Senin, 28 April 2008

Sebelum kubalut badanku dengan selimut

sebelum kututup ke dua belah mataku

ku berpesan pada ibu:Jika pagi menyambut malam

jangan bangunkan anakmu, Ibu!

Seperti biasa

ibu akan selalu bertanya: kenapa?

Ah, Ibu!

kau selalu menganggapku masih kecil

Tetapi, baiklah!

akan kukatakan padamu, Ibu

Ketika pagi menatap dinding kamarku

akan kubuka jendela itu

lalu cahaya hangat menyinari seluruh isi kamarku

mengganti udara pengap semalam

Di depan jendela

kumenatap melati-melati putih

yang mekar di taman bunga

bunga yang setiap saat berdo'a

agar menjadi mawar merah

mustahil kan, Ibu?

Lewat jendela itu pula

seekor merpati datang mengejutku

lalu dada ini akan bergetar

mengingatku kalau aku lupa gosok gigi

saat ke pesta semalam

Setiap hari merpati itu

mengantar sehelai foto

dan secarik kertas yang sama

Lalu foto-foto itu mengkopi diri

menempel di setiap sudut kamarku

yang pandangannya menembusi dadaku

Sedangkan kertas itu

berubah jadi kapal terbang

yang mengikuti setiap langkah kakiku

Maka begitulah, Ibu!

biarkan aku tertidur lena

agar kisah-kisah itu

tidak memenuhi diari anakmu
Diposting oleh badruttamam di 19:04 0 komentar
Aku tak berhak melafazkan bait itu

karena akulah penyebab aliran darah itu

Nak kuberlari membeli obat merah yang mujarab

untukmu di rumah sakita

yang kononnya bisa menyelamatkan nyawa

tapi, malah melayangkan nyawa

Kukutuk pisau di tanganku yang tidak sadar melukaimu

Kukutuk dompetku yang kosong itu

yang tidak bisa membelikan obat merah yang mahal untukmu

Kukutuk kenangan yang membawaku

pada kenangan lukamu

Kukutuk penamu yang menjadikanku tokoh

dalam kisah lukamu

Ah!

Alangkah indahnya jika aku salah satu

pemeran dalam buku cerita caintamu

yang ingin terbit itu

Kau duduk di bangku dipan di luar pintu

sambil melempar senyum pada orang-orang

yang berlalu di depan rumahmu

sesekali kau bercanda pada mereka yang

sudi menyapamu

dan tak lupa kau mengucap kata: Aku baik-baik saja

saat kau tahu aku mengintipmu di belakang pintu

Itukah kau?

kau pandai membalut luka di lenganmu

balutan dari kain kaos yang mudah menyerap darah

obat merah dari toko emperan yang katanya cepat

menghentikan darah

Di balik senyuman gurauanmu

di balik kain kaos itu

kumelihat lukamu masih memerah

Barangkali!

Ya, Tuhan!

Aku menangis karena terharu

Sudikah kau berhenti menyapu obat merah yang murah itu?

Ah!

Tidak ada komentar: