sahaja saya tidak menolak [4] peranan spiritual dan hubungkaitnya dengan depression. Tetapi menyarankan secara mudah bahawa agama sebagai penyelesaian, harus lebih diperincikan lagi.
Perlu diingat bahawa antara simptom masalah mental berkaitan depression lazim terkait pula dengan obsesi seseorang kepada agama!
Malah mungkin sisi ini diperlukan untuk kita menilai semula beberapa perlakuan ganjil genius Muslim di dalam sejarah untuk menjustifikasikan perihal yang berlaku ke atas mereka.
Apabila kegagalan hidup berlaku ke atas sesetengah manusia, apatah lagi insan genius seperti Mohd. Shukri Hadafi, Sufiah Yusof malah John Nash dan Chiang Ti Ming, jangan terlalu dangkal memberikan alasan `lemah didikan agama' atau `hidup tidak mengikut sunnah'.
Sesungguhnya agama mengajar manusia untuk lebih bertadabbur dan bertafakkur tentang peranannya sebagai khalifah, pentadbir alam, bahawa manusia itu sangat seni kehidupannya. Ketelitian dalam mencari jalan mengacu dan membentuk manusia, adalah syarat survival ummah. Keperluan melihat aspek psikologi manusia, harus dilihat sebagai sebahagian daripada tuntutan agama itu sendiri.
adiputra.jpg
Saya mengangkat tangan memohon doa untuk masa depan yang lebih baik untuk adik Adi Putra yang sedang menyusuri jalan yang penuh liku itu.
ABU SAIF @ www.saifulislam. com
56000 Kuala Lumpur
Semuga misi menyelamatkan Sufiah berjaya.
Semuga ALLAH mempermudahkan urusan.
Sufiah mangsa agenda Barat?
Tindakan Jabatan Perdana Menteri dan Yadim untuk menghantar misi khas menyelamatkan wanita genius itu sangat dialu-alukan sebagai tanda prihatin dan sensitiviti kita terhadap umat Islam lain biarpun masih ramai remaja dan gadis Islam tempatan yang perlu diselamatkan.
Kata-kata atau pandangan seperti membazirkan duit rakyat, menyibuk, pilih kasih dan sebagainya terhadap misi murni itu adalah amat dangkal serta tidak mencerminkan sifat umat Islam sebenar.
KETIKA umat Islam di seluruh dunia digemparkan dengan filem pendek Fitna di Belanda yang cuba memburuk-burukkan imej dan wajah sebenar Islam, dalam tempoh sama pula kita dikejutkan dengan perlakuan tidak bermoral seorang wanita genius Islam yang meletakkan Islam dan umatnya berada dalam dilema fitnah masyarakat dunia.
Sepuluh tahun lalu, Sufiah Yusuf pernah menggemparkan dunia apabila menjadi kanak-kanak Islam berjaya memasuki sebuah universiti ternama di Britain iaitu Oxford ketika berumur 13 tahun.
Hari ini dia sekali lagi menggegarkan masyarakat dunia apabila dengan bangga menawarkan khidmat seks kepada orang ramai, terutama melalui laman web.
Walaupun perbuatan tidak berakhlak itu bukan sesuatu yang luar biasa di United Kingdom (UK), namun dengan statusnya sebagai seorang genius Islam, laporan perlakuan sumbangnya kini dibincang dan diperdebatkan di seluruh dunia.
Apatah lagi dia mempunyai pertalian rapat dengan Malaysia kerana ibunya berasal dari negara ini.
Keadaan itu membuka peluang media Barat di seluruh dunia mengambil kesempatan semaksimum mungkin mengenai isu serta polemik sensasi itu untuk mencemarkan Islam dan umatnya.
Perubahan sikap dan sifat Sufiah yang sangat mengejutkan itu menjadikan ramai tersentak membaca kisah hidupnya menjadi pelacur dan hidup dalam keadaan sangat menyayat hati di lembah kehinaan.
Ramai bingung dan bimbang dengan perkembangan yang sedang terjadi kepada wanita yang mempunyai IQ pintar yang menakjubkan itu.
Dia mungkin menjadi mangsa ibu bapa yang terlalu menekan dan mengejar kecemerlangan anak dalam akademik tanpa memikirkan aspek kerohanian dan didikan agama.
Kemungkinan juga menjadi mangsa keadaan apabila terpaksa menjadi manusia cemerlang dan berjaya di universiti seawal usia 13 tahun berbanding rakan yang masih bergembira di sekolah menengah.
Sejak kecil Sufiah tidak pernah memasuki sekolah, sebaliknya hanya menerima pendidikan di rumah daripada ibu bapanya hingga menjejakkan kaki ke menara gading.
Jadi untuk menyalahkan sistem dan keberkesanan pendidikan di UK adalah meleset. Dan atas alasan apakah Sufiah bertindak sedemikian, sangat menimbulkan tanda tanya.
Jika hendak dikatakan masih mentah dan tidak matang, dia pernah berkahwin dan sempat menikmati kehidupan berkeluarga selama hampir setahun sebelum bercerai.
Pada usianya kini, kita tidak boleh menyalahkan sesiapa melainkan dirinya sendiri.
Sepatutnya dengan kecerdasan akal yang hebat, Sufiah sepatutnya kaya, popular dan ternama serta dapat menyumbangkan kepakarannya kepada umat Islam supaya masyarakat bukan Islam melihat kehebatan agama ini.
Sebaliknya, kini tubuhnya dilanggani menyebabkan beban serta masalah tersebut terpaksa ditanggung umat Islam.
Inilah jadinya apabila kecerdikan yang dimiliki tidak dihargai dan disalahgunakan.
Inilah juga jadinya apabila nafsu sudah bertakhta di hati dan terlalu menurut perasaan yang buruk.
Dulu guru mengimpikan pelajar mereka setanding Sufiah dan ibu bapa juga sanggup bekerja keras untuk memberikan pendidikan sempurna agar anak dapat menjejaki wanita genius itu.
Dia umpama model dan ikon remaja pintar suatu ketika dahulu.
Sufiah pencetus fenomena sehingga kerajaan Malaysia turut menawarkan cadangan untuk menaja kos pembelajaran beliau hingga ke peringkat paling tinggi.
Kini mungkin ramai akan berfikir dua kali dan terpaksa mempertimbangkan sama ada berbaloi memiliki anak genius.
Biarpun begitu, adalah tidak adil ketika Sufiah berada di puncak kejayaan dan kegemilangan, semua berbangga dan mendabik dada dengan kejayaan yang diciptanya.
Dia diangkat sebagai contoh Melayu terbaik di perantauan dan gadis Islam yang berjaya menaikkan imej agama di mata Barat.
Apabila dia kini tersesat, keliru dan berada di persimpangan hidup, kita mencerca dan menghukumnya tanpa meneliti masalah serta realiti yang dihadapinya.
Sufiah mungkin sedang dipergunakan pihak tidak bertanggungjawab atau sedang berhadapan dengan konflik dan masalah jiwa yang serius hingga sanggup melacurkan diri.
Ataupun, ia mungkin permainan jahat dan kotor yang cuba dimainkan media Barat atau propaganda yang sengaja diada-adakan untuk mencemarkan Islam.
Dalam keadaan dunia Islam sentiasa difitnah dan diburuk-burukkan, tidak mustahil juga isu Sufiah adalah taktik dan agenda terancang musuh Islam untuk menjatuhkan agama suci ini.
Apapun, hanya Sufiah yang boleh memberitahu perkara sebenar dan apa yang terjadi kepada dirinya.
Hingga kini usaha mencari dan menyelamatkannya sedang dilakukan.
Modal insan cukup berpotensi seperti Sufiah tidak boleh dibiarkan begitu sahaja kerana dia turut membawa imej Islam dan orang Melayu.
Semua pihak perlu bekerjasama menyelamatkannya untuk mengelakkan dia jauh tersasar, menyimpang dan boleh memusnahkan diri.
Tindakan Jabatan Perdana Menteri dan Yadim untuk menghantar misi khas menyelamatkan wanita genius itu sangat dialu-alukan sebagai tanda prihatin dan sensitiviti kita terhadap umat Islam lain biarpun masih ramai remaja dan gadis Islam tempatan yang perlu diselamatkan.
Kata-kata atau pandangan seperti membazirkan duit rakyat, menyibuk, pilih kasih dan sebagainya terhadap misi murni itu adalah amat dangkal serta tidak mencerminkan sifat umat Islam sebenar.
Sufiah masih boleh diselamatkan jika semua pihak berusaha memulih, mendoakan dan menasihatinya memandangkan jika gagal, dunia akan melihat betapa hodohnya umat Islam hari ini walaupun memiliki otak bergeliga.
Kisah Sufiah wajar menjadi iktibar kepada semua agar apa yang berlaku kepada diri dan keluarganya tidak berlaku kepada orang lain.
Sticky: Getting the latest news
April 9th, 2008
As we’ve said a few times now, most of the news in the mainstream press regarding the Yusof family and Sufiah’s childhood is inaccurate, because the editors tend to filter everything we say even when we do agree to do interviews.
If you’d like to know what’s really happening, though, this site is the place to go; we’ll try to update it as often as possible so that everyone stays informed. We’d also like to ask that you spread the word about hyusof.com whenever Sufiah or the family are under discussion online or elsewhere, because it’s good if people know the real facts!
The easiest way to stay up to date with all the latest news is through our newsletter. It’ll include all the news updates posted here, and occasionally Halimahton will write a little about her easy-to-use teaching methods. Sign up here.
FAQs
April 10th, 2008
Some people have commented that the Corrections of Misconceptions post is a little hard to read. They’re quite right, so here’s a short FAQ that hopefully will be easier to understand. It’s still worth reading the other post, though, because it goes into more detail in some areas.
We’d also like to thank everyone who has shown their support and understanding thus far. Keluaga kami ingin mengucapkan ribuan terima kasih kepada semua masyarakat Malaysia diatas sokongan, fahaman dan segala nasihat yang bermanfaat.
Added a gallery
April 9th, 2008
The site was looking a little bland, so we added a gallery to liven things up a little. At the moment they’re just random family pictures, but they do give some idea as to how things were when the Yusof children were young.
Corrections of Misconceptions
April 8th, 2008
Much has been written in the press about Sufiah’s current occupation, but to be perfectly frank, the vast majority of news articles out there are completely misleading on a number of crucial points regarding the family history. Sadly, it seems that most journalists would rather entertain their readers than focus on writing factually accurate articles; it’s not entirely their fault, though, as Farooq often talked nonsense to journalists and sometimes seemed to be actively trying to cultivate the appearance of eccentricity. Most of the family were embarrassed whenever he gave an interview to the press. In any case, let’s clear up some of those inaccuracies right now.
Misconception 1: All the Yusof children were taught via Farooq’s “accelerated learning methods” — a tortuous regime involving studying in the freezing cold, punishments for answering questions incorrectly, and “stretching and breathing exercises”.
Actually, Farooq wasn’t even responsible for the majority of the teaching! For most of the Yusof children’s early life, Halimahton was practically a single parent as Farooq was in prison (having been convicted of mortgage fraud) or on the run for six years — he only returned to the household when Iskander, the youngest at the time, was seven years old. By this stage, the Yusof children were already prodigies and were also anything from three to seven years ahead in most academic subjects, in spite of the fact that they spent most of their time engaged in less bookish activities (such as tennis or playing with other children).
So who really taught the Yusof children? Why, Halimahton of course! That said, she never intended to “create prodigies”, hothouse/homeschool her children, or in fact do anything other than bring up her children as well as she could under difficult circumstances. But even though she was on her own, Halimahton had a unique skillset that made her ideally suited to the role of caregiver, teacher, and provider for four young children. She quickly recognised that all babies are naturally curious and enthusiastic about learning, so it made perfect sense to not waste the early years of a child’s life by failing to give them any mental stimulation. And in a nutshell, this is why all the Yusof children became prodigies — Halimahton was able to develop a special bond with each of her children that made it very easy for them to learn from her.
Eventually, when Zuleikha was born, Halimahton realised that she had developed something resembling a “method” without really meaning to, but rather than being comprised of a strict set of rules, her techniques were flexible and varied depending on the personality, interests, and mood of the child. She didn’t call it an “accelerated learning method” because she believed it was foolhardy to try to teach a child faster than they were already willing to learn, and there is considerable evidence to suggest that in the long run this only hinders a person’s memory and understanding. In fact, Halimahton wouldn’t even try to teach any of her children unless they were in a good mood and interested in what she had to say, because she felt it was important that her children associate the act of learning with pleasant emotions.
The real teacher
The end result was that by the time the Yusof children were old enough for school, they were already many years ahead of their peers, but like most parents Halimahton decided to enroll them at the local Northampton school anyway — she had no intention of trying to homeschool her kids. Unfortunately, at that point in time (around 1989) most UK schools made absolutely no serious provision for highly able students who were so far ahead. While the school did make an effort to provide resources so that the Yusof children could keep themselves occupied, all that happened in practice was that they were left to study on their own and Halimahton invariably needed to supplement their schoolwork at home. In the end, Sufiah said that she no longer wanted to go to school and wanted her mother to teach her at home; Halimahton was dubious, as she was a single parent with limited finances and she knew that homeschooling would require a substantial commitment of time and effort. But after a long discussion with all her children, it became clear that they were all adamant about the fact that they would rather learn at home, and Halimahton enjoyed teaching (and learning with!) her kids so much that she eventually agreed.
After the first day at school
After this decision was made, Halimahton resumed teaching her children; essentially, she just taught them according to her own comprehensive curriculum at whatever rate at which the children wanted to learn. There was never any need to try to get them to learn particularly quickly, as they were already many years ahead. All the “prodigy stuff” had been done in the first five years — the kids just worked for one or two hours per day, and that was it as far as formal schoolwork was concerned.
Unfortunately, everything changed when Farooq returned home in 1993. The children were initially very enthusiastic about his returning home — aside from just being happy to see him, they all wanted to show him what they were capable of. Halimahton had considered divorcing him, but her children’s excitement about their dad being back home made her feel that it was not worth proceeding with a messy divorce, as long as he learnt from his mistakes and avoided any criminal activities in the future. But things quickly took a turn for the worse. Farooq’s conviction made it difficult for him to find a job, so he decided to stay at home to “help” Halimahton raise the kids, and this was the beginning of all the problems.
Things weren\'t always bad with Farooq around
Farooq’s ego proved to be the biggest problem — he believed himself to be more intelligent and knowledgeable than his wife, so he took over the children’s tennis coaching from her (but their academic work continued as normal). Unlike Halimahton, Farooq knew nothing about how to relate to children and he frequently grew impatient because he could not get them to do what he wanted them to do; the public nature of tennis would also often hurt his pride, as he would feel personally embarrassed whenever they didn’t perform. This would lead to outbursts on the tennis court where he would shout at the children and occasionally smack them. Again, Halimahton considered divorce but because of her precarious financial situation and the fact that she was pregnant with Zuleikha, she decided to try reasoning with him instead to persuade him that his behaviour was wrong. In retrospect, this was clearly a bad decision but at the time it seemed like divorce would only have lead to extreme hardship and an uncertain future.
The kids were mostly independent while studying for their exams
While Farooq was coaching the children in tennis, their academic work was still progressing (independently and with Halimahton) and eventually they were ready to start working on their A-levels (apart from Iskander, who was much younger than the others and preferred to study for his GCSEs with his mother). Most of the childrens’ A-level work was undertaken independently; Farooq did not spend much time teaching them except when their exams were near. He was just as bad at teaching maths as he was at tennis coaching, and his inability to relate the material to his children caused the same kinds of outbursts as on the tennis court. Fortunately, the work Halimahton had done with the children previously had given them the ability to work very effectively on their own, so in spite of Farooq’s poor behaviour they still performed very well in their A-levels.
In summary, Farooq contributed very little to the children’s education and academic achievements before university — probably about 75% of their education was with Halimahton when they were still young, and the rest was due to their own independent work. Without him, the Yusof children would have done things just as early but without any of the scandals that he so often created for himself.
Misconception 2: The Yusof children only became prodigies because they were forced to work unreasonably hard and/or were homeschooled.
False. Halimahton never worked with them for two hours per day, and during their A-levels the kids studied as much or as little as they wanted to.
As explained above, the children were only homeschooled because they were already prodigies by the time they enrolled at their local school and it was unable to provide for them. Today, though it depends to a certain extent on the area, many good schools are better-equipped to handle such highly able children.
The children were not born prodigies, but Halimahton’s ability to figure out lots of ways to stimulate and encourage their natural love of learning helped them achieve the potential that she believes is innate in every child.
Sufiah working hard
Misconception 3: TV and pop music were banned in the household.
This isn’t even remotely true. All the children regularly watched many TV series like Fawlty Towers, the X-Files, and Star Trek, in addition to the usual movies, sports, and so on. Their tastes have changed a lot since then, though!
Pop music certainly wasn’t banned either — everyone in the family likes music and it was common to hear anything from rap to classical all over the household. Halimahton actually considers music, singing and dancing (not to mention acting) to be an excellent way to relate things to young children.
See the radio in the background?
Misconception 4: The Yusof parents put tremendous pressure on their kids to succeed.
Untrue, because they didn’t need to — high achievers naturally tend to have correspondingly high expectations and thus they put a lot of pressure on themselves to do well. Most of the truly ridiculous expectations were held by people outside the family, who often seemed to believe that a prodigy should be perfect at absolutely everything; in reality, prodigies fail just as often as anyone else, which isn’t actually a bad thing as eventually everyone needs to learn to cope with failure in a sensible manner.
Misconception 5: Sufiah’s abilities were unique, even within the family.
Not really — while she was very good, she’s just been in the media spotlight much more than the others because of what happened after she went to Oxford. Iskander was a year younger when he went to university and Zuleikha was considerably younger than either when she completed her A-levels (although she already has the qualifications, Zuleikha has not yet applied to university as she wants to explore many of her interests and further develop as an individual before entering uni). Of course, the media like to portray Sufiah as a unique case because it makes for a better story
Tags: renungan
2 comments share
Blog Entry KISAH BENAR -Bila Hati Sudah Mati Mar 27, '08 7:23 AM
for everyone
KISAH BENAR -Bila Hati Sudah Mati
Kisah benar utk dijadikan renungan terutama bg lelaki. Setiap yg Allah swt kurniakan tak kira sempurna atau tidak pada pandangan mata kita, ia adalah anugerah, amanah yg tak terhingga nilainya. Isteri dan anak utk disayang sampai bila2, bukan utk dibuang bila dah "tak berguna"..
Ini cerita pasal rakan baik saya. Wife dia kena barah buah dada....dia dah mula cari spare tayar, dapat lak student ipta..muda lagi. wife dia kena buang sebelah buah dada...kawan saya ni dah geli utk bersama dengan wife nya.Bln 12 tahun lepas kawan saya kawin dengan 2nd wife dia yg baru umur 21 tahun....
Masa cuti thaipusam hari tu, kawan saya bawa wife no.2 tinggal dengan wife no.1 dan yg paling kejam...wife no.1 kena keluar dari bilik master bed room.. untuk kasi laluan kat wife no.2...kejam kejam
saya sampai sekarang tak boleh terima perbuatan kawan baik saya tu yg halau wife no.1 keluar bilik, walaupun tindakan dia kawin tu..saya tak kisah sangat...tapi jauh di sudut hati saya...memang terasa kejam...sebab wife dia masih sakit dan tak terfikir ke dia pengorbanan wife no.1 jaga dia dulu dan 4 orang anaknya.
masa thaipusam tu, saya sempat lah cakap dgn dia kat luar rumah, coz kawan saya tu jiran sebelah rumah- we all sama2 beli rumah masa bujang. saya cakap sampai hati dia buat camtu kat wife no.1, kawan saya marah saya balik, hal rumahtangga dia, saya jgn campur..dah kena camtu....saya malas lah nak bertekak...
saya ada gak suruh dia asingkan dua dua isteri...dia tak nak...dia kata payah dia nak berulang alik. lantaklah.....biar tuhan je balas di atas perbuatan kejamnya ke atas wife no.1.
kawan saya tu sebaya gan saya umur 35 tahun, wife no.1 kawan saya tu umur 39 tahun. Tua dari kawan saya tu. Masa kawan saya belajar dulu...memula dia dengan wife no.1 sebagai kakak dan adik angkat....wife dia dah kerja sebagai
operator kilang...so wife no.1 tu banyak support study kawan saya
tu...lepas tu dah jodoh dia orang kawin..
mungkin sebab perbezaan umur yg perempuan lebih tua, menyebabkan kawan
saya berubah arah.. tak tahu lah saya nak cakap... tapi yg buat saya
bengang...ade ke...kawan saya tu....selalu pujuk saya sampai lah ni
supaya jadi cam dia...cari no.2... tak sampai hati saya nak duakan isteri tersayang saya tu.
saya memula tak tahu gak yg kawan saya tu , bawa wife no.2 dia tinggal sama ngan wife no. 1 masa thaipusam..tapi bila saya dengar kecoh dari rumah sebelah...saya jengoklah...saya nampak kawan saya tengah campak baju2 wife no.1 dari balconi....wife saya sampai nangis bila tengok peristiwa tu...
kat bawah...saya tengok...anak2 dia yg 4 org tu dgn maid...menangis2 pungut baju mak dia...kawan saya menjerit2 dari atas balconi..cakap...
"kau org cakap gan mama kau...kalau nak papa jaga sampai mampus...jgn lawan cakap papa..."
tak boleh saya bayangkan macam mana perasaan anak2 dia bila dengar papa dia cakap camtu...anak anak no.1&2 perempuan, 3 & 4 lelaki. saya rasa tujuan utama dia halau wife no.1 dan bagi laluan kat wife no. 2 ialah sebab ada jacuzzi dalam bilik utama tu...so...seronoklah dia berendam & mandi sama2 gan wife no.2 dalam jacuzzi tu. saya ingat lagi..saya dengan kawan saya tu...sama2 pi pilih jacuzzi dan pasang kat bilik masing2 dulu...
maaf lama saya nak sambung cerita kawan saya nie. Ini kerana saya sibuk menguruskan urusan pengebumian, dan kenduri aruah wife no.1 kawan saya tu.
aruah baru je meninggal dunia pada hari sabtu 25/1/03...sedangkan
suaminya - rakan baik saya tiada di malaysia kerana honeymoon dengan wife no.2 ke France. Rakan saya sudah berlepas pada malam 24/1/03 lagi.
apabila saya balik rumah setelah menghantar rakan baik saya ke airport changi, Maid aruah call mengatakan yg aruah mengalami sesak nafas...saya kelam kabut ke rumah sebelah..utk bawa aruah ke hospital...sebelum aruah pergi kehospital...dgn kepayahan aruah mencium dua anak kembarnya
(no.3,4) yg berusia 3 tahun yg sedang tidur. aruah juga berpesan kepada 2 anak perempuan ( no 1 dan 2) yg berusia 6 dan 5 tahun supaya menjaga adik-adiknya. Mungkin aruah dah tahu yg dia akan pergi
Hanya saya dan maid aruah sahaja yg menghantar aruah ke hospital. wife saya menunggu di rumah rakan saya. beberapa kali masa dalam perjalanan aruah berpesan kat saya supaya tolong tengok2 kan anaknya...
Saya masa tu hanya menginggalkan pesanan sms kat rakan saya yg isteri sakit kerana rakan saya masih dalam penerbangan. saya juga sempat menelefon abg aruah yg berada di Kluang supaya datang segera .aruah hanya mempunyai dua beradik sahaja, mak& ayah aruah sudah tiada.
masa kat hospital, aruah sempat berpesan dengan doktor, jgn lakukan rawatan yg teruk2 kerana dia dah nak pergi...memang sedih masa tu. dah puas saya menangis dua/3 hari ni.
masa abg aruah sampai dari kluang ke hospital...aruah masih dalam bilik rawatan....abg aruah terlampau geram bila tahu, adik iparnya pergi melancong. masa tu aruah dah koma dan tak lama lepas tu, aruah pergi dengan tenang. dan abg aruah yg membuat keputusan agar jenazah aruah segera di kebumikan tanpa menunggu kepulangan suaminya.
saya dengan abg aruah yg sibuk menguruskan urusan utk mengeluarkan
jenazah.Banyak perkara saya pelajari, seperti mendapatkan pengesahan kematian oleh doktor, lepas tu kena buat laporan kematian di balai polis, dan balai polis mengeluarkan sijil kematian dan permit pengebumian , kemudian dengan sijil kematian dan permit pengebumian, kami terpaksa ke hospital utk
pengeluaran jenazah dan juga urusan2 lain.
Alhamdulilah utk urusan pengembumian jenazah,jawatankuasa masjid telah banyak membantu saya. semua urusan pengebumian seperti pembelian peralatan, mengali dsbnya diuruskan oleh jawatankuasa masjid. satu malam saya dan abg aruah tidak tidur.
dalam pukul 10 lebih 25/1/03 pagi barulah jenazah aruah dapat di bawa kerumahnya dan selepas zuhur jenazah aruah selamat di kebumikan.
Suami aruah hanya menelefon semasa jenazah aruah di bawa pulang ke rumah dan saya memberikan jaminan bahawa semua urusan akan saya selesaikan dan supaya rakan saya tu meneruskan percutian, dalam kepala saya masa tu tak de fikir utk marahkan rakan saya tu, hanya yg terlintas utk selesaikan urusan pengebumian sahaja.
masa jenazah dirumah anak2 aruah yg no.1 dan 2 dah tahu ibunya sudah tiada, tapi yg kembar tu..sibuk tanya kenapa mama tidur kena tutup..sedih sgt saya. saya hanya berupaya memeluk dua kembar tu supaya senyap...tapi airmata saya meleleh juga.saya kenal aruah masa saya form 4 di mrsm, masa tu saya saya dan rakansaya sama2 belajar di mrsm. masa form 4 lah rakan saya menjadi yatim piatu kerana bapanya meninggal dan aruah yg selalu menjadi perangsang kepada rakan saya tu. Lepas spm, we all dapat tawaran ke USA. setiap bulan rakan saya tu mendapat kiriman wang dari aruah kak zai tidak kurang dari $100 USD.
masa pengebumian saya antara yg menyambut jenazah dari dalam lubang kubur utk diturunkan ke liang lahad. saya memegang bahagian kepala jenazah, dan saya merasakan bahawa aruah sedang menenung saya, sedih masa tu.
Masa urusan pengebumian tu, anak2 aruah yg kembar hanya memandang sahaja.Tetapi bila tanah di kambus, barulah yg kembar tu menangis, tapi dipujuk oleh wife saya.
suami aruah akan kembali pada hari rabu 29/1/03. dan sehingga hari ni, setiap malam ke empat2 anak aruah tidur bersama sama saya...mereka rindukan aruah mama mereka, dan juga papa mereka. Boleh dikatakan budak2 tu selalu je mengigau bila tidur panggil mama...mama...mama...dan saya terpaksa memujuk dgn mengatakan...senyap2 sayang...papa ada...dan saya berharap agar allah..berikan hidayah kat rakan saya tu...supaya dia sedar akan kekejaman dia dan AL-FATIHAH lah kiriman kita semua yg masih bernafas dibumi ini untuk arwah kak zai...
Wanita yg baik adalah wanita yg tak kan sanggup melihat wanita lain dihina macam ni..
(diambil dari sebuah laman web, penulis asal tidak dinyatakan..bg mereka yg dah bace, fikir2kan isi tersirat dalam kisah ni..)
Tags: renungan
LONDON 30 Mac – Sufiah Yusof, seorang kanak-kanak pintar matematik yang pernah menggemparkan dunia apabila layak memasuki Universiti Oxford pada usia 13 tahun, tidak putus-putus ditimpa nasib malang.
Selepas bapanya, Yusof Farooq dipenjara atas kesalahan melakukan serangan seksual ke atas dua gadis berusia 15 tahun yang mengikuti tuisyen matematik di rumahnya, Sufiah pula kini dilaporkan menjadi pekerja seks.
Tragedi yang melanda kanak-kanak genius itu dibongkar oleh wartawan News of the World yang menyamar sebagai pelanggan, di flat murah yang didiaminya di belakang lorong di Salford, Manchester.
Sufiah dikatakan terbabit dalam kegiatan tidak bermoral itu, untuk menyara hidupnya sejak beberapa tahun lalu.
Entah di mana silapnya, gadis dengan senyuman menawan itu yang kehebatannya sepatutnya menjadikan dia wanita kaya, terpaksa memilih jalan itu untuk terus hidup.
Menurut akhbar itu, Sufiah dilaporkan mengiklankan 'khidmatnya' melalui Internet dengan tawaran 130 pound (RM830) untuk setiap sesi.
Dengan memakai nama samaran Shilpa Lee, dia antara lain menggambarkan dirinya sebagai 'pelajar bijak dan seksi' yang menyediakan perkhidmatan setiap hari dari pukul 11 pagi hingga 8 malam.
Dalam iklannya, menurut tabloid tersebut, Sufiah juga menyatakan dia lebih gemarkan 'lelaki tua yang budiman'. Seorang bekas rakannya menyifatkan tindak-tanduk gadis itu sebagai: ''Sesuatu yang sungguh menyedihkan.''
"Dengan otak luar biasa yang dimilikinya, dia tidak mempunyai masalah untuk mendapat wang, sebaliknya hidup dia musnah dan menjadi tidak terkawal," kata bekas rakannya lagi.
Selepas tiga tahun belajar di Universiti Oxford, pada usia semuda 15 tahun, Sufiah mencetuskan kegemparan apabila menghilangkan diri.
Dalam e-mel kepada keluarganya, dia menyifatkan hidup dengan bapanya 'umpama dalam neraka'.
Ibu Sufiah, Halimahton berasal dari Muar, Johor manakala bapanya, Yusof berasal dari Pakistan.
Sufiah hanya ditemui dua minggu kemudian di sebuah kafe Internet di Bournemouth dan bekerja sebagai pelayan hotel.
Dia enggan kembali ke pangkuan keluarga dan diletakkan di bawah jagaan sebuah badan sosial sebelum kembali ke Oxford untuk menyelesaikan pengajian matematik peringkat sarjana.
Dia berkahwin pada 2004 ketika berusia 19 tahun dengan peguam pelatih, Jonathan Marshall, 24, tetapi rumah tangganya hanya mampu bertahan selama setahun.
A 12-year-old boy and his 16-year-old sister have arrived at the University of Warwick to study degrees in mathematics.
Iskander and Noraisha Yusof are among the UK's youngest ever undergraduates. Accompanied by their father Farooq, they met lecturers and tutors and said they were looking forward to student life.
Maths tutor Alan Newell says that the brother and sister have done "extraordinarily well"
Maths tutor Alan Newell emphasised that no concessions had been made on admitting the brother and sister because of their young age. "We've had the best entry class that we've ever had. The standards are very high and Iskander and Noraisha both did extraordinarily well." Iskander received a grade A in maths A level when he was 10, and a B in further maths a year later.
He also gained grade 1 in a special paper set by the University of Warwick. He is the same age as Ruth Lawrence was when she accepted a place at Oxford 14 years ago. "It doesn't really matter and it doesn't bother me," he said. "When I'm with my friends I talk about other things. I am just looking forward to getting on with the course." Noraisha, who hopes to go on to do research in mathematical biology, said she had chosen Warwick because it was one of the top three centres for mathematics in the country. "I don't think it is a problem coming to university this young," she said. "I have already done my A levels, what else could I do?" Noraisha gained grade As at A level in maths and further maths before she was 15. Runs in the family Their siblings are also high achievers. Sister Sufiah, 14, is just beginning her second year at Oxford University and their four-year-old sister Zuleika is expected to sit her maths A level by the age of six.
Maths researcher Farooq, 40, and his scientist wife Halimahton, 41, gave up their careers to educate the children at home in Northampton. For the family of seven, who are all devout Muslims, each day begins with prayers, followed by exercise to focus the mind and body. All five Yusof children are also talented tennis players. The eldest, Isaac, 17, was number four in the UK for his age, while Noraisha won the Northamptonshire women's title at the age of 12. Mr Yusof describes his children as self-motivated, mature youngsters, driven by the desire to succeed and compete with one another.
All five were talking before the age of one and reading by two, but they are not considered exceptionally gifted by their Malaysian parents. Mr Yusof believes all children can achieve given the right encouragement, and is currently in negotiations for a book deal recounting his teaching approach.
Sukarnya Menjadi Genius
adi.jpg
Adi Putra
Semasa kecil, emak beberapa kali mengingatkan saya tentang seorang kanak-kanak genius yang sudah mampu membaca surat khabar di usia tiga tahun. Mohd. Shukri Hadafi, nama diberi.
Kanak-kanak istimewa ini kemudiannya diambil berlakon oleh Jins Shamsuddin di dalam filemnya Menanti Hari Esok (1976/7) dan filem itu sentiasa menjadi titik yang mengingatkan saya kepada adanya seorang kanak-kanak pintar di usia yang hampir sama dengan saya, sebagai inspirasi untuk berjaya.
mhean9.jpg
Selepas bapanya, Yusof Farooq dipenjara atas kesalahan melakukan serangan seksual ke atas dua gadis berusia 15 tahun yang mengikuti tuisyen matematik di rumahnya, Sufiah pula kini dilaporkan menjadi pekerja seks.
Tragedi yang melanda kanak-kanak genius itu dibongkar oleh wartawan News of the World yang menyamar sebagai pelanggan, di flat murah yang didiaminya di belakang lorong di Salford, Manchester.
Sufiah dikatakan terbabit dalam kegiatan tidak bermoral itu, untuk menyara hidupnya sejak beberapa tahun lalu.
Entah di mana silapnya, gadis dengan senyuman menawan itu yang kehebatannya sepatutnya menjadikan dia wanita kaya, terpaksa memilih jalan itu untuk terus hidup.
Menurut akhbar itu, Sufiah dilaporkan mengiklankan 'khidmatnya' melalui Internet dengan tawaran 130 pound (RM830) untuk setiap sesi.
Dengan memakai nama samaran Shilpa Lee, dia antara lain menggambarkan dirinya sebagai 'pelajar bijak dan seksi' yang menyediakan perkhidmatan setiap hari dari pukul 11 pagi hingga 8 malam.
Dalam iklannya, menurut tabloid tersebut, Sufiah juga menyatakan dia lebih gemarkan 'lelaki tua yang budiman'. Seorang bekas rakannya menyifatkan tindak-tanduk gadis itu sebagai: ''Sesuatu yang sungguh menyedihkan.''
"Dengan otak luar biasa yang dimilikinya, dia tidak mempunyai masalah untuk mendapat wang, sebaliknya hidup dia musnah dan menjadi tidak terkawal," kata bekas rakannya lagi.
Selepas tiga tahun belajar di Universiti Oxford, pada usia semuda 15 tahun, Sufiah mencetuskan kegemparan apabila menghilangkan diri.
Dalam e-mel kepada keluarganya, dia menyifatkan hidup dengan bapanya 'umpama dalam neraka'.
Ibu Sufiah, Halimahton berasal dari Muar, Johor manakala bapanya, Yusof berasal dari Pakistan.
Sufiah hanya ditemui dua minggu kemudian di sebuah kafe Internet di Bournemouth dan bekerja sebagai pelayan hotel.
Dia enggan kembali ke pangkuan keluarga dan diletakkan di bawah jagaan sebuah badan sosial sebelum kembali ke Oxford untuk menyelesaikan pengajian matematik peringkat sarjana.
Dia berkahwin pada 2004 ketika berusia 19 tahun dengan peguam pelatih, Jonathan Marshall, 24, tetapi rumah tangganya hanya mampu bertahan selama setahun.
A 12-year-old boy and his 16-year-old sister have arrived at the University of Warwick to study degrees in mathematics.
Iskander and Noraisha Yusof are among the UK's youngest ever undergraduates. Accompanied by their father Farooq, they met lecturers and tutors and said they were looking forward to student life.
Maths tutor Alan Newell says that the brother and sister have done "extraordinarily well"
Maths tutor Alan Newell emphasised that no concessions had been made on admitting the brother and sister because of their young age. "We've had the best entry class that we've ever had. The standards are very high and Iskander and Noraisha both did extraordinarily well." Iskander received a grade A in maths A level when he was 10, and a B in further maths a year later.
He also gained grade 1 in a special paper set by the University of Warwick. He is the same age as Ruth Lawrence was when she accepted a place at Oxford 14 years ago. "It doesn't really matter and it doesn't bother me," he said. "When I'm with my friends I talk about other things. I am just looking forward to getting on with the course." Noraisha, who hopes to go on to do research in mathematical biology, said she had chosen Warwick because it was one of the top three centres for mathematics in the country. "I don't think it is a problem coming to university this young," she said. "I have already done my A levels, what else could I do?" Noraisha gained grade As at A level in maths and further maths before she was 15. Runs in the family Their siblings are also high achievers. Sister Sufiah, 14, is just beginning her second year at Oxford University and their four-year-old sister Zuleika is expected to sit her maths A level by the age of six.
Maths researcher Farooq, 40, and his scientist wife Halimahton, 41, gave up their careers to educate the children at home in Northampton. For the family of seven, who are all devout Muslims, each day begins with prayers, followed by exercise to focus the mind and body. All five Yusof children are also talented tennis players. The eldest, Isaac, 17, was number four in the UK for his age, while Noraisha won the Northamptonshire women's title at the age of 12. Mr Yusof describes his children as self-motivated, mature youngsters, driven by the desire to succeed and compete with one another.
All five were talking before the age of one and reading by two, but they are not considered exceptionally gifted by their Malaysian parents. Mr Yusof believes all children can achieve given the right encouragement, and is currently in negotiations for a book deal recounting his teaching approach.
Sukarnya Menjadi Genius
adi.jpg
Adi Putra
Semasa kecil, emak beberapa kali mengingatkan saya tentang seorang kanak-kanak genius yang sudah mampu membaca surat khabar di usia tiga tahun. Mohd. Shukri Hadafi, nama diberi.
Kanak-kanak istimewa ini kemudiannya diambil berlakon oleh Jins Shamsuddin di dalam filemnya Menanti Hari Esok (1976/7) dan filem itu sentiasa menjadi titik yang mengingatkan saya kepada adanya seorang kanak-kanak pintar di usia yang hampir sama dengan saya, sebagai inspirasi untuk berjaya.
mhean9.jpg
Tuhan memberi kita dua kaki untuk berjalan, dua tangan untuk memegang,dua telinga untuk mendengar dan dua mata untuk melihat, tetapi mengapa Tuhan hanya menganugerahkan sekeping hati kepada kita? Kerana Tuhan memberikan sekeping hati lagi kepada seseorang untuk kita mencari.....itulah namanya cinta.
Cinta adalah roda yang menggilas setiap orang yang mengikuti geraknya, tetapi tanpa gilasan keindahan hidup ini tidak dapat dinikmati.
Cinta itu dapat diumpamakan seperti sebuah gunung. Kita mendaki dengan senyum di bibir dan menuruninya dengan deraian air mata.
Cinta adalah roda yang menggilas setiap orang yang mengikuti geraknya, tetapi tanpa gilasan keindahan hidup ini tidak dapat dinikmati.
Cinta itu dapat diumpamakan seperti sebuah gunung. Kita mendaki dengan senyum di bibir dan menuruninya dengan deraian air mata.
usuf Estes Explains 'Beauty of Islam'
P.K. Abdul Ghafour, Arab News
Texas-based Islamic preacher Yusuf Estes delivers a lecture at the Saudi German Hospital Auditorium in Jeddah. (AN photo)
JEDDAH, 13 April 2008 — The strident smear campaign against Islam and Muslims following 9/11 in the US encouraged many American men and women to study and embrace Islam, Yusuf Estes, a leading Islamic scholar and preacher from Texas, said on Friday night.
“They are doing the job for us,” Estes, himself a convert, said while delivering a lecture on “The Beauty of Islam” at the Saudi German Hospital Auditorium in Jeddah. However, he reminded Muslims of their big responsibility in spreading the message of Islam among others.
Hamoud Al-Shimimry of the Islamic Education Foundation also highlighted the importance of dawa work. “If a person embraces Islam as a result of your work, it is better than any other achievement in this world,” he told the participants, quoting Qur’anic verses and Sayings of the Prophet (peace be upon him). He said a Filipino had helped 25 fellow nationals to learn and embrace Islam.
Estes said having peace of mind is the ultimate beauty of Islam. “Wealth and luxuries cannot provide the ultimate happiness to human beings. But the peace of mind we obtain through the faith in God and engaging in righteous deeds makes us happy,” he said.
Total submission to God and His will is also the beauty of Islam, he explained. “Amazing is the case of a believer. If anything good happens, he thanks God; while if anything bad befalls him, he remains patient,” he said quoting a Saying of the Prophet. “If any calamity, such as the death of a beloved person, occurs a Muslim says, ‘We are from God and to Whom we all return.’ This is the beauty of Islam.”
Estes described the Holy Qur’an as an amazing book, adding that millions of Muslims around the world have memorized it. “No other book, including the Bible, has been memorized by so many people,” he added.
Estes ridiculed those who make false propaganda that Muslim children are learning how to make bombs at Islamic schools. “Muslims are the first enemies of terrorists,” he said.
He said many people were not embracing Islam not because of the lack of knowledge but because they don’t care. Asked whether he would invite US President George W. Bush to Islam, he said: “We pray to God that He may guide him to Islam. Islam gives us the right direction and it removes our blindness about the mystery of this universe. I am very happy to be a Muslim and part of the 1.5 billion-strong world of Islam,” he said.
Estes advised Muslims to be patient in testing times. “Allah does not guarantee the believers a smooth and comfortable life in this world. Hardships in this world will bring them more reward in the hereafter,” he said.
Estes, a former priest and missionary who embraced Islam in 1991, gave another lecture on “Muslim Youth in Today’s Society” at the same venue on Thursday. He advised parents to spent “quality time” with their children. “This will not only help educate them in all aspects of life but reduce their tendency to indulge in bad habits when left alone,” he added. He answered questions from boys and girls from different schools in Jeddah.
A Filipino declared his intention to embrace Islam during the event and Estes helped him to pronounce the Shahada (There is no god but God and Muhammad is His messenger).
Sheikh Mohamed Subhi and Wajdi Akkari from Jeddah Dawa Center also addressed the audience. In his welcome speech, professor Mohamed Abubaker of King Abdul Aziz University introduced Estes while Mohamed Ali Chundakkadan gave a vote of thanks. The event was jointly organized by the Indian Islahi Center and Jeddah Dawa Center.
P.K. Abdul Ghafour, Arab News
Texas-based Islamic preacher Yusuf Estes delivers a lecture at the Saudi German Hospital Auditorium in Jeddah. (AN photo)
JEDDAH, 13 April 2008 — The strident smear campaign against Islam and Muslims following 9/11 in the US encouraged many American men and women to study and embrace Islam, Yusuf Estes, a leading Islamic scholar and preacher from Texas, said on Friday night.
“They are doing the job for us,” Estes, himself a convert, said while delivering a lecture on “The Beauty of Islam” at the Saudi German Hospital Auditorium in Jeddah. However, he reminded Muslims of their big responsibility in spreading the message of Islam among others.
Hamoud Al-Shimimry of the Islamic Education Foundation also highlighted the importance of dawa work. “If a person embraces Islam as a result of your work, it is better than any other achievement in this world,” he told the participants, quoting Qur’anic verses and Sayings of the Prophet (peace be upon him). He said a Filipino had helped 25 fellow nationals to learn and embrace Islam.
Estes said having peace of mind is the ultimate beauty of Islam. “Wealth and luxuries cannot provide the ultimate happiness to human beings. But the peace of mind we obtain through the faith in God and engaging in righteous deeds makes us happy,” he said.
Total submission to God and His will is also the beauty of Islam, he explained. “Amazing is the case of a believer. If anything good happens, he thanks God; while if anything bad befalls him, he remains patient,” he said quoting a Saying of the Prophet. “If any calamity, such as the death of a beloved person, occurs a Muslim says, ‘We are from God and to Whom we all return.’ This is the beauty of Islam.”
Estes described the Holy Qur’an as an amazing book, adding that millions of Muslims around the world have memorized it. “No other book, including the Bible, has been memorized by so many people,” he added.
Estes ridiculed those who make false propaganda that Muslim children are learning how to make bombs at Islamic schools. “Muslims are the first enemies of terrorists,” he said.
He said many people were not embracing Islam not because of the lack of knowledge but because they don’t care. Asked whether he would invite US President George W. Bush to Islam, he said: “We pray to God that He may guide him to Islam. Islam gives us the right direction and it removes our blindness about the mystery of this universe. I am very happy to be a Muslim and part of the 1.5 billion-strong world of Islam,” he said.
Estes advised Muslims to be patient in testing times. “Allah does not guarantee the believers a smooth and comfortable life in this world. Hardships in this world will bring them more reward in the hereafter,” he said.
Estes, a former priest and missionary who embraced Islam in 1991, gave another lecture on “Muslim Youth in Today’s Society” at the same venue on Thursday. He advised parents to spent “quality time” with their children. “This will not only help educate them in all aspects of life but reduce their tendency to indulge in bad habits when left alone,” he added. He answered questions from boys and girls from different schools in Jeddah.
A Filipino declared his intention to embrace Islam during the event and Estes helped him to pronounce the Shahada (There is no god but God and Muhammad is His messenger).
Sheikh Mohamed Subhi and Wajdi Akkari from Jeddah Dawa Center also addressed the audience. In his welcome speech, professor Mohamed Abubaker of King Abdul Aziz University introduced Estes while Mohamed Ali Chundakkadan gave a vote of thanks. The event was jointly organized by the Indian Islahi Center and Jeddah Dawa Center.
Langganan:
Postingan (Atom)